Setyaningsih/Istimewa

Solopos.com, SOLO — Di tengah isu perubahan iklim, limbah mode atau busana belum dikabarkan segawat sampah plastik. Bahan busana sebenarnya juga tidak mudah terurai, produksinya membutuhkan banyak energi.

Bahan organik masih sulit dijangkau untuk sandang secara umum. David Wallace-Wells dalam buku Bumi yang Tak Dapat Dihuni (2019) mengatakan, ”Baru-baru ini dihitung bahwa separuh emisi gas rumah kaca Britania berasal dari ketidakefisienan konstruksi, serta makanan, barang elektronik, dan pakaian yang terbuang dan tak terpakai;…”

Duka lingkungan bukan kabar buruk dari tempat jauh yang sering diajarkan guru di sekolah; permukaan laut yang meningkat, mencairnya es di Antartika, emisi dari negara berpabrik industrial, atau jejak karbon yang ditinggalkan makanan sisa.

Perubahan iklim terjadi di banyak tempat dan benar-benar sangat dekat dengan kita. Setiap yang kita cipta, pakai, makan, atau buang sangat menentukan. Jagat mode menanggung beban moral menyelamatkan bumi meski istilah ”tren” cenderung menunjukkan kebaruan gagasan ekologis berbusana.

Harian Solopos edisi 5 Januari 2020 mewartakan tren fesyen ”peduli semesta”. Hal ini dilatari sumbangan tumpukan sampah mode, sebagaimana dilansir majalah fesyen ternama Amerika Serikat Harperbazaar.com, mencapai 92 juta ton per tahun.

Pasar busana online tidak hanya mengubah cara publik membeli, tapi juga meningkatkan daya beli. Perancang busana asal Solo, Wahyo Abraham, peraih penghargaan Indonesia Young Fashion Designer Competition (IYFDC) dari Indonesia Fashion Week 2019, diprofilkan sebagai perancang busana ramah lingkungan atau sustainable fashion.

Wahyo memilih pewarnaan alami, bahan berkualitas sekaligus tahan lama, jahitan tidak menyisakan sampah kain. Aksesori juga dirancang dari bahan bekas, seperti karet ban untuk bahan kalung dan tas dari limbah plastik kresek.

Media Indonesia edisi 5 Januari 2020 mewartakan fesyen hijau (akan) menjadi tren pada 2020. Indonesian Fashion Chamber (IFC) merasa prihatin dengan emisi dari mobilitas kapal dan pesawat pengangkut kebutuhan mode.

Busana Antibasi

Dalam acara 23 Fashion Districk 2019, koleksi busana ”antibasi” dikenalkan.  Salah satunya adalah penutup kepala berbahan jerami rancangan Deden Siswanto. Sebenarnya tidak ada alasan yang benar-benar menguatkan misi penyelamatan lingkungan.

Desainer Stella Lewis memilih material batik karena abadi sepanjang masa. Keawetan busana sulit meyakinkan konsumen tentang umur pakai yang panjang. Seseorang selalu mendambakan pergantian busana, sesuai fungsi mode!

Gaung fesyen hijau peduli semesta memang penting dan sangat perlu dideklarasikan. Di Indonesia, gagasan busana ekologis terdengar baru sekaligus rapuh. Simak saja buku Inspirasi Mode Indonesia (2003) susunan Nunun Daradjatun dan Samuel Wattimena yang menampilkan wawancara dengan perancang busana serta karya, perancang aksesori, penata rias, dan pemakai.

Ada Ramli, Poppy Dharsono, Asmoro Damais, dan lain-lain. Di sini mode jelas masih berbicara tentang roh keindonesiaan, tervisualisasi sesuai karakter pemakai, kemampuan mix and match, tren gaya dan warna, rumah mode, geliat pasar.

Di beberapa kebudayaan, orang-orang tidak gampang menyebut suatu barang sebagai bekas. Di Jawa kita mengenali istilah lungsuran atau nglungsuri. Orang tua masih menyimpan baju anak tertua untuk dipakaikan kepada adik-adiknya.

Saudara yang tua mewariskan baju kepada yang lebih muda. Di sini bukan sekadar ditonjolkan nilai pakai busana yang masih layak. Ada penekanan pada sejarah busana dalam keluarga yang menghadapi perubahan.

Busana memang kebutuhan pokok yang tidak boleh terlalu boros, cepat diganti, selalu dibeli, dan disesuaikan demi citra sosial. Jati diri memang bergantung pada busana sekaligus cara memperlakukan busana.

Beberapa tahun ini muncul tren menghimpun busana bekas untuk dipakai kembali. Tren justru disokong kaum pemboros busana alias selebritas. Antara satire dan heroik. Mereka adalah pihak yang sangat mungkin memboroskan busana karena tabu memakai busana sama untuk momentum berbeda.

Garage Sale

Belum lagi soal kerumitan model, harga, dan bahan busana mewah sekali pakai seumur hidup. Begitu seorang selebritas tampil dengan busana yang sama, ia mendadak mendapat pujian peduli lingkungan.

Penyanyi Andien, misalnya, getol mengikuti garage sale, membeli barang-barang bekas. Majalah Tempo edisi 17 Maret 2014 memberitakan Andien tidak hanya menjual baju bekas, celana bekas, sepatu bekas, tas bekas, tapi juga barang baru yang belum sempat dipakai.

Strategi tukar baju belakangan juga digarap aktivis sosial atau pengelola gerai baju. Penghasil dan pengguna meyakini kebaruan busana akan terus bermunculan. Menukar baju meski tampak bijak menyikapi pola produksi dan konsumsi, sebenarnya tampil untuk memanipulasi.

Setiap orang berhak memiliki baju baru tanpa beban moral pemborosan. Kompas edisi 29 Desember 2019 mewartakan program #tukarbaju pada 13-22 Desember 2019 di  salah satu gerai baju di Plaza Indonesia, Jakarta. Orang-orang bisa menukarkan baju bekas dengan baju baru.

Selain gampang mendapat baju baru yang sedang ngetren, pengelola #tukarbaju berbangga bahwa baju yang dipajang di etalase tidak sekadar cantik tapi juga dibuat dari serat alami yang mudah diluruhkan tanah.

Baju-baju bekas yang “membahayakan” bumi siap didonasikan kepada yang butuh, terutama lewat Yayasan Setali yang dikelola penyanyi Andien. Percayalah, semua ini untuk kesehatan bumi!

Gairah menyelamatkan yang bekas adalah kontradiksi yang aneh. Busana di lemari ingin dikurang tapi sekaligus berbelanja busana terbaru lagi. Orang lain diajak menampung baju bekas demi merengkuh kebaruan.

Di balik timbunan baju bekas ada politik konsumsi yang ugal-ugalan. Memanfaatkan baju bekas baru sampai pada gaya hidup baru, sekeren mengganti botol plastik dengan tumbler, daripada cara mengubah persepsi ihwal konsumsi busana sejak dalam pikiran.

Niat baik beberapa desainer menyelamatkan lingkungan dengan mengadopsi jerami untuk bahan penutup kepala, misalnya, menjadi sumbangan memikirkan peran mode di tengah nasib lingkungan.

Mode ekologis sebenarnya diciptakan untuk siapa? Cara berpakaian kita masih untuk menunjukkan citra diri. Belum berpakaian untuk berempati kepada satu-satunya bumi.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten