Berkalung Al-Qur'an, Panglima TNI Kebal Diberondong Peluru

Kisah unik kali ini tentang sosok panglima TNI yang kebal diberondong peluru karena berkalung Al-Qur'an.

Newswire - Solopos.com
Selasa, 30 November 2021 - 13:47 WIB

SOLOPOS.COM - Panglima ABRI M Jusuf (Okezone.com)

Solopos.com, PINRANG — Kisah unik dialami Panglima TNI ABRI Jenderal Hasanuddin M Jusuf yang terlibat baku tembak dengan pasukan Andi Salle di Pinrang, Sulawesi Selatan. Saat itu, Pasukan Kujang dari Divisi III Siliwangi dihujani tembakan dan lemparan granat musuh.

Hebatnya, M Jusuf yang menjari target utama lolos dari maut. Dia bahkan tak terluka sedikit pun. Kisahnya bermula pada 4 April 1964. Saat itu M Jusuf yang masih menjabat Pangdam XIV mendadak muncul di Pos Komando Batalyon 330 di Enrekang. Sang komandan batalyon dan pasukannya kaget mendapat kunjungan orang nomor satu di Kodam itu.

Jusuf terkesan dengan anak-anak (tentara) Siliwangi yang ditugaskan di Sulsel. Untuk itu dia pun memutuskan makan siang bersama mereka. Lauknya, nasi, lodeh, dan sambel pete. Usai makan siang, Jusuf memberitahukan maksud kedatangannya.

“Besok aku akan mengadakan pertemuan dengan Andi Selle agar ia kembali ke jalan yang benar. Sebagai putera Sulawesi, saya ingin mengajaknya baik-baik untuk bersama-sama membangun Sulawesi ini,” kata Jusuf dalam buku ‘Jenderal M Jusuf: Panglima Para Prajurit’ tulisan Atmadji Sumarkidjo, dikutip Okezone.com, Selasa (30/11/2021).

Baca juga: TNI dan Polri di Timika Papua Ribut Gegara Rokok, Begini Akhirnya

Andi Selle merupakan komandan batalyon Bau Masseppe di Korps Cadangan Nasional Sulsel. Andi Selle awalnya satu barusan dengan Kahar Muzakkar. Namun mereka akhirnya berpisah jalan. Kahar merupakan pemimpin Tentara Islam Indonesia/Darul Islam (TII/DI) Sulsel.

Akibat kekecewaannya terhadap Pemerintah Indonesia, dia memutuskan bergabung dengan NII Kartosuwiryo ddan kemudian menjadi tuan tanah di Mandar.

Dia mengeruk keuntungan dengan menjadi ‘raja lokal’. Dia berusaha mengendalikan perdagangan yang cara-caranya itu berseberangan dengan kebijakan pemerintah pusat. Jusuf menoleh kepada Danyon 330 Siliwangi Himawan Susanto. Dia meminta Himawan menyiapkan anak buahnya.

“Pertemuan ini dipersiapkan Letkol Eddy Sabara, Komandan Brigif 011, namun saya tidak tahu pasti bagaimana kelanjutan dari pertemuan ini. Karena itu siapkan satu kompi 330 untuk pengamanan,” kata Jusuf.

Baca juga: Kerajaan Mataram Islam di Balik Asale Tanah Jawa

Saat itu, Jusuf berangkat ke Pinrang dikawal satu peleton dari Kompi E/330. Sebelum berangkat, komandan kompi telah mempersiapkan 10 prajurit terbaik untuk menjadi pengawal pribadi panglima kelahiran Kajuara, Bone tersebut.

Menurut Atmadji, lokasi perundingan itu di sebuah bangunan Bulog di Desa Leppangeng. Ketika Kompi E/330 tiba di lokasi ada ratusan orang berseragam hijau dan bertopi baja sudah menunggu di sepanjang jalan. Mereka ternyata tentara Andi Selle.

Pasukan Siliwangi yang hanya satu kompi ditambah sejumlah kecil pasukan Raiders dari Kodam Hasanuddin akhirnya berbaur. Semua bersenjata lengkap. Menurut sejarawan Anhar Gonggong, perundingan berjalan baik. Keduanya keluar dari bangunan itu lantas naik mobil bersama. Mobil itu, sedan Dodge 1400 merah tua, sebelumnya ditumpangi Jusuf dari Makassar.

Tujuan mereka, rumah dinas Bupati Pinrang Andi Makkulau. Anhar menyebut dalam perjalanan itu, di sebuah pertigaan, mobil yang seharusnya belok ke kanan menuju rumah bupati, tetap melaju lurus seolah-olah hendak menuju Pare-Pare. Namun menurut Adang S dalam buku ‘Pertempuran di Jembatan Lasape’, jip Mambo yang ditumpangi pengawal Andi Selle yang mendadak menyalip mobil M Jusuf.

Baca juga: Asale Orang Jawa, Keturunan Siapa?

Pengawal Andi Selle yang bersenjata Bren lalu meloncat. Tindakan itu akhirnya memicu perang berdarah. Tembak-menembak jarak dekat antara pengawal Jusuf dan Andi Selle pun tak terelakkan. Berondongan peluru menghujani Jusuf dan para pengawalnya.

Mobil yang ditumpangi itu menjadi penuh lubang. Kolonel M Sugiri yang turut berada di mobil mengawal Jusuf gugur. Begitu juga Praka Adang yang merupakan anggota walpri alias pengawal pribadi Jusuf. Sementara Kombes Pol Mardjaman terluka tembak. Tembak-menembak makin sengit tatkala pasukan Jusuf yang sebelumnya tertinggal di belakang tiba di lokasi.

Berkalung Al-Qur’an

Giliran mereka menghujani anak buah Andi Selle dengan berondongan timah panas dari senjata serbu. Saat pertempuran berkecamuk, Peltu Daud melompat ke arah Jusuf untuk memberikan perlindungan dan membawanya ke mobil Gaz di depannya. Nahas, saat itulah peluru menembus tubuhnya. Daud gugur.

Baca juga: Kisah Unik Pasutri Keliling Dunia Pakai Sepeda Motor

Pasukan Andi Selle tak berhenti. Tahu Jusuf masuk mobil yang disiapkan, tembakan demi tembakan di arahkan ke orang nomor satu di Kodam Hasanuddin. Bersyukurnya, Jusuf lolos dari maut. Dia selamat tanpa lecet sedikit pun.

Menurut penuturan Atmadji, Jusuf saat menceritakan momen menegangkan itu mengaku ada sesuatu yang panas di belakang lehernya. “(Dia) punya insting ada yang melindungi nyawanya,” tutur Atmadji.

Seiring perjalanan waktu, karier Jusuf ‘berakhir’ di militer. Selepas Pangdam itu, dia ditarik Presiden Soekarno masuk kabinet sebagai menteri. Kendati demikian dia masih berstatus tentara aktif. Ketika Soeharto menjadi Presiden, Jusuf masih dipertahankan dalam kabinet. Namun suatu hal tak terduga.

Pada 29 Maret 1978 dia dipercaya menjadi Panglima ABRI/Menhankam. Jusuf menggantikan Jenderal Maraden Panggabean. Dalam karier militernya sebagai Pangab, Jusuf dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan prajurit. Dia kerap blusukan ke barak-barak dan asrama untuk menyapa para anggota ABRI.

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif