Kategori: Sragen

Belum Selesai Dibangun, IGD RSUD Tangen Sragen Bakal Jadi RSD Covid-19


Solopos.com/Tri Rahayu

Solopos.com, SRAGEN — Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kabupaten Sragen, Jawa Tengah berencana memanfaatkan bangunan Instalasi Gawa Darurat (IGD) RSUD Tangen yang belum selesai dibangun sebagai rumah sakit darurat (RSD) dalam penanganan pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

Rencana pembangunan RSD tersebut sebagai antisipasi adanya outbreak atau ledakan jumlah kasus Covid-19 mengingat Sragen kembali masuk zona merah.

Rencana itu diungkapkan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Sragen yang juga Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Sragen Dedy Endriyatno saat menerima audiensi dengan pedagang di ruang transit Sekretariat Daerah (Setda) Sragen, Selasa (24/11/2020).

"Sragen sekarang masuk zona merah. Di Soloraya yang masuk zona merah hanya Sragen dan Sukoharjo. Ruang isolasi di dua RSUD Sragen penuh semua. Dari kapasitas ruang isolasi 26 bed diisi 37 orang. Ruang isolasi mandiri di Technopark Sragen juga penuh. Mulai hari ini, kami merencanakan membuka RSD dengan memanfaatkan bangunan IGD RSUD Tangen yang belum difungsikan," ujar Dedy.

Selain Lahan Milik Warga, 436 Bidang Tanah Kas Desa di Klaten juga Terdampak Tol Solo-Jogja

Dedy menyampaikan seluruh upaya itu dilakukan untuk persiapan menghadapi outbreak Covid-19. Dedy melihat kondisi Covid-19 di Sragen mengalami peningkatan signigikan yang membuat RSUD penuh sehingga dibutuhkan RSD di Tangen.

Dia berharap masyarakat sekitar RSUD Tangen bisa menerima karena tidak ada yang dikhawatirkan ketika RSUD Tangen dioperasionalkan untuk RSD. Dia mengatakan RSD itu digunakan untuk menyiapkan ruang isolasi. Dedy menyebut ruang isolasi yang disiapkan lebih dari 20 ruang.

Liga Champions: Prediksi Skor & Line Up Dynamo Kiev Vs Barcelona

"Dua RSUD di Sragen Kota dan Gemolong itu juga berada di lingkungan permukiman juga tidak masalah. Artinya tidak ada kasus Covid-19 di lingkungan sekitar RSUD. Maka di Tangen pun masyarakat seharusnya tidak masalah. Untuk kebutuhan bed sudah siap semua. Kebutuhan sumber daya manusia (SDM) diambilkan dari puskesmas dan ada yang rekrutmen baru," ujar Dedy saat dihubungi Solopos.com, Selasa sore.

Perlengkapan

Untuk perlengkapan peralatan, ujar Dedy, juga disiapkan dan bisa diambilkan dari dana belanja tak terduga (BTT) Covid-19. Dedy tetap akan mengajak bicara masyarakat sekitar terkait rencana pemanfaatan RSUD Tangen Sragen itu.

Mereka dipahamkan dan diedukasi untuk bersama-sama menanganani Covid-19. Dedy menginginkan persiapan RSD itu secepatnya tetapi maksimal sepekan harus sudah operasional.

"Termasuk persiapan tamabhan ruang isolasi di RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen juga secepatnya. Kalau perlu dipacu sampai lembur ya lakukan supaya cepat. Perkembangan kasus Covid-19 antara yang sembuh dan yang terkonfirmasi sudah tidak seimbang, yang sembuh lima orang tetapi yang terkonfirmasi 30 orang," ujarnya.

Selain itu, Dedy juga mengoptimalkan laboratorium kesehatan daerah (Labkesda) dengan membuka pelayanan 24 jam. Dia mengatakan risiko penambahan SDM bisa diambilkan dari puskesmas dan rekrutmen baru.

Dia mengungkapkan Sragen masuk zona merah itu sudah beberapa hari lalu saat terjadi peningkatkan kasus 53 orang dan terakhir 55 orang.

"Belum lagi hasil rapid test anggota KPPS [Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara], dari yang reaktif sekitar 353 orang itu ternyata 60-an orang di antaranya tidak mau dilakukan swab test. Ini jadi persoalan sehingga tanggung jawab diserahkan kepada Satgas kecamatan dan satgas desa supaya mereka melakukan isolasi mandiri," jelasnya.

Dia berpesan kepada masyarakat kalau tidak mau di-rapid test atau swab test maka jangan abaikan protokol kesehatan. Dia meminta masyarakat taati protokol kesehatan dengan ketat dan pastikan diri sendiri menjadi contoh untuk melakukan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen dr. Hargiyanto menyebut pada Senin (23/11/2020) terjadi penambahan 30 orang terkonfirmasi positif Covid-19 dan satu orang di antaranya meninggal dunia dengan inisial N, 66, asal wilayah Desa Bumiaji, Gondang, Sragen. Sedangkan jumlah pasien yang sembuh, sebut dia, hanya lima orang.

Penambahan kasus itu terjadi di wilayah Kecamatan Miri, Sidohajro, Sragen Kota, Gondang, Plupuh, Masaran, Karangmalang, Kalijambe, Gemolong, dan Tanon.

Share
Dipublikasikan oleh
Ginanjar Saputra