Berpacu Setelah Resesi
Arif Budisusilo (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Namanya Yusuf. Usianya sekitar 45 tahun. Sudah tujuh bulan lebih Yusuf "menganggur". Order menghilang dari rutinitas pekerjaan sebagai pengemudi mobil sewaan. Dia ingat persis datangnya petaka itu. Tepat 17 Maret 2020 itulah hari terakhir dia mengantar tamunya, turis Malaysia, yang harus pulang karena Perintah Kawalan Pergerakan alias PKP.

PKP adalah perintah negara untuk warga Malaysia agar tidak meninggalkan rumah demi memutus mata rantai persebaran Covid-19. Hampir semua negara membatasi pergerakan penduduk sejak WHO menyatakan pada 13 Maret 2020 bahwa Covid-19 sebagai pandemi atau wabah global.

Baru sebulan kemudian, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerapkan pembatasan sosial berskala besar di provinsi ini. Yusuf mengatakan setelah 17 Maret 2020 itu, semua order dari turis Asia dan Eropa dibatalkan. Hari-harinya berubah menjadi nestapa. Ia benar-benar menganggur.

Yusuf mengatakan untuk menghidupi keluarganya ia membantu orang tuanya bertani.  Ia tidak menerima subsidi pemerintah, tetapi ia bertahan. Hingga akhirnya pada Rabu (11/11/2020) malam, saya beserta sejumlah teman rombongan Waskita Karya dari Jakarta menjadi "tamu pertama" yang diantarkan Yusuf untuk makan malam di Restoran Bu Ageng.

Restoran dengan menu masakan omah (masakan ala rumahan) yang rasanya "jos tenan" itu adalah milik Butet Kartaradjasa, berlokasi di salah satu  sudut Kota Jogja. "Tanggal 17 Maret 2020 itu saya terakhir narik. Mulai narik lagi baru kali ini," begitu Yusuf bercerita dengan nada gembira.

***

Di luar sana, saya yakin banyak sekali "Yusuf" yang lain. Data statistik yang kerap disebut menjelaskan sedikitnya ada lima juta pekerja yang dirumahkan atau kena pemutusan hubungan kerja atau PHK. Itu belum pekerja yang mengalami pemotongan gaji atau penghasilan.

Pandemi Covid-19, nama penyakit yang disebabkan oleh virus corona jenis baru itu, adalah biang keladi utamanya. Untuk memerangi wabah global itu, WHO menerapkan protokol kesehatan baru: menjaga jarak fisik. Respons berupa kebijakan di hampir semua negara adalah pembatasan sosial dan penguncian wilayah.

Pergerakan manusia dibatasi, bahkan dikunci. Akibatnya jelas: mobilitas manusia menjadi sangat terbatas. Perjalanan bisnis dan perjalanan wisata nyaris terhenti. Data statistik menunjukkan gambaran yang jelas. Saat pandemi Covid-19 memuncak, jumlah turis ke semua negara turun sangat signifikan.

Selama periode Januari-September 2020, kunjungan turis asing ke Indonesia baru mencapai 3,56 juta orang. Artinya anjlok 70,57% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 yang berjumlah 12,10 juta orang, bahkan jauh di bawah kunjungan turis asing sepanjang tahun 2019 yang mencapai 16,3 juta orang.

Akibatnya, okupansi atau tingkat hunian kamar hotel berbintang juga jeblok. Pada September 2020, rata-rata okupansi hotel baru mencapai 32,12%, anjlok dibandingkan dengan September 2019 yang mencapai 53,52%. Bahkan, secara ekstrem saat April 2020 dan Mei 2020 lalu, tingkat hunian kamar sejumlah hotel hanya mencapai 5%-10%.

Contoh itu memberi gambaran betapa dampak Covid-19 begitu menyengsarakan. Tak mengherankan, usaha transportasi terseret jauh ke dalam kubangan krisis ekonomi. Bisnis penerbangan banyak yang megap-megap. Bahkan, sebagian terancam bangkrut. Banyak negara dan perekonomian akhirnya benar-benar hanya mengandalkan geliat sumber daya lokal. Bahkan, sangat lokal.

Tiongkok, negara pertama yang terserang wabah Covid-19, mengalami pukulan selama tiga bulan pertama tahun ini karena penguncian mobilitas orang selesai hanya sampai April 2020. Sedangkan pembatasan di negara-negara lain, termasuk Indonesia, justru baru mulai pada Maret 2020 dan umumnya mulai dilonggarkan pada Juni 2020 atau Juli 2020.

Periode April 2020 hingga Juli 2020 itulah dampak yang paling berat bagi ekonomi Indonesia. "Semua order yang saya terima dibatalkan, padahal  bulan April-Mei 2020 turis Eropa biasanya banyak," kata Yusuf. Tentu cerita Yusuf ini sekadar memperkuat ilustrasi bahwa mobilitas global memang mati suri.

***

Kisah Yusuf memperkuat jalan cerita bahwa perekonomian Indonesia memang mengalami pukulan telak akibat pandemi Covid-19 ini. Pada kuartal pertama tahun ini, saat efek pandemi belum bekerja, geliat ekonomi masih terasa. Namun, pada kuartal kedua, saat pandemi Covid-19 sudah direspons dengan pembatasan pergerakan manusia secara ketat, roda ekonomi langsung terseok-seok.

Pada kuartal kedua (periode April-Juni 2020), pertumbuhan ekonomi menyusut -5,32% dan berlanjut pada kuartal ketiga -3,49% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Dengan kata lain, selama dua kuartal berurutan, perekonomian Indonesia terus menyusut alias tumbuh negatif, yang berarti telah mengalami resesi.

Kabar baiknya, penyusutan ekonomi pada kuartal ketiga (Juli-September 2020) tidak lebih buruk dibandingkan dengan penyusutan pada kuartal kedua (April-Juni 2020). Bahkan, bila dilihat secara kuartalan, ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga tumbuh 5,05% dibandingkan kuartal kedua.

Itu artinya, perekonomian Indonesia sebenarnya telah melewati kondisi terburuk, yang terjadi pada April 2020 hingga Juni 2020. Saya memaknai sebagai resesi ekonomi sudah kita alami selama lebih dari enam bulan yang telah lewat. Artinya, kondisi hari ini sudah lebih baik ketimbang kondisi enam bulan yang lalu.

Dari perspektif yang lain lagi: kita mesti melihat resesi sudah berlalu, bukan baru terjadi apalagi  "resmi" mulai hari ini. Terlebih faktanya, geliat ekonomi yang didorong oleh pergerakan manusia sudah tampak di mana-mana. Penerbangan juga sudah semakin aktif. Destinasi wisata juga mulai terbuka dan dijejali manusia. Tentu, dengan protokol pencegahan Covid-19 yang ketat.

Ada kabar baik lagi. Proses uji vaksin Covid-19 yang dilakukan oleh banyak produsen sudah semakin menunjukkan titik terang. Kabar terbaru, satu vaksin yang sekarang dalam tahap uji menunjukkan efektivitas lebih dari 90% menangkal serangan virus penyebab Covid-19.  Ada sekitar sembilan jenis vaksin yang sekarang sedang dalam tahap uji di sejumlah negara.

Kunci vaksin ini ada pada tiga hal, yakni keamanan, kemanjuran, dan kestabilan. Aman dari risiko efek samping, manjur dalam mencegah virus menyerang, dan stabil efektivitasnya dalam jangka panjang. Tiga prinsip kunci itulah yang kini terus dikembangkan, termasuk melalui penelitian "vaksin merah putih" oleh sejumlah perguruan tinggi dan Lembaga Eijkman yang disupervisi langsung oleh Kementerian Riset/Badan Riset dan Inovasi Nasional yang dipimpin Bambang Brodjonegoro.

Jalan memang masih panjang, tetapi cahaya di ujung lorong jelas telah terlihat. Apabila pengendalian Covid-19 semakin terjaga, harapan bahwa ekonomi terus membaik akan kian besar. Resesi ekonomi telah terjadi dan tak lagi menjadi teka-teki karena sudah kita sama-sama alami.

Tanda-tanda pemulihan juga kita rasakan. Saya terkejut ketika mendapati fakta tak mudah memesan kamar hotel di Kota Solo pada akhir pekan ini karena penuh terisi. Sekadar ilustrasi tambahan, sejumlah hotel berbintang di Kota Jogja yang sempat merasakan getirnya dampak pandemi, kini rata-rata terhuni hingga 60%, padahal sempat merasakan hanya 5%-10% saja kamar terisi.

Statistik menjelaskan perekonomian Indonesia hanya susut 2,03% hingga kuartal ketiga tahun ini.  Besar harapan tanda pemulihan yang mulai terjadi akan menekan kontraksi ekonomi dengan kinerja tak seburuk yang dikhawatirkan.

Justru saatnya sekarang ini kita lebih baik bersiap untuk  berpacu setelah resesi. Tantangannya adalah sejauh mana kita mampu menjaga konsistensi dalam disiplin perilaku sehat, bekerja lebih efisien dan lebih produktif. Saatnya kini menyongsong geliat baru ekonomi dengan cara yang berbeda.

Bekerja bisa dari mana saja, teknologi lebih diberdayagunakan dan merancang model bisnis yang lebih adaptif pascapandemi Covid-19, yang lebih seusai dengan perubahan zaman. Jika perubahan yang adaptif itu terus bisa kita lakukan, banyak orang seperti Yusuf pantas terus bersyukur karena pergerakan manusia akan bergeliat kembali secara berkelanjutan. Itu berarti dapur Yusuf akan lebih ngebul lagi dan Indonesia akan lebih cepat lepas dari jerat resesi. Nah, bagaimana menurut Anda?

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom