Bertani di Kota, Mengapa Tidak? Jadikan Kota Semarang Sentra Agrobisnis!
Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang W.P. Rusdiana menunjukkan proses pembibitan di lahan urban farming di Kota Semarang, Jateng, Jumat (7/12/2018). (Antara-Zuhdiar Laeis)

Solopos.com, SEMARANG — Dinas Pertanian Kota Semarang mendorong kelompok masyarakat, termasuk kalangan ibu rumah tangga mengembangkan urban farming. Jika masyarakat perkotaan giat bertani, bukan tak mungkin ibu kota Jawa Tengah yang mengusung slogan Aman, Tertib, Lancar, Asri, dan Sehat (ATLAS) ini menjadi sentra agrobisnis.

"Ada kelompok tani [KT] dan kelompok wanita tani [KWT]. Hingga 2018, ada 40 kelompok pertanian perkotaan," ungkap Kepala Distan Kota Semarang W.P. Rusdiana mengulas pertanian di Kota Semarang yang merupakan kota metropolitan ibu kota Jawa Tengah, Sabtu (15/12/2018). Menurut dia, setiap kelompok pertanian perkotaan yang mengembangkan urban farming itu memiliki lahan tersendiri meski tidak terlampau luas, mulai 50 m2, 100 m2, dan sebagainya.

Diakuinya, urban farming itu merupakan salah satu program unggulan yang sebenarnya dikembangkan untuk menyiasati keterbatasan lahan di perkotaan untuk bertani, seperti di pekarangan. Meski demikian, sambung dia, urban farming yang dikembangkan kelompok-kelompok pertanian perkotaan itu tidak bisa dianggap sebelah mata karena merupakan potensi dan aset besar.

"Mereka ini, KT dan KWT kan aset kami dalam mengembangkan bidang pertanian di perkotaan. Utamanya, untuk mencukupi kebutuhan pangan sendiri, sekaligus menambah pendapatan mereka," katanya.

Sampai tahun ini, kata dia, kelompok-kelompok pertanian perkotaan di Kota Semarang itu mampu menyumbangkan produksi tanaman sayuran dan buah-buahan sekitar dua ton. "Pemasarannya bermacam-macam. Ada yang sendiri pemasarannya lewat tukang sayur. Jadi, tukang sayur ini ngambil dari mereka. Apalagi, sayurnya kan organik," katanya.

Ada pula, kata dia, kelompok yang sudah bekerja sama dengan rumah sakit (RS) untuk memasok sayuran dan buah-buahan, termasuk bekerja sama dengan perusahaan ritel. "Seperti kelompok tani yang di Bandarharjo. Sayuran dari mereka ini sudah masuk ke perusahaan ritel, seperti selada, dan sebagainya," katanya.

Diakui Rusdiana, kelompok-kelompok pertanian perkotaan itu juga kerap menjadi rujukan jika ada perlombaan sayuran dan buah, terutama untuk pembelian benih atau bibit tanaman. "Jadi, kawasan agrobisnis pertanian perkotaan sudah mulai jalan. Di Purwosari, kemudian Bandarharjo, produk pupuknya juga sudah laku. Kemudian, Mijen dan Gunungpati juga," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber: Antara



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom