Berdaya dari Pekarangan
Opik Mahendra (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Imbauan tentang menjaga jarak fisik dalam interaksi langsung dan mengurangi aktivitas di luar rumah mengharuskan masyarakat lebih sering berdiam diri di rumah dan tidak membuat kerumunan.

Ketidakpastian waktu sampai kapan pandemi Covid-19 berakhir membuat sebagian masyarakat merasa bosan dan bingung ihwal aktivitas apa yang akan dilakukan. Kalau manajemen stres tidak dikelola maka akan kontraproduktif bahkan menghasilkan kecemasan yang berlebihan sehingga menurunkan imunitas tubuh.

Satu hal yang bisa dilakukan adalah menjadi petani di pekarangan sekitar rumah sekalian menjemur badan agar sehat dan bugar. Beberapa waktu lalu ketika pemerintah mengumumkan kesembuhan pasien Covid-19 nomor 1, 2, dan 3, ada hal yang cukup menarik yaitu pemberian jamu berbahan remah-rempah dalam thumbler dari Presiden Joko Widodo kepada pasien yang sembuh.

Guru Besar Biologi Molekular Universitas Airlangga, Chairul Anwar Nidom, mengatakan masyarakat Indonesia dapat mengonsumsi rempah-rempah asli Indonesia untuk menaikkan daya kekebalan tubuh guna menangkal virus yang masuk ke dalam tubuh.

Rempah-rempah tradisional cukup ampuh menjaga daya tahan tubuh dan menjadi salah satu ikhtiar melawan wabah virus corona Covid-19 yang semakin agresif. Masyarakat didorong memenuhi asupan gizi yang seimbang melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi, termasuk mengonsumsi rempah-rempah.

Data statistik menunjukkan luas lahan pekarangan di Indonesia saat ini mencapai 10,3 juta hektare. Apabila potensi dimanfaatkan secara optimal maka permasalahan pemenuhan kebutuhan pangan, termasuk rempah-rempah, kemungkinan besar dapat dikurangi.

Komoditas yang diusahakan pada pertanian pekarangan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga, nilai guna, dan nilai ekonomi. Pemanfaatan lahan pekarangan bisa dilakukan dengan menggunakan barang bekas seperti pipa paralon bekas, kaleng bekas, bambu sebagai tempat media tanam ataun pengganti pot.

Media tanam bisa dari tanah pekarangan yang ditambahkan kompos dari limbah dapur atau pupuk cair. Rumah tangga bisa memanfaatkan pekarangan sesuai potensi secara optimal.  Kegiatan  budi daya tanaman yang ditunjang peternakan dan perikanan akan bisa menambah pasokan protein hewani untuk tiap keluarga.

Sekarang ada teknologi budi daya padi dalam pot yang dilakukan untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarga dengan tambahan peralatan tepat guna sebagai penanganan pascapanen. Kondisi kini merupakan momentum mengembalikan keunggulan tanaman yang pernah menjadi primadona, yakni rempah-rempah.

Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor pertanian pada Februari 2020 mencapai US$0,30 miliar. Pencapaian ini meningkat sebesar 0,91% dibandingkan bulan sebelumnya dan 28,04% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan terjadi karena produk pertanian seperti biji kakao, sarang burung walet, tanaman obat, aromatik, dan subsektor rempah-rempah meningkat signifikan.

Sektor pertanian selama ini memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan ekonomi, baik dalam kontribusi ekspor maupun kontribusi meningkatkan pendapatan masyarakat. Sektor pertanian juga berkontribusi dalam penyediaan pangan, functional food yang sangat penting bagi sebuah bangsa.

Seiring dengan perkembangan penduduk lambat laun komoditas rempah-rempah seperti jahe, temulawak, kunyit, kencur, lada, pala, cengkih, vanili, dan ketumbar semakin langka. Hal ini disebabkan kebutuhan pangan semakin meningkat, produksi pangan dituntut semakin meningkat, dan luas tanam komoditas tanaman pangan semakin bertambah sehingga tanaman rempah-rempah tergeser oleh komoditas lain.

Produksi rempah-rempah sekarang merupakan hasil pengembangan varietas sejak 20 tahun hingga 30 tahun lalu. Pengembangan setelah itu tak intensif, parsial, dan tidak banyak. Kondisi perkebunan rempah-rempah milik rakyat pada umumnya memprihatinkan dan kurang terawat.

Umur tanaman pada umumnya sudah melewati batas yang membuat produktivitas menurun ditambah kondisi cuaca yang tidak kondusif mengakibatkan serangan hama meningkat yang pada akhirnya kualitas produksi menurun.

Aktivitas Produktif

Data Negeri Rempah Foundation menunjukkan ada sekitar 400 spesies hingga 500 spesies rempah-rempah di dunia. Sebanyak 275 spesien di antaranya ada di Asia Tenggara dan jumlah spesies rempah-rempah di Indonesia menjadi yang paling dominan hingga kemudian Indonesia dijuluki sebagai mother of spices.

Beberapa daerah penghasil rempah-rempah di Indonesia adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Papua, Riau, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Selatan, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari keragaman jenis dan wilayah penghasil rempah-rempah, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemasok rempah-rempah dunia yang dapat memberikan kontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Nilai impor (permintaan) dunia terhadap rempah-rempah setiap tahun meningkat sebesar 7,2% dengan nilai mencapai US$10,1 miliar.

Rempah-rempah Indonesia banyak digunakan untuk membuat obat tradisional, produk kecantikan atau kosmetik, farmasi, bumbu masak, parfum, sabun, dan masih banyak lagi. Indonesia yang beriklim tropis menjadi daerah yang memiliki berbagai tanaman rempah-rempah dan juga menjadi tempat yang mudah untuk membudidayakan rempah-rempah.

Pola pengembangan lahan tanam yang ramah lingkungan menjadikan lahan mampu menyediakan nutrisi secara alami untuk tanaman rempah-rempah. Petani dapat memanfaatkan tenaga surya untuk proses pengeringan. Pengolahan secara alami ini menghasilkan produk organik yang berkualitas tinggi.

Rempah-rempah seperti jahe, temulawak, dan kunyit sangat mudah ditanam. Bisa ditanam secara tumpangsari di bawah tegakan tanaman jati, tak perlu tanah yang subur. Menurut Smith (1996), pertanian kota merupakan aktivitas industri yang menghasilkan, memproses, dan memasarkan bahan pangan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari konsumen di perkotaan.

Prosesnya dengan memanfaatkan lahan dan perairan yang ada di daerah perkotaan dan daerah di sekitarnya lewat penerapan metode intensif serta menggunakan sumber-sumber daya alam dan sampah perkotaan untuk menghasilkan berbagai produk pertanian maupun produk peternakan.

Pertanian pekarangan memiliki banyak manfaat, antara lain sebagai sumber bahan pangan tambahan (meningkatkan ketahanan pangan keluarga), sumber pendapatan keluarga, sumber oksigen, sumber keindahan (estetika), dan wahana kegiatan bagi kaum ibu.

Pertanian perkotaan atau urban farming merupakan kegiatan sangat positif dan mengandung banyak manfaat bagi ibu-ibu, mendekatkan pangan terhadap keluarga, sekaligus memenuhi kebutuhan konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman.

Dampak yang diharapkan dari pengelolaan pekarangan ini adalah produk pertanian bisa sampai kepada konsumen tanpa perantara.  Rumah tangga bisa memproduksi dan mengonsumsi sendiri produk pertanian.  Sangat efektif dan efisien.  Kualitas hasil pertanian di pekarangan sendiri bisa dikendalikan dengan memerhatikan faktor kesehatan.  Dengan demikian kesehatan masyarakat akan meningkat.

Menghemat Energi

Untuk menunjang produksi yang optimal, tanaman yang dibudidayakan di pekarangan perlu pemupukan dengan pupuk kandang atau kompos yang diperoleh tanpa membeli atau diperoleh dari dalam pekarangan itu sendiri. Jika ada bibit penyakit pada tanaman di dalam pekarangan tersebut disarankan sebaiknya tidak diberantas memakai pestisida

Limbah rumah tangga yang sangat berperan dalam proses budi daya akan berdampak pada kelestarian lingkungan.  Dampak pada pasar memang besar jika hal ini dilakukan dalam skala luas.  Harapan kita, petani akan beralih masuk pasar luar yang lebih luas baik luar daerah atau pasar ekspor.

Dengan demikian, akan ada peningkatan perekonomian daerah.  Selain itu, yang terpenting adalah masyarakat bisa mandiri pangan dengan keragaman pangan dan gizi. Pengembangan sektor pertanian kota (urban agriculture) dapat menjadi salah satu ikhtiar dalam upaya menjamin ketahanan pangan negeri ini pada masa depan.

Konsep rumah pangan lestari merupakan solusi yang tepat dalam pemanfaatan area tidak terpakai di sekitar rumah. Berbagai sistem penanaman urban agriculture seperti vertikultur, hidroponik, dan akuaponik dapat dengan mudah diterapkan di area terbatas.

Para pegiat urban farming menyulap atap rumah mereka menjadi kebun atappagar rumah menjadi taman vertikal, dan sepotong pipa menjadi kebun tamanan hidroponik yang subur. Sebuah penelitian di Arizona State University mengungkap implementasi urban agriculture dilakukan secara penuh di setiap kota besar dunia dapat menghasilkan 180 juta ton bahan makanan selama setahun.

Angka tersebut merupakan 10% dari total hasil produksi makanan secara global. Urban agriculture juga berpotensi menghemat 15 miliar kilowatt per jam pemakaian energi dunia selama setahun dan menghasilkan 170.000 ton nitrogen ke udara. Ini sama artinya dengan mencegah turunnya 57 juta meter kubik limpasan badai yang kerap mencemari sungai dan saluran air bersih.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho