Sejumlah siswa menunggu jemputan ojol di kursi titik jemput yang disediakan Gojek sebagai wujud kerjasama Gojek dengan SMPN 1 Sragen, Jumat (24/1/2020). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Ratusan pelajar SMPN 1 Sragen menjadikan ojek online (ojol) sebagai sarana angkutan untuk berangkat dan pulang ke sekolah. Mereka menjadikan ojol sebagai alternatif angkutan umum.

SMPN 1 Sragen memang sudah setahunan terakhir bekerja sama dengan penyedia jasa ojek online atau ojol Gojek untuk antar-jemput siswa saat berangkat dan pulang sekolah.

Pelayanan ojol itu dilakukan sekolah sebagai pengganti angkutan umum mengingat anak-anak SMP belum boleh mengendarai motor sendiri.

Kepala SMPN 1 Sragen Wiyono saat ditemui Solopos.com di sekolahnya, Jumat (24/1/2020), menyampaikan ada 268 siswa atau 40% dari total siswa sebanyak 670 orang di SMP itu menjadi pelanggan ojol.

Dia mengatakan setiap jam pulang banyak siswa yang mengantre menunggu ojol, khususnya Gojek, untuk mengantar pulang. Karena banyaknya permintaan siswa pengguna ojol lewat aplikasi, Gojek sampai menyediakan titik jemput (pick up point) yang terdeteksi pada aplikasi.

Catat! Jadwal Pemadaman Listrik Kota Solo Jumat (24/1/2020)

"Awalnya titik jemput itu di luar beserta fasilitas tempat duduk. Tapi karena khawatir rusak kena hujan, akhirnya kami geser ke teras sekolah,” ujar Wiyono.

Saat jemput siswa, kata dia, para mitra Gojek sudah menunggu di luar sekolah dan mereka berkomunikasi lewat ponsel. Wiyono tidak melarang siswa membawa ponsel dengan tujuan memudahkan komunikasi saat pulang sekolah dan sebagai sarana pendukung pembelajaran.

Menurut dia, kerja sama SMPN 1 Sragen dan Gojek itu dilakukan sejak Mei 2019. “Dari Gojek pernah membuat lomba kelas tentang jumlah pelanggan Gojek terbanyak. Kebetulan juaranya Kelas VI-D, VII-B, dan IX-D,” ujarnya.

Wiyono mengatakan fasilitas ini sangat membantu orang tua dan Satuan Lalu Lintas (Satlantas) serta sekolah sebagai solusi belum bolehnya siswa SMP naik motor ke sekolah.

Jarak rumah siswa yang langganan Gojek itu terhitung jauh dan tidak memungkinkan naik sepeda angin. Ada siswa yang dari Ngrampal, Kedawung, Gondang, Masaran, dan Pilangsari.

Seorang siswi Kelas IX-C, Stevany Amelia Putri, biasanya menggunakan pelayanan ojol saat Senin dan Jumat ketika orang tuanya tidak bisa menjemput. Stevany merupakan putri seorang polisi di Polres Ngawi sehingga saat tidak ada yang antar-jemput, Stevany memilih untuk menggunakan ojol.

“Rumah saya Kebonromo, Ngrampal. Sekali antar biayanya Rp17.000. Jadi kalau berangkat dan pulang sekolah bisa Rp34.000. Soalnya kadang pulangnya sore sehingga tidak memungkinkan naik angkutan umum. Apalagi naik motor tidak boleh,” katanya.

Karyawan Huawei Indonesia Asal China Diduga Terjangkit Virus Corona, Gedung BRI Diisolasi

Gemilang Guna Saksi, siswa kelas VIII, mengaku dalam sepekan bisa sampai empat kali menggunakan fasilitas ojol, khususnya saat pulang sekolah. Gemilang yang juga Ketua OSIS SMPN 1 Sragen tinggal di Ngepos, Jetak, Sidoharjo, Sragen.

Sekali jalan dari rumah ke sekolah, ujar dia, harus membayar Rp9.000. “Dalam sepekan ya bisa dipastikan habis Rp36.000 untuk bayar ojol. Karena memang tidak ada yang jemput. Orang tua bekerja di Wonogiri. Saat ada banyak kegiatan OSIS, kadang pulang sampai malam. Jadi fasilitas ojol itu lebih bermanfaat dan jadi solusi bagi siswa yang tidak boleh naik motor,” terangnya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten