Ilustrasi layang-layang. (Freepik.com)

Solopos.com, SOLO -- Kisah tragis Layangan Putus hingga hari ini, Selasa (5/11/2019) masih menjadi trending topic di Twitter dan masih menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ada yang percaya dengan kisah tersebut dan ada pula yang tak percaya dan menganggap Layangan Putus hanya sebuah karangan.

Terlepas dari itu, Layangan Putus pertama kali ditulis oleh pemilik akun Facebook Mommi Asf. Pengunggah menceritakan soal pengkhianatan suaminya yang tergoda oleh wanita lain dan berujung perceraian. Kisahnya membuat kaum Hawa yang berkomentar di akun Mommi Asf ngelus dada alias prihatin.

Nah, jika kamu masih belum membaca kisah viral ini. Kali ini, Solopos.com akan menceritakan kembali kisah tersebut.

Layangan putus
by Mommi Asf

16.32

“Mommi aku mau Kumon habis ini.” ucap anak sulungku. Aku menatapnya sedikit tak percaya.

“Abang enggak capek sayang?”

“Enggak kok, kan aku Kumon kan? Matematika ya mommi?”

Aku tersenyum mendengarnya. Kita masih setengah perjalanan menuju rumah dari sekolah. Amir anak sulungku genap berusia 8 tahun awal bulan ini. Sekarang dia sudah duduk di kelas 2 sekolah dasar. Tahun lalu dia memang mengambil kelas bahasa Inggris dan matematika di kumon.

Namun, kami putuskan untuk berhenti mengambil subjek bahasa Inggris karena Amir lebih tertarik belajar di English First. Lembaga les bahasa asing yang menitikberatkan pada latihan percakapan menggunakan bahasa Inggris.

Baca juga: Dikaitkan dengan Layangan Putus, Ini 3 Fakta Ricky Zainal

Tak berselang lama, matematika pun harus dihentikan, sebab bertabrakan dengan jadwal sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler. Tetapi hari minggu kemarin, kudampingi dia mengerjakaan PR di buku tematik. Amir terlihat kepayahan dalam menyelesaikan soal matematika.

Padahal saat masih belajar di Kumon dia sangat lancar menjawab hitungan sederhana. Iseng aku tawarkan untuk kembali mengambil bimbingan matematika di Kumon, dengan catatan berhenti sejenak les di EF, dengan tidak mengambil term selanjutnya. Selain karena sisa waktu nya yang terbatas aku juga mengkhawatirkan biayanya.

Ternyata responnya cukup baik, terbukti dia menanyakan hal ini.

“Abang hari ini belum Kumon dulu, mommi kan belum daftar ulang, Insya Allah bulan depan ya, doain mommi ada rejeki untuk bayar les Kumonnya ya”

Baca juga: 6 Tim Kemalingan Saat GP Malaysia, Onderdil Hingga Ban Hilang

“Hmm mommi enggak punya uang ya?” pertanyaan polosnya membuat aku tersenyum. Tersirat dari ucapannya, dia mengerti kondisi keuangan kami tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya, juga ada rasa ngilu karena apa yang diucapkan Amir ada benarnya.

“Mmm sekarang belum..belum loh bukan TIDAK ada.. kalau buat belajarnya abang, mommi yakin nanti akan ada uangnya." Dia mengangguk dan kembali mengikuti lantunan murottal Ibrahim el-haq dari audio mobil.

16.55

45 menit kami berkendara akhirnya sampai dirumah. Kuparkir dengan rapi dan kumatikan mesin mobil.

“Abang mandi ya sayang.. seger-segerin badannya, istirahat sebentar, sambil siap-siap ke masjid ya. Mommi mau bangunin adek ya..”

Amir turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, sementara aku membangunkan pelan Arya yang tertidur di kursi belakang. Kukeluarkan barang barang bawaan sekolah anak-anak yang masih tertinggal di mobil seraya menggendong putra keduaku.

Baca juga: PA 212 Mau Reuni Bareng Rizieq Shihab, Netizen Usul Pakai Anggaran Lem Aibon

Disambut Abi (putra keempatku dari dalam rumah), “Mommi….” Dengan membuka kedua tanganya, ia meminta kupeluk. Aku memang mengajarkan anak-anakku setiap kali berjumpa harus saling peluk. Ya kami adalah team hugger.

Tapi kali ini di dekapanku ada Arya, sehingga aku hanya menyambut Abi dengan senyuman dan mimik bahagia.

“Adeeeek… sini sini sini” kuarahkan ia ke sofa ruang tamu, ku letakan pelan Arya yang juga mulai terjaga, kemudian ku dekap erat Abi.

“Assalamualaikum sayang…” kuhujani pipinya dengan ciuman bertubi tubi.

“Mmmmmmmhhhuuuaaahhh…. “ ia pun membalas mencium pipiku..

Arya yang sudah terbangun kupinta segera menyegarkan diri.

“Alman ngaji mba?” kutanya asisten rumah tanggaku yang sibuk merapikan tas anak-anak.

“Iya bu..” jawab nya singkat dan berusaha mengajak Abi main keluar

“Ayok Abi, main sepeda … biar mami mandi dulu ya”

18.09

Azan magrib berkumandang. Alman anak ketiga ku pulang ke rumah setengah jam yang lalu, ia bersemangat menemuiku dan memamerkan hasil tulisan Arabnya yang dinilai 90 oleh guru mengajinya. Bahagia itu sederhana.

Dia senang sekali mendapat hadiah permen dari ustadzah karena sudah berhasil menghafal surah Al Ashr.

Baca juga: Mobil Baru Dipakai Latihan Nyetir, Ringsek Tertimpa Pohon di Sragen

Amir, Arya, dan Alman berlomba meraih tanganku untuk berpamitan, bergegas menuju musala dan berlari, berlomba siapa yang lebih dulu sampai untuk menunaikan ibadah salat maghrib.

Haru bahagia menyeruak ke dadaku. Masya AllAh, bahagia itu sederhana.

Musala memang tak berjarak jauh dari rumah. Hanya terhalang satu rumah dari tempat kami tinggal. Anak-anak sudah biasa berangkat salat dan mengaji sendiri. Ini salah satu yang membuat aku terus berusaha mempertahankan rumah ini.

Lokasi musala yang sangat dekat dari rumah dan rasa kekeluargaan yang sangat erat antar tetangga ditengah keberadaan minoritas kami, menjadikanku sangat nyaman dan betah disini.

19.58

Anak-anak masih belum pulang dari musala, mereka mengerjakan salat isya di sana. Arya memang tidak pulang sedari magrib tadi, berbeda dengan kakak dan adeknya. Amir dan Alman memilih makan malam selepas magrib di rumah. Sedangkan Arya di hari Senin dan Kamis terbiasa ikut buka puasa sunnah bersama di musala.

Kulipat mukena dan sajadahku, kurapikan tempat tidur kami.

Baca juga: Tak Langganan PDAM, 79 Warga di Kota Madiun Krisis Air Bersih

Geruduk geruduk duk duk..

Langkah kaki anak anak berlomba menaiki tangga menyerbu masuk ke kamarku, “Assalamualaikum…” teriak mereka hampir bersamaan. Masing masing antri memelukku.

“Mommi tadi makannya pakai sateeee” laporan Arya.

“Hooo abang Arya tadi gak pulang setelah magrib makan di mushola toh?” aku pura pura tidak tahu

“Iyaa ini kan Senin."

“Hooo iya ya hehe.. Mommi enggak dibawain sate nih?” ucapku menggoda nya

“Weeee enggak boleeh.. kalau mau mommi ke musala aja besok-besok,” aku hanya tersenyum mendengarnya.

Kupinta mereka segera berganti baju, bersikat gigi dan pipis. Kutanya mereka apakah ada tugas sekolah atau tidak. Kompak semua menjawab tidak ada.

Baca juga: Loh! Menkominfo Baru Tahu Gangguan Internet Telkomsel

Jadi kami habiskan malam itu dengan bermain di kasur, mencoba jurus asal-asalan ala Boboiboi, kartun kesukaan mereka yang berasal dari negeri seberang. Hingga waktunya tidur tiba, pukul 21.00.

Tak jarang waktu tidur akan tiba lebih awal kalau salah satu diantara mereka mengalami ‘kecelakaan’ dalam bercanda. Signal kecelakaan muncul jika salah satu atau dua atau tiga atau bahkan keempatnya menangis.

22.54

Kupandangi wajah mereka satu satu, terlelap dalam ketenangan malam. Kuciumi mereka dan terus kubisiki kata maaf. Kuusap rambut mereka perlahan, kembali kata maaf yang terucap untuk mereka.

Aku, 32 tahun, perantauan dari pelosok daerah. Hidup di Bali sudah 14 tahun. Aku menjalani Pendidikan Dokter Hewan di Universitas Negeri Udayana tahun 2004. Pulang kampung 2011 hanya untuk menikah, kemudian kembali ke Bali karena suamiku bekerja di sini.

Suamiku, yang kini sudah resmi menjadi mantan. Perbedaan umur 7 tahun bukan jaminan sebuah hubungan akan berjalan tanpa hambatan.

Aku resmi menjadi janda setelah delapan tahun pernikahan. Walau aku sudah menemaninya dari tahun 2005. Total aku mengenalnya adalah 14 tahun. Pernikahan kami menghasilkan lima orang anak. Anak bungsuku meninggal saat kulahirkan 4 bulan lalu.

Istigfar, tak lepas dari bibir dan hatiku, kupandangi terus wajah anak-anakku, Aku ucapkan maaf di sela-sela istigfarku.

“Maafin mommi ya nak, semua tidak akan mudah seperti dulu, kita belum bisa liburan, kemping bersama, membuat api unggun, membakar kayu.. untuk sekarang.. tapi Allah pasti beri jalan.. pasti kalau kita mau bersabar kita akan liburan kemanapun abang mau..” lirih kubisikan ke telinga Amir, kuciumi pelan pipinya

“Arya anak sholeh, hari Kamis puasa sunnah beneran ya nak, Insya Allah robot yang Arya mau akan ada jalanya nanti kita beli, semangat hapalan Quran ya sayang.. mommi minta maaf belum bisa beli mainanya sekarang ya,” kusapu lembut pipinya yang basah terkena airmataku

Tak terasa aku menangis..

Baca juga: HUT Persis Solo Dirayakan di 4 Titik, Ini Detail Acaranya

“Mommi minta maaaaaaaf ya adek,, adek kangen daddy Insya Allah ketemu weekend ya nak.. Doakan daddy sehat ada waktu untuk main lagi sama Alman ya” kali ini aku terisak pelan kutahan sesenggukku karena Alman merespon dengan mengubah posisinya. Aku takut membangunkanya. Teringat pertemuan terakhir mereka, Alman menangis mendengar suara mobil daddynya pergi.

Terakhir Abi, hanya pelukan yang sanggup kuberikan pada bayiku yang masih berusia 2 tahun ini. Kuciumi ubun-ubunnya. Sambil kutiup pelan dan kusematkan doa “Robbi habli minash sholihiin” berulang kali.

Istigfar berulang-ulang kali kulantunkan. Teringat SPP Salman yang belum kulunasi. Dan siang ini aku mendapat surat cinta dari PLN. Seorang petugas menaruh surat peringatan akan adanya pemutusan sementara aliran listrik bila tidak segera melakukan pembayaran. Berbagai kekhawatiran melintas dipikiran.

Seperti layangan putus, rasanya badan ini pengen oleng mengikuti kemana angin bertiup. ‘Grooook…fiuuuhhh…ggrrkkk…fuuuuh..’ suara dengkuran abang Amir membuyarkan lamunanku.

‘Astagfirullah wa atubu illaih….’ Aku keraskan dzikirku, ku sadarkan diriku, ‘astagfirullah…’ ku lihat kembali malaikat malaikat mungilku satu persatu. Aku punya Allah untuk bersandar, tidaklah aku harus panik.

Daddy mereka boleh saja memutus komunikasi denganku, ibu dari anak-anaknya, bersikap acuh dan mencabut segala fasilitas dirumah ini, menghapus sopir untuk anak anak, dan tidak mau mensuport biaya hidup anak-anak, biaya pendidikan dan kesehatan. Aku punya Allah untuk bersandar. Aku punya Allah untuk meminta dan memohon.

Anak-anakku akan jadi anak bahagia yang sukses dunia dan akhirat. Kutatap wajah wajah polos mereka yang tanpa dosa, suatu saat nanti mereka akan menjadi orang-orang hebat yang menerangi dan bermanfaat orang orang disekelingnya dimana pun mereka berada.

Baca juga: Mobil Baru Dipakai Latihan Nyetir, Ringsek Tertimpa Pohon di Sragen

Aku hapus air mataku, kuteguk air putih yang memang sudah disiapkan mbakku setiap hari sebelum kami menuju tidur. Berjalan aku menuju kamar mandi dan berniat melakukan salat sunnah 2 rakaat sekadar untuk curhat dengan Allah. Tapi sebelum sampai kamar mandi langkahku terhenti melihat ponsel ku bergetar.

Ah panggilan dari nomor tak dikenal. Kulihat jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Aku memilih tidak mengangkat telepon dari nomor tak dikenal diwaktu menjelang tengah malam.

Kulanjutkan menuju kamar mandi. Kutunaikan niatku untuk salat sunnah. Berlama lama aku sujud memohon ampun, curhat kepada sang pencipta. Sajadahku basah oleh airmata.

03.10

Aku terbangun dari sajadahku, tergopoh mendatangi Abi dan mengambil botol kosong, kuisi segera dengan susu UHT yang sudah tersedia di meja samping tempat tidur.

Ku berikan ke bibir mungilnya, seketika tangisnya berhenti. Aku bersiap melanjutkan tidur, ku cari dulu ponselku karena ingin memundurkan alarm subuh. Aku ingin istirahat lebih lama karena kurasakan kepala ini masih sakit akibat menangis semalam, dan sepertinya mataku bengkak.

Baca juga: Begini Gaya Gubernur Kalteng Saat Lempar Botol Kalteng Fc Vs Persib

‘Neneeeeeeeek im coming home! C u next week di Bali! Sambut gue dengan tari hula hula. Let’s start some business. I love you’ isi pesan singkat dari nomer handphone itu.

Ternyata semalam telepon dari Dita. Sahabatku saat kuliah dulu. Dia memang mengabarkan akan kembali ke Indonesia setelah bekerja sebagai dokter hewan di Kanada selama dua tahun.

‘Alhamdulillahilladzii bini’matihi tatimmusshoolihaat’

Dita mungkin bukan jawaban dari segala permasalahanku, tapi pesan singkat nya tidak mungkin sebuah kebetulan. Allah yang Maha Baik yang mengatur segala pertemuan dan perpisahan.

Melalui pesan nya Dita membangkitkan semangatku. Bismillah, kedukaanku hari ini bukanlah akhir dunia. Dengan menyebut nama Alloh kupeluk Abi yang masih sibuk menyedot botolnya sambil terpejam. Kupasrahkan hidup dan matiku esok pada hanya kepada Alloh pemilik alam semesta.

Pengakuan 3 Istri Anggota DPR Lora Fadil: Bahagia Dipoligami


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten