Berolahraga di Atas Bus Berjajar

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 5 April 2021. Esai ini karya Agus Kristiyanto, Guru Besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret.

 Agus Kristiyanto (Istimewa/Dokumen pribadi).

SOLOPOS.COM - Agus Kristiyanto (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO -- Melakukan aktivitas olahraga di atas bus adalah sesuatu yang tidak dianjurkan. Di samping jelas tak lazim dan ”tak senonoh”, hal tersebut tentu sangat mengundang risiko besar bagi keselamatan diri dan orang lain, apalagi bila bus dalam keadaan bergerak dan berkecepatan.

Kendati demikian, ”olahraga di atas bus” kemungkinan besar akan benar-benar terjadi di Kota Solo pada masa depan. Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka saat menerima kunjungan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mulai membuat kesepakatan yang menguat tentang pembangunan sport center di lantai II Terminal Bus Tirtonadi Solo.

Aktivitas olahraga di atas bus yang berjajar tentu tidak secara harfiah dalam mengartikannya. Maksud yang sebenarnya adalah suatu saat nanti akan banyak masyarakat berolahraga di lantai atas yang di bawahnya banyak bus yang berjajar.

Lompatan ide Mas Wali Kota ini patut diapresiasi karena prinsip dari pengembangan infrastruktur publik itu memang harus diproyeksikan untuk menyesuaikan dengan kecenderungan masyarakat kini dan terutama kebutuhan masa depan.

Berbicara tentang infrastruktur tentu logika yang digunakan adalah lompatan. Lompatan (jumping) dalam gerak olahraga memiliki esensi sebagai sebuah aktivitas yang membutuhkan daya ledak (explosive power). Perpaduan antara modal explosive power dengan penguasaan teknik yang tepat akan menghasilkan prestasi terbaik.

Logika berikutnya adalah bahwa infrastruktur itu merupakan bentuk prasarana publik yang bersifat dengan penggunaan jangka panjang. Direncanakan dan dibangun sekarang tetapi secara fungsional memiliki nilai pragamatis secara futuristik untuk masa depan.

Misalnya, terdapat banyak pelajaran berharga dari keberadaan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Perencanaan pembangunannya dulu dianggap aneh oleh banyak pihak, apalagi sudah ada Bandara Kemayoran dan bandara Halim Perdanakusuma.

Nilai pragmatis dirasakan pada kemudiaan hari karena membuka akses dan konektivitas secara luas antardaerah, antarnegara, dan antarbenua yang menyebabkan dinamika kehidupan dan pembangunan terakselerasi secara signifikan.

Terminal Bus Tirtonadi merupakan salah satu ikon penting Kota Solo sejak dulu. Terminal yang berada di tengah kota tersebut sangat ramai dan menghubungkan antarkota dalam provinsi maupun antarkota antarprovinsi.

Perkembangan kini menunjukkan terminal bus tirtonadi menjadi pusat penghubung antarmoda transportasi. Pembangunan sky bridge, misalnya, menjadikan konektivitas bus dan kereta api semakin nyata. Stasiun Balapan seolah-olah tidak terpisah dengan Termina Bus Tirtonadi.

Pada saat masyarakat telah memiliki banyak pilihan alat transportasi, fungsi terminal bus memang harus beradaptasi dengan perubahan. Perubahan Terminal Bus Tirtonadi merupakan tantangan sekaligus peluang untuk menyambut metamorfosis Kota Solo sebagai kota yang memiliki fungsi sewu kutha.

Orientasi lompatan infrastruktur yang memetamorfosiskan Terminal Bus Tirtonadi tentu saja juga secara ideal dikembangkan sebagai fungsi sewu kutha. Artinya, bahwa terminal bus yang awalnya hanya menjadi tempat persinggahan bus yang mengangkut para penumpang dari dan ke berbagai kota tujuan harus melakukan reorientasi pengembangan.

Terminal modern memiliki bersifat multifungsi yang mengintegrasikan mobilitas penumpang, barang, dan jasa masyarakat modern. Terminal bus masa depan akan berfungsi bagai USB port yang memiliki banyak lubang colokan untuk sewu flasdisk. Olahraga yang bersifat multidemsi akan turut mengintegrasikan ”ribuan file” yang terutama berbasis pada perbaikan indeks ruang terbuka olahraga.

Indeks

Merupakan informasi yang menggembirakan tatkala di lantai II Terminal Bus Tirtonadi nanti akan dibangun sebuah sport center, di samping fungsi lain seperti hall serbaguna, dan sebagainya. Setidaknya terdapat empat alasan penting di balik sikap gembira terhadap rencana pembangunan sport center yang terintegrasi di lantai atas Terminal Bus Tirtonadi.

Pertama, pemenuhan ruang publik olahraga bagi masyarakat ke depan dapat menaikkan indeks ruang terbuka olahraga bagi masyarakat. Ruang terbuka olahraga adalah ruang yang didesain untuk olahraga (indoor maupun outdoor) yang dapat diakses oleh masyarakat.

Dari hasil pengukuran versi sport development index (SDI), indeks ruang terbuka olahraga Kota Solo sebesar 0,33. Artinya masih sangat diperlukan penambahan ruang terbuka menuju pada kelayakan. Penambahan ruang terbuka olahraga dapat dilakukan dengan cara ekstensifikasi maupun intensifikasi.

Ekstensifikasi yakni menambah jumlah ruang berolahraga, sedangkan intensifikasi adalah sebuah cara untuk mengalihkan fungsi ruang publik. Intensifikasi biasa dilakukan untuk mempersilakan ruang yang awalnya tidak didesain untuk olahraga, tetapi kemudian bisa digunakan untuk olahraga pada waktu tertentu.

Misalnya adalah area car free day yang disediakan sebagai ruang potensial berolahraga yang bisa diakses publik pada setiap Minggu pagi. Kedua, sebagai wujud keberpihakan terhadap arti pentingnya ruang berolahraga bagi masyarakat kebanyakan.

Terminal bus bagaimanapun tetap harus dijaga bukan sebagai ruang eksklusif sebagaimana sebuah bandara internasional. Citra positif tentang arti pentingnya ruang berolahraga merupkan hal yang harus ditumbuhkan. Sudah menjadi rahasia umum, membangun unit bangunan baru biasanya memberi ekses terhadap tergusurnya ruang terbuka olahraga bagi masyarakat awam.

Ketiga, sport center di Terminal Bus Tirtonadi sebagai sarana mengintegrasikan fungsi edukasi, relasi sosial, gaya hidup sehat aktif, dan pertumbuhan ekonomi. Konsepnya bukan semata-mata menduplikasi seperti ruang aktivitas training camp, padepokan, gelanggang olahraga, atau venue cabang olahraga.

Pada masa depan dapat didesain dalam konsep ruang berolahraga, tetapi sekaligus bisa berfungsi sebagai ruang terbuka untuk “ruang lobi”. Tempat menggembirakan bagi bertemunya para pemangku kepentingan olahraga dan menjadi titik kumpul (assembly point) berbagai unsur pentahelix keolahragaan multilingkup.

Tentu saja tetap harus berbasis pada event yang terselenggara dalam cakupan sport-preneurship dan sport-tainment, gaya hidup kolektif masyarakat generasi kekinian, serta misi pengembangan sport tourism dan sport industry.

Keempat, sebagai ruang penyiapan panggung atau etalase festival olahraga rekreasi dan industri kreatif olahraga generasi milenial. Desain sport center Terminal Bus Tirtonadi merupakan panggung representatif yang memiliki muruah tinggi. Memenuhi kelayakan untuk penyelenggaraan event besar dari berbagai penjuru domestik, bahkan luar negeri.

Sport center ini juga potensial untuk menyinergikan tumbuhnaya kebutuhan transportasi massal, menggiatkan kebutuhan kuliner, cenderamata, prasarana olahraga produk domestik, promosi aneka olahraga tradisional, serta pengemasan destinasi wisata yang dipadukan dengan event budaya dan olahraga.

Sport center Terminal Bus Tirtonadi berpotensi menjadi area magnetik yang besar. Bukan mimpi pada siang bolong jika sejak awal memang direncanakan secara matang dan serius. “Olahraga di atas bus yang berjajar” akan menjadi hal yang lazim. Mereka memanfaatkan fungsi edukatif, healthy life style, relasi sosial yang terintegrasikan dengan aneka bentuk mobilitas aktivitas masyarakat modern.

Lokasi ini juga akan menjadi area tata kebiasaan baru olahraga yang berbasis pada komodifikasi olahraga, wisata, dan industri. Fungsi sewu kutha  akan terus menggema dan berkesinambungan sebagai tempat yang dirindukan, sebagaimana lirik lagu sang maestro campursari Didi Kempot. ”...sak tenane aku ora ngapusi, isih tresna sliramu...”

Berita Terkait

Berita Terkini

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.

Dampak Penerapan PPKM di Salatiga

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Senin 9 Agustus 2021, ditulis oleh Santi Widyastuti, statistisi di Badan Pusat Statistik Kota Salatiga.

Pitulungan

Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Seni Memasarkan PPKM Level 4

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Sabtu 7 Agustus 2021, ditulis oleh Mohammad Eko Fitrianto, dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya dan mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Kehilangan Makna…

Tulisan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 4 Agustus 2021. Esai ini karya Sholahuddin, aktif di Solopos Institute.

Memeriahkan Hari Kemerdekaan ke-76 RI secara Daring

Opini ini ditulis Marwanto, dosen Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan FTIK IAIN Salatiga.