Agung Vendi Setyawan/Istimewa

Solopos.com, SOLO — Pada Senin (28/10/2019) lalu telah 91 tahun peristiwa Sumpah Pemuda tercatat dalam sejarah Indonesia. Butir ketiga Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 adalah,Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”

Penggunaan kata-kata asing saat ini menjadi hal biasa, bahkan dijadikan sarana untuk meraih popularitas. Penggunaan istilah asing dalam tata bahasa Indonesia adalah hal yang keliru. Hal tersebut tak sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Kata menjoenjoeng atau ”menjunjung” dalam ejaan sekarang belum dimaknai secara mendalam oleh sebagian besar warga Indonesia. Penggunaan bahasa asing dianggap hal yang bergengsi. Persepsi demikian sebenarnya keliru. Beberapa orang seperti artis terkenal, kaum sosialita, dan borjuis merasa bangga ketika berbicara di tempat umum maupun bergaul menggunakan bahasa asing.

Era digital menyebabkan kata-kata yang digunakan banyak diambil dari bahasa Inggris. Sebenarnya ada kata serapan maupun kata dari bahasa Indonesia yang cocok untuk kata-kata tersebut. Penggunaan kata-kata asing justru lebih populer dibandingkan arti kata maupun serapan kata-kata asing tersebut.

Kata e-mail yang merupakan kependekan dari electronic mail sebenarnya adalah surat elektronik yang bisa disingkat menjadi surel. Kata share yang sering kali diucapkan oleh para pengguna WhatsApp, juga salah satu contoh penggunaan bahasa asing yang keliru.

Kata share dalam bahasa Indonesia berarti dibagikan. Tidak sedikit narasumber seminar, dosen, guru, mahasiswa, dan pelajar terbiasa menggunakan kata share ketika membagikan materi, bahan bacaan, atau aplikasi melalui media smartphone.

Frasa kids zaman now juga menjadi fenomena saat ini di media sosial. Kids zaman now yang berarti anak-anak zaman sekarang dilihat dari segi penulisannya saja keliru. Wedhawati dalam buku Yang Penting Buat Anda, Para Pejabat, Eksekutif, Wartawan, Dosen, dan Guru terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Balai Bahasa DIY (2015: 18) menjelaskan penulisan zaman adalah benar, bukan jaman.

Bahasa Asing Favorit

Kata ”jaman” sering kali terlihat dan terpampang di baliho, poster, dan beberapa pengumuman publik. Alangkah baiknya jika istilah kids zaman now ditulis anak zaman sekarang. Kalimat tersebut justru lebih berwibawa. Mencerminkan citra Indonesia, tanpa mengubah arti.

Warga negara Indonesia seharusnya bangga terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia menjadi salah satu bahasa asing favorit para pelajar di Darwin, Australia Utara. Salah satu sekolah yang siswa-siswanya bersemangat mempelajari bahasa Indonesia yakni Darwin High School.

Bahasa Indonesia juga menjadi salah satu bahasa asing yang diminati mahasiswa asing di Thailand. Bahasa Indonesia bahkan menjadi bahasa resmi kedua di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Terbitnya Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dan dicabutnya Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2010 menjadi salah satu wujud meneguhkan kedaulatan bahasa Indonesia dalam tata pergaulan.

Bahasa Indonesia menjadi cerminan eksistensi bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia kini mendapatkan kedudukan yang tinggi. Bahasa Indonesia menjadi jati diri bangsa Indonesia. Sebagai warga negara Indonesia yang hidup di wilayah Indonesia, menggunakan bahasa Indonesia adalah suatu cermin kecintaan terhadap tanah air.

Penggunaan bahasa Indonesia sesuai kaidah adalah salah satu cara menghargai perjuangan para pendahulu bangsa. Mereka berjuang memanggul senjata, memperjuangkan kemerdekaan yang pada puncaknya menggantikan bahasa Belanda dan bahasa Jepang dengan bahasa Indonesia.

Hal ini perlu diresapi dan direnungkan. Betapa mulianya para pendahulu kita, memperjuangkan salah satu identitas bangsa Indonesia, yakni bahasa Indonesia. Penggunaan istilah asing dalam bahasa pergaulan di kalangan anak-anak, remaja, dan tidak sedikit orang yang ”sok luar negeri” membuat miris dan dilematis.

Bahasa Indonesia kian terimpit keberadaannya di tengah maraknya bahasa gaul yang lebih mengapresiasi penggunaan istilah asing. Dilematis karena mereka ingin bahasa Indonesia mengikuti perkembangan zaman.

Merendahkan Bangsa Sendiri

Sadar atau tidak, berbahasa gaul dengan menggunakan istilah asing sama halnya merendahkan bangsa sendiri. Citra dan identitas bangsa Indonesia berupa bahasa Indonesia terabaikan, kalah dengan gengsi. Jika hal ini terus-menerus terjadi, suatu saat nanti mungkin bahasa Indonesia tinggal nama.

Bisa jadi bahasa Indonesia senasib dengan bahasa-bahasa lokal di berbagai daerah di Indonesia lainnya yang sedikit demi sedikit hilang dan punah tergerus modernitas. Guna menyikapi fenomena penggunaan istilah asing yang mengancam bahasa Indonesia, perlu penanaman kecintaan kepada bahasa Indonesia.

Salah satu cara dengan membiasakan penggunaan bahasa tutur yang baik dan benar sesuai kaidah bahasa Indonesia sejak dini kepada anak-anak. Hal ini dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Di samping penggunaan bahasa lokal sebagai bahasa komunikasi sehari-hari, pembiasaan berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia menjadi perlu. Bisa jadi pada awalnya kaku, tetapi jika dilakukan secara terus-menerus akan terbentuk suatu pembiasaan yang menepis rasa kaku.

Peribahasa Jawa witing tresna jalaran saka kulina yang berarti rasa cinta muncul karena terbiasa bisa menjadi bahan refleksi. Bahasa Indonesia laksana baju orang Indonesia. Jangan sampai tanggal ditelan zaman. Jangan biarkan termakan modernitas karena bahasa Indonesia adalah identitas kita.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten