Berkelit dari Krisis ala CEO Muda
Maria Y. Benyamin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Jason Lamuda, Glorio Yulianto, Brian Imawan, dan Kevin Osmond punya bisnis yang berbeda. Mereka punya sejumlah kesamaan. Satu, muda. Dua, bisnis turut terpukul akibat pandemi Covid-19. Tiga, sama-sama tak mau terpuruk di tengah krisis ini.

Mereka bercerita dalam kesempatan yang berbeda. Cerita pertama datang dari Jason Lamuda. Dia Co-Founder sekaligus CEO Berrybenka—online fashion store—yang punya nama di kalangan pencinta fesyen di Indonesia.

Sejak Covid-19 menyerang dan kemudian disusul kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), Berrybenka gigit jari. Penjualan offline di 30 toko yang tersebar di sejumlah pusat perbelanjaan langsung rontok gara-gara penutupan mal selama tiga bulan.

Awal tahun ini Berrybenka telah merencanakan penambahan 12-15 toko baru di Jakarta dan luar Jakarta. Berrybenka cukup beruntung. Pada saat yang sama, penjualan lewat kanal online meningkat signifikan 40%-50% lebih tinggi daripada kondisi sebelum pandemi.

Kenaikan penjualan online memang belum menutupi koreksi pendapatan dari sisi offline. Kondisi inilah yang membuat dia belajar hal baru.

”Pada akhirnya harus ada prioritas. Kami putuskan untuk fokus ke online, termasuk mengalihkan sebagian besar karyawan yang tadinya mengurusi offline store,” tutur Jason.

Keputusan berfokus pada penjualan online juga membuat dia akhirnya mengurungkan rencana membangun toko offline. Alasannya, tak lagi relevan dengan kondisi saat ini.

Memang tak mudah berselancar di tengah kondisi krisis seperti sekarang. Menurut Jason, sebelum Covid-19 Berrybenka berada dalam mode stabil. Pertumbuhan konsisten.

Pandemi membuka matanya dan lalu mengaktifkan mode lain agar tetap survive, termasuk memangkas beban operasional. Dalam kondisi ini, tidak sedikit perusahaan yang tergoda untuk memberhentikan karyawan. Itu tak ada dalam kamus Jason, setidaknya sampai saat ini.

”Orang adalah aset. Jika kehilangan orang saat ini, kita akan kesulitan ketika kondisi sudah normal, dan pada saat itu kita akhirnya mulai dari nol lagi...,” ujar dia.

Cerita lain lagi datang dari Founder & CEO Ubiklan Glorio Yulianto. Ubiklan adalah startup iklan luar ruang yang berbasis teknologi. Startup ini didirikan pada akhir 2016. Sejak awal Glorio telah memerkirakan kondisi terburuk yang bakal dihadapi akibat pandemi tersebut.

Sejak PSBB, penurunan pendapatan mulai terasa. Kontrak iklan berjalan dengan sejumlah perusahaan mundur. Tidak sedikit yang batal.  Tak butuh waktu lama bagi Glorio—yang merintis usaha bersama Kalvin Handoko—untuk segera mencari peluang lain.

Pilihannya jatuh ke bisnis layanan belanja online dari pasar tradisional yang kemudian dikemas dalam merek Ubifresh. Bisnis ini resmi dimulai pada Mei. Lahir di tengah pandemi.

Connecting the dots. Ini unit baru yang sebetulnya lahir dari yang sudah kami punya atau jalankan,” cerita Glorio.

Model bisnisnya cukup unik dan diklaim beda dari pemain lainnya, yakni mempertemukan para pedagang di pasar tradisional dengan para pembeli lewat para mitra Ubifresh. Para mitra Ubifresh ini merupakan pemilik kendaraan yang sebelumnya adalah mitra Ubiklan.

Ada juga mitra baru yang baru bergabung. Tren stay at home demi memutus mata rantai persebaran Covid-19 membuat tidak sedikit masyarakat yang tertarik menggunakan layanan tersebut. Di sisi lain, bisnis ini turut membantu para pedagang di pasar yang harus gigit jari lantaran penurunan pembeli.

Menurut Glorio, unit bisnis baru ini belum bisa menggantikan penurunan penjualan yang dialami bisnis Ubiklan. Melihat perkembangan dari hari ke hari, Glorio melihat prospek cerah ke depan. Apakah pandemi ini mengajarkan hal baru baginya?

”Saya belajar satu hal: kreatif mencari ide lain,” kata Glorio.

Lain lagi dengan Jumpstart, startup mesin kopi otomatis. Brian Imawan, Founder & CEO Jumpstart, mendirikan bisnis ini pada akhir 2018. Tren ngopi menjadi salah satu latar belakang pendirian bisnis tersebut.

Sebagai pembeda, Brian menjual kenyamanan karena lebih dekat dengan konsumen dan mengedepankan kualitas produk. Mesin kopi otomatis ini ditempatkan di area perkantoran, rumah sakit, dan tempat umum.

Semua orang bisa dengan mudah mendapatkan kopi segar dengan cepat, tanpa harus ke luar area kantor atau rumah sakit, dan tentu saja tanpa harus mengantre. Sebelum pandemi, bisnis ini tumbuh signifikan. Sejak Maret, bisnis ini mulai tertekan.

PSBB membuat mesin kopi yang tersebar di sejumlah lokasi perkantoran, rumah sakit, dan tempat umum lainnya tidak beroperasi. Penjualan dari 500 unit mesin kopi otomatis yang tersebar di Jabodetabek drop signifikan hingga lebih dari 50%. Rencana penambahan mesin kandas gara-gara Covid-19. Tak mau meratapi nasib, Brian akhirnya melakukan sejumlah inovasi.

”Sebelumnya kami hanya fokus ke mesin kopi, sejak pandemi akhirnya terpikirkan untuk menciptakan produk baru yang bisa dinikmati di rumah, yakni drip coffee. Ini untuk menjawab permintaan konsumen yang ingin menikmati kopi di rumah,” kata Brian.

Penyesuaian lainnya juga dilakukan. Melihat banyak kantor yang belum beroperasi penuh, pembelian kopi juga dibuka lewat ojek online. Brian jadi belajar banyak dari krisis ini.

”Kita harus selalu mempersiapkan diri terhadap semua kemungkinan yang bisa terjadi, supaya bisa mengantisipasi. Pelajaran lain, kita harus lebih inovatif dan terbuka pada ide-ide baru,” ujar Brian.

Adaptif

Kreatif dan adaptif terhadap perubahan juga dilakukan Kevin Osmond, Founder dan CEO Printerous. Platform online printing ini didirikan pada 2015. Printerous adalah platform yang menghubungkan penyedia jasa percetakan dengan konsumen.

Tercatat ada lebih dari 300 mitra Printerous yang tersebar di 24 kota besar di Indonesia. Bisnis Printerous terbagi dalam empat bagian, yaitu stationery printing, promotional printing, merchandise printing, dan packaging printing.

Selama pandemi, tiga bisnis (stationery printing, promotional printing, dan merchandise printing) hilang alias tak berjalan sama sekali. Pada saat yang sama, bisnis packaging printing meningkat signifikan, sejalan dengan perkembangan bisnis makanan dan minuman serta pengiriman paket.

Kevin tidak menunggu lama untuk melakukan penyesuaian ketika pendapatan mulai tergerus pada April. Hanya butuh waktu sebulan untuk membalikkan kondisi perusahaan ke performa sebelum pandemi terjadi.

Strateginya adalah menyesuaikan produk dan pasar dengan cara memproduksi sejumlah barang yang relevan dengan kondisi saat ini, mulai dari masker, face shield, car shield, hingga table separator.

Dengan penyesuaian ini, para mitra tidak kehilangan pendapatan. Roda bisnis percetakan bisa tetap berjalan. Kevin ingat betul bagaimana ide itu bisa muncul kali pertama. Ide lahir dari ketakutan terbesar terhadap ketidakpastian kapan pandemi ini akan berujung.

Dia pun memetik pelajaran berharga dari kondisi saat ini. Menurut Kevin, dalam kondisi pandemi atau tidak, kita semua diingatkan bahwa yang konstan itu perubahan. Perubahan ini terasa oleh semua orang, tetapi yang membedakan seseorang dengan yang lainnya adalah respons.

“Respons itu harus kreatif, inovatif, dan cepat. Kondisi ini adalah sesuatu di luar kontrol kita, maka kita yang mesti menyesuaikan diri dengan kondisi pasar,” kata Kevin.

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom