Bikin Terenyuh, Ini Kerja Keras Guru SMP di Sragen Demi Siswa yang Tak Punya HP
Seorang guru IPS SMPN 2 Sumberlawang, Sragen, Sri Tumini, serius mengajar seorang siswa secara luring di teras rumah warga di Dukuh Sendang Rejo, RT 022, Desa Jati, Sumberlawang, Sragen, Kamis (6/8/2020). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Kisah kerja keras guru SMP di Sragen agar siswa yang tidak punya handphone (HP) tetap bisa belajar bikin terenyuh.

Mereka harus rela menghabiskan waktu untuk menyambangi siswa yang tak punya HP. Jarak jauh dan lelah tak menghalangi mereka. Hal itu seperti dijalani Sri Tumini, seorang guru mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) SMPN 2 Sumberlawang.

Sri khusus datang ke rumah Yakub Ilyas, seorang siswa Kelas IX-C SMPN 2 Sumberlawang, Kamis (6/8/2020). Yakub tinggal bersama simbahnya di Dukuh Sendang Rejo RT 022, Desa Jati, Sumberlawang, Sragen.

Unik Banget, Pohon Kelapa di Giriwoyo Wonogiri Punya Cabang!

Kamis itu sekitar pukul 07.30 WIB, Sri yang mengenakan seragam batik datang ke rumah Yakub mengendarai sepeda motor. Dia menenteng tas ransel yang berisi materi pelajaran.

Sri tinggal di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, sehingga untuk menuju sekolah, apalagi rumah muridnya, dia harus mengendarai motor sekitar 60,9 kilometer. Hal itu dilakoninya selama 20 tahun mengajar di SMPN 2 Sumberlawang.

Guru SMP di Sragen itu memberi pelajaran IPS selama 1,5 jam. Dalam sehari, Yakub didatangi dua orang guru dengan mata pelajaran yang berbeda.

Kasus Pencurian di Solo Turun, Penyalahgunaan Narkoba Mendominasi

Siswa Tetap Pakai Seragam

Yakub menjadi salah satu dari dua siswa di SMPN 2 Sumberlawang yang melakukan pembelajaran di luar jaringan  karena Yakub tak memiliki ponsel. Setiap hari Yakub tinggal bersama kakeknya Parto Semito yang sudah berumur 75 tahun.

“Bagi anak-anak yang tidak punya HP, guru wajib mengunjungi ke rumah supaya siswa tetap mendapatkan haknya untuk belajar seperti yang lain dan tidak ketinggalan pelajaran sekolah. Pembelajaran luring setiap hari ada seperti pembelajaran daring dan sudah terjadwal. Jadi meskipun belajarnya di rumah, siswa tetap pakai seragam sekolah,” ujar Sri saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis.

Kondisi senada guru di SMP lainnya di Sragen, yakni SMPN 1 Kedawung, Sragen. Kepala SMPN 1 Kedawung, M.K. Sulistyadewi, memetakan ada 54 siswa dari Kelas VII-IX yang tidak memiliki HP. Dewi, sapaan akrabnya, berpikir untuk mencarikan solusi bagi mereka, yakni ada dua solusi yang ditempuh sekolah.

7 Negara Ini Telah Masuk Ke Jurang Resesi Ekonomi, Bagaimana Indonesia?

Pertama, sekolah memberi kesempatan bagi siswa yang dekat untuk mengerjakan tugas daring dengan menggunakan komputer sekolah. Kedua, bagi siswa yang berdomisili jauh dari sekolah didatangi guru. Pembelajaran luring dilakukan di luar jam pembelajaran daring.

“Ada lima guru mapel yang harus ke rumah-rumah siswa untuk pembelajaran luring, yakni guru bahasa inggris Suparni, guru bahasa Indonesia Mudzakir, guru matematika Sukasno, guru IPS Dina Sulistyowati, dan guru seni budaya Masruchin. Mereka yang melakukan home visit ke rumah-rumah untuk pembelajaran luring,” ujar Dewi, Jumat (7/8/2020).

Lelah Dihantui Ancaman Kebakaran, Warga Sekitar TPA Putri Cempo Solo Tagih Janji DLH

Pembelajaran luring itu dilakukan atas inisiatif lima guru SMP di Sragen tersebut karena tidak memungkinkan untuk pembelajaran daring.

Awalnya semua daring. Kemudian guru menemukan ada beberapa siswa yang tidak mengerjakan tugas. Setelah didatangi, Dewi mengungkapkan guru mengetahui siswa yang bersangkutan tak memiliki HP.

“Saya memerintahkan para guru agar setiap siswa mendapatkan haknya untuk belajar. Pembelajaran luring menjadi solusi bagi mereka,” katanya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom