Bersyukur Tak Cukup Ucap Alhamdulillah, Istighfar Juga!
Ilustrasi bersyukur (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)

Solopos.com, SOLO – Bersyukur saat mendapat kebahagiaan merupakan pelajaran dasar semua agama, termasuk Islam. Hampir semua guru agama Islam mengajarkan untuk mengucapkan kata alhamdulillah sebagai bentuk syukur telah mendapat karunia dari Allah.

Sayangnya, belum banyak orang yang memahami makna dibalik kata alhamdulillah. Meski terkesan biasa dan sangat mudah diucapkan, kata alhamdulillah memiliki makna yang begitu dalam. Rais Syuriyah Pimpinan Nahdlatul Ulama (PCNU) Karanganyar, KH. Ahmad Hudaya, menjelaskan, ada sejumlah makna dari kata alhamdulillah yang sangat mudah diucapkan semua orang.

Alhamdulillah adalah ucapan yang menggambarkan kegembiraan. Bukan sekadar kegembiraan, tapi kebahagiaan karena nikmat dan karunia Allah yang begitu berlimpah.

“Alhamdulillah itu bentuk pengakuan atas seluruh nikmat yang diberikan Allah. Nikmat yang sepenuhnya dari Allah. Bukan dari upaya-upaya manusia. Sebab, banyak usaha manusia yang berbuah kegagalan. Misalnya, sudah berobat demi kesembuhan, malah berujung kematian,” terang KH. Ahmad Hudaya kepada Solopos.com, Selasa (7/5/2019).

Jadi ketika seseorang berhasil, dia harus sadar jika Allah sedang memberikan karunia kepadanya. Jika orang yang berobat sembuh, maka sadarlah jika Allah yang pada hakikatnya memberikan kesembuhan. Dari hal itulah maka muncul pelajaran untuk mengucapkan hamdalah setiap kali mendapat kenikmatan.

“Ajaran itu tidak salah, namun dalam perspektif surat An-Nashr, ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Yakni, saat seseorang mendapat nikmat, maka ia harus banyak beristighfar. Sesuai dengan firman Allah, fa sabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu,” sambung KH. Ahmad Hudaya yang aktif sebagai dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta.

Sayangnya, penjelasan tersebut sering luput dari perhatian. Padahal, perintah untuk beristighfar memiliki psisi strategis. Perintah beristighfar bersifat antisipatif. “Betapa banyak orang yang mendapat nikmat, karunia, kemenangan, dan kebahagiaan, lantas merasa dirinya hebat. Sehingga muncul kalimat, aku kok, padakne,” tegas KH. Ahmad Hudaya.

Secara tidak langsung sifat merasa hebat tersebut “merampas” apa yang secara hakiki dilakukan Allah. Orang tersebut berpikir semua yang diraih murni karena usahanya sendiri. Tanpa disadari, hal yang demikian itu membuatnya sombong. Padahal, sombong adalah salah satu sifat yang dibenci Allah.

“Jadi kalau kamu mendapat kenikmatan, jangan hanya senang dan mengucap hamdalah saja. Tapi, perbanyaklah beristighfar. Sudah itu saja, jangan sampai lupa,” tandasnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom