Kategori: Klaten

Berkat Desain Kaus Covid-19, Usaha Sablon Klaten Laris Manis


Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso

Solopos.com, KLATEN – Usaha sablon di Klaten kini laris manis setelah mengubah desain kaus bertema Covid-19. Kaos produksinya melambung dari semula 24 kaus menjadi 200 kaus per order.

Sepi Order

Seperti yang dilakukan Pompie Yulius, 37, perajin kaus dan sablon di Dukuh Kebonagung, Desa Jarum, Kecamatan Bayat, Klaten. Berkat kejeliannya melihat potensi pasar, usaha Pompie kembali menggeliat setelah sempat terpuruk lantaran sepi order.

Pompie mulai merasakan orderan sepi akhir Maret lalu. Biasanya, pesananan kaos berdatangan apalagi menjelang momentum Ramadan. Namun, Pompie benar-benar tak mendapatkan order pembuatan kaos pada awal April lalu.

Biasanya, Pompie mendistribusikan 40-50 kaus setiap harinya ke wilayah Klaten, Jogja, serta Jakarta. “Namun, Selama 10 hari di awal April itu saya benar-benar merasakan tidak ada order sama sekali. Kalau biasanya setiap hari itu pasti ada permintaan yang masuk. Pada kondisi normal, biasanya permintaan itu minimal untuk tiga hari mendatang,” kata Pompie saat ditemui wartawan di rumahnya, Kamis (7/5).

Lantaran tak ingin merumahkan enam karyawannya, Pompie mengisi kekosongan order dengan membikin masker. Namun, Ketua Karangtaruna Desa Jarum itu tak mengambil untung dari pembuatan masker tersebut lantaran digunakan untuk donasi.

Keliling Pakai Masker, Bupati Wonogiri Dicegat Warga yang Ronda

Ubah Desain Kaus

Selain itu, Pompie mendatangi satu per satu instansi membawa proposal menawarkan kaus bikinan tempat usahanya. Hasilnya, dia mendapatkan order.

Selain itu, bapak satu anak itu mendapatkan ide untuk mengubah desain sablon. Pompie menyadari desain kaos bertema kampanye pencegahan Covid-19 lebih laris.

Berkat usahanya mengubah desain sablon, usaha Pompie mulai merasakan berkah di tengah pandemi. Order kaus di tempat usahanya membeludak salah satunya untuk donasi. Biasanya dia mendapatkan order 24 kaus hingga 36 kaus.

Setelah dia mengubah desain kaus yang mengarah pada pandemi Covid-19, order yang diterima Pompie berkisar 100 kaus hingga 200 kaus sekali pemesanan dengan harga Rp55.0000-Rp60.000 per kaus tergantung desain.

Pompie menyadari desain kaus bertema pandemi Covid-19 tak bisa bertahan selamanya. Dia memperkirakan desain tersebut hanya akan bertahan hingga Lebaran mendatang. Lantaran hal itu, dia mulai menyiapkan strategi agar usahanya tetap bergulir pasca Lebaran.

Strategi produksi disiapkan lulusan jurusan Otomotif SMKN 2 Klaten itu agar usaha kaus dan sablon yang dirintis sejak 2011 silam dengan nama Pion Clothing tersebut tetap berjalan di tengah pandemi Covid-19.

Tambah 2! Kasus Positif Covid-19 Kota Solo Jadi 25 Orang

Di sisi lain, Pompie mengaku sempat kebanjiran permintaan pembuatan hazmat atau baju alat pelindung diri (APD) bagi petugas medis yang menangani pasien Covid-19.

Namun, Pompie menolak permintaan tersebut meski harga yang ditawarkan menggiurkan. Penolakan Pompie lantaran dia tak mengetahui standardisasi hazmat yang aman untuk petugas medis.

Produksi Wedang Uwuh

Selain tetap menjalankan usaha kaus dan sablon dengan desain Covid-19, Pompie mulai menggeluti produksi wedang uwuh, bahan minuman terdiri dari aneka rempah-rempah. Usaha itu dijalankan sejak awal April.

“Adik saya sudah membuat. Saya kemudian belajar bahan apa saja untuk membuat ramuan wedang uwuh,” jelas Pompie.

Usaha produksi wedang uwuh itu dijalankan istri Pompie, Suparmi, 37. Saban hari, Suparmi dibantu tiga orang terdiri dari dua kerabat dan satu tetangga mengemasi bahan wedang uwuh seperti jahe, gula batu, secang, batang cengkih, dan daun pala.

Soal Hadis 15 Ramadan Kiamat, Begini Penjelasan Buya Yahya

Usaha produksi wedang uwuh itu juga menggeliat. Selama sebulan, Suparmi mampu memasarkan 5.000 bungkus. Dia bisa menjual wedang uwuh per paket dengan setiap paket terdiri dari 10 bungkus. Satu paket seharga Rp20.000.

“Pemasarannya sudah sampai Lombok, Bekasi, karawang, Blora, Kupang, Tangerang , serta Semarang. Saat ini untuk bahan mulai sulit,” kata Suparmi.

Share
Dipublikasikan oleh
Cahyadi Kurniawan