Berbelanja adalah Kunci
Maria Y. Benyamin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO -- Melan—seorang ibu rumah tangga yang berdomisili di Depok—bercerita penuh semangat soal bantuan sembako yang pernah di terima dari pemerintah pusat maupun daerah.

Dia turut menikmati bantuan itu karena termasuk dalam kelompok yang turut terkena dampak Covid-19.

Paket sembako yang dia terima kala itu beragam. Dari Gubernur Jawa Barat, dia mendapatkan paket berisi sejumlah barang dan uang tunai Rp150.000. Ada juga paket sembako bantuan presiden (banpres) yang isinya cukup komplet.

Dia juga mendapatkan paket dari pemerintah pusat berupa beras. Jumlahnya lumayan. Bulan pertama 25 kg. Bulan kedua 10 kg. Paket-paket itu cukup membantu ibu tiga anak tersebut. Sebelum Covid-19 merebak, sehari-hari dia mengandalkan hasil berjualan makanan di sekolahan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Sejak Covid-19 mewabah, sekolahan tutup. Usahanya pun harus terhenti. Kendati masih aktif berdagang dari rumah, melayani pesanan yang datang dari tetangga atau pelanggan setianya, hasilnya tak sebesar dibandingkan dengan kondisi normal.

Pendapatan sang suami yang adalah pengemudi transportasi online belakangan juga turut terkikis gara-gara Covid-19. Alhasil, sejauh ini kebutuhan keluarga tetap bisa terpenuhi, kendati uang dari kantongnya dan sang suami tergerus,.

“Jadi, saya enggak perlu membeli beras dan lain-lain. Paling tidak uang yang seharusnya untuk membeli beras dan kebutuhan harian lainnya bisa dibelanjakan untuk kebutuhan yang lain,” ujar Melan.

Sayangnya, sudah dua bulan ini paket itu tak pernah mampir lagi. Melan pun harus menyisihkan kembali sebagian dari pendapatan mereka untuk membeli beras dan kebutuhan harian lainnya.

***

Lain lagi Monica. Karyawan swasta sebuah perkantoran di Jakarta Pusat ini memang turut terusik gara-gara Covid-19. Pendapatan bulanan ikut terkoreksi lantaran pemangkasan yang dilakukan kantor tempat dia bekerja.

Kendati demikian, jumlah pendapatan yang dibawa pulang masih cukup aman. Monica hanya perlu melakukan penyesuaian agar pendapatannya tetap cukup memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Dana pelesiran yang rutin disisihkan tiap bulan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan lainnya yang lebih penting.

Setali tiga uang dengan yang dilakukan oleh Carol. Kendati pendapatannya tetap utuh, Carol tak berani berbelanja barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Dalam beberapa bulan terakhir Carol mengaku tak berbelanja pakaian, tas, atau sepatu.

Sekalipun keinginan untuk memiliki barang-barang itu begitu kuat, ada kekhawatiran yang besar dalam dirinya terhadap kondisi saat ini. Alhasil, dia memilih tidak berbelanja sama sekali. Menjaga uangnya tetap dalam jumlah yang cukup aman menjadi prioritas saat ini karena khawatir kondisi ke depan akan kian memburuk. “Cash is the king,” demikian kata dia.

***

Pilihan-pilihan yang diambil Monica, Carol, dan Melan setidaknya sejalan dengan data indeks keyakinan konsumen (IKK) yang keluar pertengahan pekan ini. Data IKK yang dikeluarkan Bank Indonesia mencatat ada peningkatan keyakinan konsumen terhadap ekonomi nasional.

Hal itu tergambar dari kenaikan IKK pada Agustus lalu yang mencapai 86,9. Bulan sebelumnya IKK ada di level 86,2. Peningkatannya memang belum seberapa dan masih tetap berada di zona pesimistis. Kondisi ini bisa dimaklumi sebab ternyata kenaikan IKK itu didorong oleh kelompok masyarakat dengan tingkat pengeluaran Rp2 juta-Rp4 juta.

Kelompok ini jauh lebih yakin dan mau mengeluarkan uang karena didukung oleh berbagai bantuan perlindungan sosial dari pemerintah. Tak hanya itu. Mereka mendapatkan subsidi gaji pekerja, bantuan kredit untuk ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM, hingga bantuan produktif untuk usaha mikro. Bantuan itu cukup menopang kebutuhan mereka.

Di sisi lain, menurut data IKK, tingkat kepercayaan konsumen dengan tingkat pengeluaran di atas Rp5 juta justru menurun. Kelompok ini masuk dalam kategori kelompok penghasilan atas. Hal itu membuat mereka cenderung menahan belanja.

Mereka tak hanya ingin menjaga keuangan tetap stabil di tengah kondisi seperti ini. Kelompok tersebut umumnya juga lebih sadar akan kondisi di sekitarnya. Jumlah kasus positif Covid-19 yang terus meningkat membuat mereka waswas dan memilih tidak melakukan aktivitas di luar rumah, termasuk berbelanja.

Pesimisme masyarakat ini setidaknya bisa tergambar juga dari kondisi indeks harga konsumen dalam dua bulan terakhir. Pada Agustus, terjadi deflasi lagi sebesar 0,05%.

Deflasi pada Agustus ini bertolak belakang dengan data indeks keyakinan konsumen pada bulan yang sama.

Setelah ditelusuri lebih detail, kondisi ini bisa dipahami karena ternyata kelompok penghasilan ataslah yang cenderung mengerem belanja. Kelompok ini menjadi kontributor konsumsi rumah tangga terbesar, dengan persentase sebesar 45%.

Deflasi yang terjadi kini menjadi ancaman tersendiri. Tidak hanya di Indonesia. Sejumlah negara lain kini berhadapan dengan inflasi yang terus melambat hingga deflasi.

Ini menjadi ancaman yang besar karena akan memengaruhi ekonomi secara keseluruhan. Dalam kondisi deflasi, harga barang menjadi jauh lebih rendah karena tak ada permintaan.

Masyarakat memilih tidak membelanjakan uang atau berbelanja lebih sedikit daripada sebelumnya. Keengganan masyarakat mengeluarkan uang praktis membuat harga barang semakin turun lebih dalam lagi. Ini bakal menjadi masalah baru jika kita melihat pada data kinerja manufaktur yang dirilis awal bulan ini.

Purchasing Manufacturing Index—indikator kinerja manufaktur—Indonesia yang dirilis oleh IHS Markit melesat ke level 50,8. Level di atas 50 menunjukkan ada ekspansi. Di satu sisi, capaian ini menjadi angin segar tersendiri karena mencerminkan mulai pulihnya aktivitas manufaktur setelah sebelumnya terkontraksi hingga ke level terendah pada April, yakni 27,5.

Di sini lain, keengganan masyarakat untuk berbelanja menjadi tantangan tersendiri bagi sektor manufaktur. Situasi ini juga diakui oleh Presiden Joko Widodo dalam pertemuan dengan sejumlah pemimpin redaksi media massa di Istana Bogor, Kamis (10/9). Menurut Presiden, aktivitas produksi manufaktur yang mulai menggeliat harus diantisipasi di tengah ketiadaan permintaan (demand).

Kuncinya sekarang adalah demand. Membangun psikologis agar kelas menengah mau berbelanja,” kata Presiden. Pemerintah kini tengah merumuskan strategi yang tepat untuk membangun psikologis masyarakat kelas menengah, termasuk menciptakan rasa aman, agar kelas menengah tetap mau beraktivitas di sejumlah tempat tanpa ada rasa khawatir terhadap kondisi saat ini.

Ini memang upaya yang tidak mudah, tetapi harus dilakukan jika tujuannya menjaga perekonomian nasional. Bahaya melemahnya daya beli ini bisa semakin meluas. Bayangkan saja jika hasil produksi manufaktur tidak terserap oleh masyarakat karena tak permintaan.

Pabrikan akan menempuh berbagai cara untuk menjaga napas panjang perusahaan, termasuk di antaranya pemutusan hubungan kerja (PHK). Kalau itu terjadi, bahaya lainnya yang timbul adalah kenaikan angka pengangguran.

“Angka-angka kemiskinan dan pengangguran terbaru akan keluar. Kemiskinan pasti naik. Pengangguran juga naik,” ujar Presiden. Dengan suara lirih.

***

Tidak mudah memang berselancar di tengah kondisi seperti ini. Angin kencang masih menghantam di setiap sisi. Keyakinan masyarakat harus tetap dijaga dengan berbagai bentuk bantuan perlindungan sosial yang lebih masif.

Bantuan yang sudah terhenti sepertinya harus dilanjutkan lagi karena kondisi ketidakpastian masih panjang. Seperti Melan yang masih berharap akan kembali mendapatkan bantuan sembako dari pemerintah setiap bulan.

Upaya lainnya adalah membangun keyakinan dan kepercayaan masyarakat kelas menengah ke atas. Tujuannya jelas, agar Monica atau Carol masih punya keyakinan yang tinggi terhadap perekonomian nasional sehingga tak terus-terusan ”menahan” belanja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom