Benteng Bekas Keraton Kartasura Tak Terawat, Tertutup Ilalang dan Sampah
Ratusan warga Kartasura dari berbagai kalangan bersama jajaran TNI/ Polisi kerja bakti membersihkan area dalam Benteng bekas Keraton Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Minggu (23/2/2020). (Solopos/Indah Septiyaning Wardani)

Solopos.com, SUKOHARJO – Kawasan petilasan Keraton Kartasura di Sukoharjo, Jawa Tengah, terlihat kotor dan tak terawat. Bangunan bersejarah Kerajaan Mataram Islam itu kini dipenuhi sampah dan tertutup ilalang.

Rumput ilalang setinggi setengah meter memenuhi petilasan Keraton Kartasura yang terletak di Kampung Krapyak, Kelurahan/Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Rumput liar ini bahkan menutup sebagian benteng berupa tumpukan batu bata yang merupakan bekas Keraton Kartasura.

Kondisi petilasan tersebut begitu memprihatinkan dan tak terawat. Selain dipenuhi rumput ilalang, ada banyak sampah dedaunan yang berserakan di petilasan tersebut. Padahal bekas Benteng Keraton Kartasura menjadi bagian penting dari sejarah kejayaan dinasti Kerajaan Mataram Islam di Jawa.

Berobat di Poliklinik dan Posyandu Buntalan Klaten Cukup Bayar Pakai Sampah

Juru Kunci benteng bekas Keraton Kartasura, Mas Ngabehi Suryo Hastono, mengatakan, kondisi petilasan sangat memperihatinkan. Minimnya anggaran perawatan membuat kawasan itu semakin tak terawat.

“Kami hanya berharap ada kepedulian dari berbagai pihak untuk ikut menjaga dan merawat benteng bekas Keraton Kartasura, termasuk kebersihan di dalam benteng," harapnya.

Di dalam area benteng Keraton Kartasura terdapat bangunan lain seperti masjid, bangsal, dan permakaman. Namun sejak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah menetapkan kawasan Benteng bekas Keraton Kartasura sebagai cagar budaya, maka permakaman tersebut ditutup untuk umum. Setidaknya di lokasi itu terdapat ribuan makam.

Melihat kondisi tersebut, ratusan warga Kartasura dari berbagai elemen, organisasi dan kelompok masyarakat bersama jajaran TNI-Polisi pun tergerak membersihkan kawasan petilasan Keraton Kartasura. Kegiatan yang dikemas dalam Kartasura Bergerak ini dilaksanakan pada Minggu (22/2/2020) pagi.

Ada Kelalaian, Ini Temuan Fakta Seputar Susur Sungai SMPN 1 Turi Sleman

Berbekal beragam peralatan kebersihan seperti sapu, sabit, sekop, plastik sampah, mereka membersihkan area bangunan bersejarah tersebut. Mereka bersemangat membersihkan sampah dan rumput liar di bawah pepohonan rindang kawasan petilasan Keraton Kartasura.

Perwakilan panitia Kartasura Bergerak, Roni Sundoro, mengatakan, kegiatan bersih-bersih benteng bekas Keraton Kartasura melibatkan lebih dari 200 orang dari berbagai kalangan. Kegiatan ini murni dilaksanakan sebagai upaya merawat cagar budaya yang memang kondisinya memprihatinkan dan tak terawat.

"Kami ingin menggugah semua pihak untuk ikut terlibat menjaga kawasan cagar budaya. Jangan sampai terbengkalai dan tidak terawat," katanya.

Mereka berkumpul dan mulai bekerja bakti membersihkan petilasan Ketaron Kartasura sejak pukul 07.30 WIB. Agung Mulya Prabowo, 22, anggota Komunitas Oemah Ulo Kartasura begitu semangat membersihkan rumput yang memenuhi pinggiran benteng bekas Keraton Kartasura.

2 Tahun Tak Bertemu, Ayah Dapati Anaknya Korban Meninggal Susur Sungai Sempor

Bagi Agung Mulya Prabowo membersihkan Petilasan Keraton Kartasura merupakan wujud ikut memiliki dan merawat cagar budaya bangsa.

“Tempatnya tidak terawat, sehingga kami tergerak untuk terlibat dalam kegiatan hari ini kerja bakti merawat Petilasan Keraton Kartasura. Jadi saya sangat semangat membersihkan rumput dan sampah daun yang jatuh,” katanya ketika dijumpai Solopos.com.

Keterlibatan tim resque Komunitas Oemah Ulo ini juga sebagai upaya mengantisipasi apabila ditemukan ular saat kerja bakti bersih-bersih petilasan Keraton Kartasura. Sebab, tak dimungkiri rumput ilalang yang tumbuh memenuhi kawasan petilasan rawan menjadi sarang ular.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

SOLOPOS TV



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho