Warga bergotong royong membersihkan material longsor di Desa Rahtawu, Kudus, Jateng (14/3/2017). Longsor yang terjadi Senin (13/3/2017) malam akibat intensitas hujan yang tinggi tersebut mengakibatkan tebing setinggi 10 meter longsor dan menutup akses jalan desa setempat. (JIBI/solopos/Antara/Yusuf Nugroho)

Bencana alam tanah longsor memutus akses menuju Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jateng.

Solopos.com, KUDUS — Tanah longsor yang melanda wilayah Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng), Senin (13/3/2017), mengakibatkan akses ke desa itu terputus.

Kepala Desa Rahtawu, Sugiyono, mengatakan peristiwa tanah longsor terjadi di Dukuh Dumpuk, Desa Rahtawu, sekitar pukul 18.30 WIB. Sebelum tanah longsor, kata dia, di daerah setempat memang diguyur hujan.

Tebing setinggi belasan meter tiba-tiba mengalami longsor dan menutupi jalan satu-satunya menuju Desa Rahtawu. Warga setempat langsung melakukan kerja bakti guna menyingkirkan material tanah setebal beberapa meter yang menutup jalan.

Sebagai penerang lokasi kerja bakti itu, warga yang membawa sepeda motor menghidupkan lampu kendaraan mereka dari arah berlawanan. Puluhan warga terlibat dalam kerja bakti itu. Sekitar pukul 19.00 WIB, material longsor berhasil mereka singgkirkan dari jalan sehingga kendaraan roda dua dan empat kembali bisa melintas.

Selama musim penghujan, kata dia, warga Desa Rahtawu diminta bersiaga dengan melakukan ronda malam secara bergiliran, terlebih karena beberapa waktu lalu ditemukan retakan tanah yang mengancam sejumlah rumah warga."Dengan adanya deteksi dini, tentunya jatuhnya korban bisa dihindarkan," ujarnya.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus Bergas Catursasi Penanggungan mengungkapkan adanya informasi tanah longsor di Desa Rahtawu, namun hanya menghalangi akses jalan warga. Ia mengimbau warga untuk waspada, meskipun musim hujan mulai reda. Saat ini masuk pancaroba.

"Hanya saja, prediksinya masih terjadi hujan dengan durasi pendek, namun disertai dengan angin kencang atau petir bahkan bisa angin kencang," ujarnya.

Tanah longsor di Desa Rahtawu sudah sering terjadi, termasuk yang Februari 2011 menimpa empat rumah warga di Dukuh Wetan Kali dan Dukuh Semliro dengan kerusakan bervariasi. Saat itu hujan deras mengguyur desa tersebut. Peristiwa tanah longsor paling parah terjadi pada 2008 yang menimpa enam rumah warga di Dukuh Wetan Kali.

Berdasarkan peta rawan bencana, daerah rawan tanah longsor tersebar di 13 desa, meliputi Desa Rahtawu, Menawan, Jurang, dan Kedungsari di Kecamatan Gebog, Desa Terban di Kecamatan Jekulo, serta Desa Soco, Ternadi, Japan, Kuwukan, Puyoh, Colo, Dukuh Waringin, dan Cranggang di Kecamatan Dawe.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten