BENTROK MASSA SOLO : DMC Vs PSHT Damai, “Jangan Sampai Peristiwa Juwangi Terulang”
Warga dan polisi mengevakuasi Yusi Dika Avanda, 19, warga Sukoharjo yang menjadi korban dalam bentrok antarmassa di Jl Adisucipto, Manahan, Solo, Selasa (18/11/2014) dini hari. Ia dilarikan ke RS Brayat Minulto untuk mendapat perawatan atas luka-luka yang dideritanya. (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SOLO—Bentrok massa Solo antara Barisan Muda Indonesia (dahulu bernama Dewan Muda Complex/DMC) dan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) berakhir damai.

Pimpinan cabang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) se-Soloraya berseru kepada seluruh anggota mereka untuk dapat menahan diri dan tidak terprovokasi oleh informasi yang dapat memperkeruh suasana Kota Solo.

Seruan itu disampaikan saat acara konsilidasi seluruh Ketua Cabang PSHT se-Soloraya di Solo, Rabu (19/11/2014) malam.

Melalui forum tersebut Ketua PSHT Cabang Boyolali, Marjono, meminta pimpinan-pimpinan agar selalu memonitor seluruh anggota tanpa terkecuali.

Dia menilai, koordinasi antarpengurus sangat penting agar pimpinan selalu mengetahui apa yang sedang terjadi pada anggota paling bawah sekali pun.

“Jangan sampai peristiwa di Juwangi [Boyolali] terulang lagi,” ucap Warsono.

Peristiwa di Juwangi yang dimaksud adalah kerusuhan menyusul tewasnya anggota PSHT Boyolali diduga akibat dianiaya, Mei lalu. (Baca Juga: Tawuran Juwangi)

Ketua PSHT Cabang Sukoharjo, Joko Subroto, menyatakan pencak silat yang diajarkan di PSHT bukan untuk main pukul. (Juwangi Memanas, 1 Orang Tewas)

Ilmu beladiri yang dipelajari menurut dia sebagai bentuk pelestarian agar pencak silat dapat menjadi icon Indonesia. Lebih dari itu, kata dia, ajaran PSHT untuk membentuk manusia berbudi luhur yang tahu hal yang benar dan salah.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho