Tutup Iklan

Besok Dicabut! Ini Alasan Munculnya SE Wajib Jilbab Murid SDN di Gunungkidul

Setelah ramai dikritik di media sosial, sekolah merevisi surat tersebut mengganti kata "diwajibkan" dengan "dianjurkan". Atas kejadian itu, lembaga Ombudsman RI (ORI) Perwakilan DIY terjun langsung ke Gunungkidul untuk menyelidiki kebijakan yang berpotensi diskriminatif dan intoleran itu.

Besok Dicabut! Ini Alasan Munculnya SE Wajib Jilbab Murid SDN di Gunungkidul

SOLOPOS.COM - Koordinator Bidang Pemeriksaan Verifikasi Laporan ORI perwakilan DIY, Jaka Susila Wahyuana. (Harian Jogja-Rahmat Jiwandono)

Solopos.com, GUNUNGKIDUL -- Surat edaran (SE) yang dikeluarkan SDN Karangtengah III, Wonosari, Gunungkidul, viral di media sosial lantaran mewajibkan siswa mengenakan busana muslim sebagai seragam sekolah, antara lain dengan mengenakan jilbab bagi siswa perempuan.

Setelah ramai dikritik di media sosial, sekolah merevisi surat tersebut mengganti kata "diwajibkan" dengan "dianjurkan". Atas kejadian itu, lembaga Ombudsman RI (ORI) Perwakilan DIY terjun langsung ke Gunungkidul untuk menyelidiki kebijakan yang berpotensi diskriminatif dan intoleran itu.

Ombudsman meminta sekolah merevisi kembali SE yang telah direvisi itu dengan mengubah kata "dianjurkan" diganti dengan kata "dapat" mengenakan busana muslim. Ombudsman juga mendapat informasi asal muasal lahirnya kebijakan yang dinilai rawan menimbulkan diskriminasi tersebut.

Koordinator Bidang Pemeriksaan Verifikasi Laporan ORI perwakilan DIY, Jaka Susila Wahyuana, mengatakan hal yang mendasari dibuatnya surat edaran tersebut lantaran pihak sekolah meminta muridnya membawa sarung dari rumah untuk salat zuhur berjemaah.

Meski begitu kata dia, tidak banyak murid yang membawa sarung sehingga muncul pertemuan dengan wali murid dan disepakati surat edaran yang kontroversial itu. Surat itu memuat empat hal, antara lain mewajibkan siswa mengenakan busana muslim. Bagi siswa perempuan mengenakan jilbab dan rok panjang, sedangkan siswa laki-laki mengenakan celana panjang.

"Itu hal yang mengawali adanya pertemuan dengan wali murid, kemudian terbit surat edaran," kata Jaka, Selasa (25/6/2019).

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Karangtengah III, Pujiastuti, mengakui kebijakan tersebut diambil karena semua siswa di sekolah tersebut beragama Islam. Pihaknya akan menunggu hasil koordinasi ORI dengan Disdikpora Gunungkidul terkait kebijakan soal pakaian seragam sekolah tersebut.

"Nanti menunggu," ucap Pujiastuti yang irit bicara kepada wartawan.

Rencananya pada Rabu (26/6/2019) pagi sekitar pukul 08.00 WIB, pihaknya akan mengumpulkan wali murid guna mencabut surat edaran yang mewajibkan siswa berbusana muslim tersebut. Pujiastuti ingin meluruskan apa yang sudah ramai dibicarakan di media sosial.

"Kami ingin jadi pelayan yang baik," tutur dia.

Berita Terkait

Berita Terkini

Lockdown Total Malaysia Diperpanjang 2 Pekan

Aturan lockdown total atau kontrol gerakan Malaysia yang dikenal sebagai MCO 3.0, diperpanjang dua pekan lagi, 15 Juni hingga 28 Juni 2021.

Begini Menag Sikapi Keputusan Haji 2021 Arab Saudi

Menteri Agama Yaqaut Cholil Qoumas menyatakan pemerintah tidak lagi fokus pada penyelenggaraan ibadah haji 2021 setelah keputusan Arab Saudi.

Angka Kematian Akibat Covid-19 di India Diragukan

Angka kematian resmi akibat virus corona di India semakin diragukan, seperti di Bihar yang temuan ribuan kasus Covid-19 tidak dilaporkan.

15 Anggota KKB Papua Dilumpuhkan, 4 Tewas Ditembak

Satgas Nemangkawi menundukkan kelompok kriminal bersenjata atau KKB yang diklasifikasikan teroris di Papua.

Film Hong Kong Bakal Dikekang UU Keamanan Nasional

Hong Kong menginstruksikan sensor film apa pun yang dinilai bertentangan dengan UU Keamanan Nasional yang diberlakukan oleh China tahun lalu.

Songsong Pilkada 2024, Puan Maharani Konsolidasikan PDIP di Jatim

Baliho bergambar Ketua DPR Puan Maharani bermunculan di Jawa Timur menjelang Pemilihan Presiden 2024 dan Pilkada 2024.

Ditinjau Menteri PUPR, Proyek Pintu Air Demangan Baru Capai 60%

Selain kondisi pintu air Demangan lama yang sudah mengkhawatirkan, terjadinya perubahan iklim turut mengubah debit air sungai.

Kim Jong-un Sebut K-Pop Seperti Kanker Ganas

Pimpinan tertinggi Korea Utara Kim Jong-un menyebut hallyu atau Korean wave bagaikan kanker ganas yang merusak anak muda Korea Utara.

Asyik, Wisata Kuliner Pasar Doplang Wonogiri Mulai Buka

Wisata Pasar Doplang Wonogiri khusus menyajikan kuliner/penganan tradisional dengan mengadopsi konsep transaksi zaman dahulu.

Teken MoU dengan LSPPO, FP UNS Bekali Lulusan dengan Kompetensi Pertanian Organik

FP UNS bakal menjadi tempat uji kompetensi dan membekali lulusan dengan sertifikat kompetensi bidang pertanian organik.

Kediri Canangkan Gempur Rokok Ilegal

Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur menggandeng Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai untuk mencanangkan kampanye Gempur Rokok Ilegal.

Waduh, Ada Titik Api Baru di Pembatas Tangki Pertamina Cilacap

Pihak Pertamina Cilacap menjelaskan ada titik api baru di area 39 yang menjadi lokasi kebakaran tangki di kawasan kilang Jumat malam.