Tutup Iklan

Bertahun-Tahun Tak Terpantau, Program Pemanfaatan Biogas Wonogiri Apa Kabar?

Bertahun-Tahun Tak Terpantau, Program Pemanfaatan Biogas Wonogiri Apa Kabar?

SOLOPOS.COM - Bak penampungan limbah cair pembuatan tahu berbahan beton di Bakalan RT 004/RW 012, Mloko Manis Wetan, Ngadirojo, Wonogiri. (Rudi Hartono/JIBI/Solopos)

Program pemanfaatan biogas bantuan dari pemerintah di Wonogiri saat ini kurang terpantau.

Solopos.com, WONOGIRI -- Ratusan keluarga di Wonogiri memanfaatkan biogas atau gas hasil fermentasi bahan-bahan organik dari kotoran sapi dan limbah pembuatan tahu sejak beberapa tahun lalu. Pemanfaatan biogas itu untuk mewujudkan desa mandiri energi.

Warga antusias karena pemasangan instalasi biogas dibantu hibah dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng, dan pemerintah pusat. Salah satu penerima bantuan adalah pasangan Pardi, 51 dan Mujiyem, 49 warga Bakalan RT 004/RW 012, Mloko Manis Wetan, Ngadirojo.

Mereka memanfaatkan biogas dari limbah cair residu pembuatan tahu untuk bahan bakar kompor gas sejak lima tahun terakhir hingga sekarang. Saat ditemui Solopos.com di rumah mereka, pekan lalu, keduanya mengatakan selama ini biogas digunakan sebagai bahan bakar tiga unit kompor gas.

Setiap hari kompor itu digunakan untuk memasak ampas tahu yang akan dibuat tempe gembus. Selain itu kompor juga untuk memasak dan keperluan harian lainnya. Menurut mereka, memanfaatkan biogas dapat menekan pengeluaran rumah tangga. (baca: Wonogiri  Bangun Instalasi Biogas dari Tinja)

Sebelum memanfaatkan biogas mereka menggunakan elpiji 3 kg. Satu tabung gas melon habis dalam waktu sepekan. Setelah memanfaatkan biogas mereka dapat menghemat anggaran lebih kurang Rp960.000/tahun. Angka itu dikalkulasi dengan mengacu pada harga gas melon eceran di Bakalan yang sekarang mencapai Rp20.000/tabung.

“Kalau sekarang tinggal putar tuas kompor untuk membuka saluran biogas di selang lalu nyalakan api dengan korek api, setelah itu menyala lah apinya. Enggak perlu repot-repot beli elpiji. Selama kami masih memproduksi tahu, biogas ini akan tetap bisa dimanfaatkan,” kata Pardi.

Pengamatan Solopos.com, api yang dihasilkan dari biogas berwarna biru tetapi tidak memancar atau menyembur. Hal itu karena tekanan gas yang keluar dari selang tidak terlalu besar. Berbeda halnya elpiji yang bisa mengeluarkan gas dengan tekanan besar sehingga api bisa menyembur.

Pardi menampung limbah menggunakan bak penampungan permanen dari beton berbentuk bundar berdiameter 3,5 meter yang ditanam di tanah sedalam lebih kurang 4 meter di belakang rumahnya. Penampungan itu berkapasitas 16.000 liter limbah.

Awal pemanfaatan pengisiannya hingga penuh memakan waktu sepekan. Setelah itu gas baru bisa dimanfaatkan. Kini setiap hari Pardi harus mengisi bak sebanyak lebih kurang 2.600 liter limbah. Biogas keluar melalui pipa paralon yang dipasang di bagian atas bak.

“Ini [bak penampungan] dulu bantuan dari pemerintah. Kalau enggak salah nilainya Rp40-an juta. Kami enggak minta, tapi dikasih. Awalnya gas disalurkan ke tiga rumah termasuk rumah saya, tapi karena suatu hal dua rumah lainnya tak bisa lagi diberi gas,” imbuh Pardi.

Informasi yang dihimpun Solopos.com di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Wonogiri, tercatat ada 229 penerima bantuan instalasi biogas di Wonogiri, baik kelompok maupun perorangan. Bantuan diberikan pada 2007 hingga 2014.

Pemberi bantuan meliputi Dinas Pengairan Energi Sumber Daya Mineral atau PESDM (kini menjadi ranah Pemprov) 21 warga pada 2012-2014, dari Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan atau Disnakperla (sekarang Dislapernak) 15 kelompok tani ternak (KTT) pada 2007-2014, dan dari pemerintah pusat ada 5 KTT pada 2008, 2013, 2014.

Selain itu bantuan dari Kementerian ESDM diberikan kepada 39 warga pada 2014 dan dari Kantor LH (sekarang DLH) kepada 149 warga pada 2009-2014. Sayangnya, keberlangsungan pemanfaatan biogas oleh para penerima bantuan saat ini tak terpantau.

Kepala Bidang (Kabid) Tata Lingkungan (DLH) Wonogiri, Eko Septaningsih, mengatakan kali terakhir pemantauan dilakukan 2015. Setelah tahun tersebut pemantauan berhenti karena tidak memiliki anggaran untuk kegiatan bersangkutan.

Penampungan

Akibatnya, DLH tak mengetahui secara pasti para penerima bantuan masih aktif memanfaatkan biogas atau tidak. Berdasar data yang dia peroleh, dari 229 hanya empat penerima yang sudah tak aktif lagi memanfaatkan biogas.

Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan Bidang Tata Lingkungan DLH, Wiwik Pujihastuti, menginformasikan bantuan bak penampungan ada dua jenis, yakni bangunan terbuat dari beton dan dari fiber. Menurut dia kemungkinan besar penerima bantuan yang terbuat dari fiber kini tak aktif lagi memanfaatkan biogas.

Hal itu karena penampungan dari bahan fiber hanya bertahan lima tahun. Bantuan berbahan fiber bersumber dari DAK sebanyak lebih dari 188 unit.

“Dulu pemerintah menyalurkan bantuan kepada ratusan penerima untuk mewujudkan desa mandiri energi. Karena pengadaannya biar bisa banyak jadi realisasi unitnya berbahan fiber,” kata dia.

Salah satu penerima bantuan dari Disnakperla di Josutan RT 003/RW 002, Kaliancar, Selogiri, KTT Gemah Ripah, tak lagi aktif memanfaatkan biogas. Ketua KTT Gemah Ripah, Joko Triyogo, mengaku menerima bantuan bak penampungan limbah kotoran sapi pada 2012.

Namun, Joko berhenti memanfaatkannya sejak 2015. Joko mengaku berhenti memanfaatkan karena tak lagi memiliki cukup personel untuk mengangkut kotoran untuk dimasukkan ke bak penampungan.

“Saat kandang sapi masih bergabung petaninya kan banyak, jadi ada petugas yang bisa diberi tugas mengangkut kotoran setiap hari. Setelah kandang dimekarkan pengurus kandangnya terbagi. Satu kandang hanya diurus tiga petani. Karena orangnya terbatas jadinya tak ada yang bisa diberi tugas mengangkut kotoran, akhirnya berhenti memakai biogas,” ulas Joko.

Kabid Peternakan Dislapernak Wonogiri, Sutardi, mengaku masih terus memantau pemanfaatan biogas dari kotoran ternak oleh penerima bantuan hibah. Pemantauan dilakukan petugas di kecamatan. Menurut dia, masih banyak yang memanfaatkan biogas.

Berita Terkait

Berita Terkini

Warga Solo Positif Covid-19 Dilarang Karantina Mandiri di Rumah, SE Terbit Hari Ini

Warga Solo yang terkonfirmasi positif Covid-19 meski tanpa gejala tidak boleh lagi menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing.

Latihan Lagi, Persis Ingin Lapangan di Solo

Persis perlu berkoordinasi dengan Bhayangkara Solo Football Club (BSFC) yang juga memakai Stadion UNS sebagai tempat latihan.

Temui Dubes Palestina, Ketum PBNU: Menurut Al-Qur'an, Israel akan Kalah

Said Aqil mengatakan NU telah menyatakan dukungan kemerdekaan dan kedaulatan Palestina sejak 1938.

Ini 5 Ekses Setuju Kebijakan Baru Privasi Whatsapp

Whatsapp seperti dibahas SAFE net secara resmi menerapkan kebijakan privasi baru mulai Sabtu (15/5/2021) lalu.

Balon Udara Meledak di Delanggu Klaten, Polisi Periksa 6 Orang Saksi

Polisi sudah meminta keterangan dari enam warga Dukuh Krapyak, Desa Sabrang, Delanggu, Klaten, terkait ledakan balon udara dengan petasan,

Pemudik Motor Wajib Rapid Test Antigen Acak saat Balik

Kemenhub bakal mengecek Covid-19 dengan rapid test antigen secara acak terhadap pemudik pengendara sepeda motor yang balik ke Jabodetabek.

Awas Licin! Belasan Sepeda Motor Berjatuhan Di Jalan Seputar Alut Keraton Solo

Belasan sepeda motor mengalami kecelakaan saat melewati jalan yang licin di seputar Alun-Alun Utara Keraton Solo pada Minggu dan Senin.

Gubernur Jateng Minta Seluruh RS Antisipasi Lonjakan Covid-19

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta semua rumah sakit di Jateng siaga potensi lonjakan kasus Covid-19 pasca Lebaran 2021.

Tahukah Anda? Tiap Zodiak Punya Bakat Terpendam!

Tahukah Anda, setiap pemilik tanda zodiak memiliki bakat terpendam yang mungkin bermanfaat untuk mengarungi kehidupan manusia.

Viral Pemotor Nyemplung Pantai Jepara, Ternyata Begini Ceritanya

Dalam video berdurasi 16 detik itu memperlihatkan seorang pemotor yang tengah terjebak di pantai.

Polrestabes Semarang Gelar Tes Antigen Acak Pemudik di Simpang Lima

Total ada sekitar 100 kendaraan dari luar daerah yang terjaring operasi Satlantas Polrestabes Semarang di Simpang Lima.

Polri Akui Ratusan Kecelakaan di Puncak Arus Balik Lebaran 2021

Polri serius mencegah warga mudik Idulfitri atau Lebaran 2021, meski demikian Polri mengakui ratusan kecelakaan sepanjang puncak arus balik.