Tebu yang rampung dikirab dalam Kirab Tebu Manten Selamatean Giling di PG Tasikmadu 2019 disimpan di PG setempat, Jumat (3/5/2019). (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Usia Pabrik Gula (PG) Tasikmadu, Karanganyar, hampir 1,5 abad atau 150 tahun. Tapi ia tetap “dipaksa” memeras tebu.

Pabrik yang lahir pada 1871 ini masih memiliki perangkat keras yang tetap kokoh. Mesin penggilingan yang tersimpan di pabrik tersebut masih berfungsi dengan baik meski sudah uzur.

Pada 2019 ini, PG Tasikmadu dijadwalkan kembali menggiling tebu. Giling perdana di PG Tasikmadu dijadwalkan Minggu (16/6/2019), setelah Lebaran. Durasi penggilingan mencapai 84 hari terhitung sejak penggilingan perdana.

Tebu yang siap digiling di PG Tasikmadu berasal dari Karanganyar (1.200 hektare), Sukoharjo (800 hektare), Boyolali (450 hektare), Wonogiri (500 hektare), dan Sragen (200 hektare). Penggilingan tebu di PG Tasikmadu ditarget dapat menghasilkan 14.142 ton gula.

Sebelum memasuki tahap penggilingan, manajemen PG Tasikmadu sudah disibukkan dengan rangkaian acara selametan dan doa untuk kelancaran penggilingan. Seolah tak ingin meninggalkan tradisi leluhur, manajemen pabrik juga berziarah ke makam pendiri pabrik dari Mangkunegaran Solo.

Ziarah dilakukan di Mangadeg, Giribangun, dan Girilayu. Manajemen pabrik juga sudah mempersembahkan lima kepala kerbau agar proses penggilingan berjalan lancar.

Berikutnya, manajemen pabrik menggelar selametan dengan mengawinkan tebu laki-laki dan tebu perempuan. Tradisi ini disebut Kirab Tebu Manten Selamatan Giling di PG Tasikmadu 2019 dan digelar pada Jumat Pon sebelum penggilingan, yakni Jumat (3/5/2019).

Di acara ini, tebu laki-laki bernama Bagus Hartoko asal Polokarto, Sukoharjo, dan tebu wanita bernama Roro Hartati asal Kalijirak, Tasikmadu, Karanganyar, dikawinkan layaknya pria dan wanita.

Pengantin tebu itu dikirab di kompleks pabrik. Selama kirab, tebu pengantin itu diiringi puluhan tebu lainnya. Setelah dikirab, tebu ditaruh di mesin penggilingan secara simbolis sebelum disimpan di PG Tasikmadu sembari menunggu jadwal penggilingan Juni mendatang.

Rangkaian acara perkawinan tebu itu juga dimeriahkan pertunjukan seni Reog. Hadir dalam perkawinan tebu itu, Bupati Karanganyar Juliyatmono dan Wakil Bupati Karanganyar, Rober Christanto beserta tamu undangan lainnya.

“Sesuai tradisi, perkawinan tebu laki-laki dan wanita itu harus dilakukan Jumat pon [sebelum penggilingan]. Saat inilah waktunya [kemarin]. Makna dari kegiatan ini, hasil dari perkawinan itu diharapkan memperoleh keturunan. Keturunan di sini adalah menghasilkan gula yang baik. Sepanjang penggilingan nanti, kami melibatkan 2.000 pekerja,” kata Asisten Sinder Tebu PG Tasikmadu, Purnomo Sutopo Edi, saat ditemui wartawan di sela-sela acara, Jumat.

Salah satu penonton Kirab Tebu Manten Selamatean Giling di PG Tasikmadu 2019 asal Kaliboto, Kecamatan Mojogedang, Aris Widiyanto, 26, mengaku tertarik menyaksikan rangkaian kirab tebu yang sudah menjadi tradisi turun-temurun di PG Tasikmadu.

“Saya mengajak anak dan istri. Hitung-hitung ada tontotan gratis. Tadi juga sempat menyaksikan reog. Acara seperti ini bagus dan mohon dipertahankan terus. Di sini para pengunjung juga bisa menyaksikan mesin pabrik yang besar-besar. Kalau saya pribadi, sudah sering melihat suasana di dalam pabrik [seperti menyaksikan stasiun penggilingan, pemurnian, penguapan, masakan, dan puteran],” katanya.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten