Suyadi menunjukkan dinding bendung daerah irigasi (DI) Semodinan di Kali Gede, Dusun/Desa Celep, Kedawung, Sragen, yang dijebol, Minggu (23/6/2019). (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Dinding bendungan daerah https://soloraya.solopos.com/read/20190610/491/997440/waduk-botok-sragen-kering-1.988-ha-sawah-kurang-air" title="Waduk Botok Sragen Kering, 1.988 Ha Sawah Kurang Air">irigasi (DI) Semodinan di Kali Gede, Dusun/Desa Celep, Kedawung, Sragen, dijebol warga sehingga mengakibatkan pasokan air ke 12 hektare sawah di Desa Celep dan Desa Pengkok, Kedawung, tersendat.

Bendungan dijebol oleh tiga warga sekitar pada Sabtu (22/6/2019) pukul 09.00 WIB. Ketiganya berdalih ingin mengurangi debit air di Kali Gede guna melancarkan proyek pembangunan talut bronjong di Dusun Kalitengah RT 20, Desa Celep, Kedawung.

“Saya sudah memperingatkan mereka supaya tidak merusak bendungan, tetapi mereka nekat melakukannya. Katanya mereka hanya melaksanakan perintah dari perangkat desa,” ujar Suyadi Kurniawan, 50, tokoh masyarakat desa setempat saat ditemui Solopos.com di lokasi, Minggu (23/6/2019).

Dinding bendungan yang dijebol itu panjangnya sekitar 50 cm dan lebar 30 cm. Suyadi menyayangkan dijebolnya dinding bendungan tersebut. Menurutnya, untuk mengurangi debit air, seharusnya pintu bendungan itu cukup dibuka tanpa merusak https://soloraya.solopos.com/read/20190428/491/988423/mulai-giling-pg-mojo-targetkan-produksi-17.300-ton-gula" title="Mulai Giling, PG Mojo Targetkan Produksi 17.300 Ton Gula">bendungan.

Meski sudah tidak ada gagang untuk membuka pintu, kata Suyadi, pintu air yang terbuat dari bahan besi itu masih bisa dibuka dengan cara diangkat secara manual.

“Gagang untuk membuka pintu air itu memang sudah lama hilang, tapi bukan berarti pintu itu tidak bisa dibuka. Dengan sedikit usaha, pintu air itu masih bisa dibuka sehingga tidak perlu menjebol dinding bendungan,” jelas Suyadi.

Akibat rusaknya dinding bendungan itu, Suyadi bermaksud melaporkan tiga warga itu ke Polsek Kedawung. Dia menggunakan Pasal 407 KUHP tentang perusakan terhadap barang.

Akibat jebolnya bendungan tersebut, pasokan air kepada 12 hektare lahan pertanian di Desa Celep dan Desa Pengkok menjadi tersendat. Data luasan lahan pertanian yang mengandalkan pasokan air dari DI Semodinan tersebut tertuang dalam patok yang dipasang Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) https://soloraya.solopos.com/read/20190402/491/982233/permintaan-petani-soal-bantuan-pupuk-organik-bupati-sragen-jawab-apbd-tak-cukup" title="Permintaan Petani Soal Bantuan Pupuk Organik, Bupati Sragen Jawab APBD Tak Cukup">Sragen di lokasi.

“Setelah bendung itu jebol, cadangan air di bendung menjadi lebih banyak yang terbuang ke sungai. Otomatis air yang mengalir ke persawahan berkurang,” ucap Suyadi.

Menanggapi hal itu, Pejabat (Pj) Kepala Desa (Kades) Celep, Okta Andrianto, mengaku sudah meminta konfirmasi perangkat desa yang memerintahkan mengurangi debit air Kali Gede. Dia membenarkan pengurangan debit air itu bertujuan melancarkan proses pembangunan talut oleh Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).

“Saya sudah meminta keterangan dari yang bersangkutan [perangkat desa]. Menurutnya, kegiatan itu sudah mendapat izin dari mantri tani dan petani. Kabarnya setelah lima hari, bendung itu akan dikembalikan seperti sediakala,” terang Okta.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten