Belanja Makin Asyik Pakai Koin Gerabah di Pasar Pinggul Klaten

Pasar ini hanya digelar sekali dalam selapan (35 hari), yakni Minggu Legi dengan jam buka relatif singkat, mulai pukul 05.30 WIB-10.00 WIB.

 Pedagang menyiapkan dagangan di Pasar Pinggul Melikan, Wedi, Klaten. (Istimewa/Pendamping PKH Melikan)

SOLOPOS.COM - Pedagang menyiapkan dagangan di Pasar Pinggul Melikan, Wedi, Klaten. (Istimewa/Pendamping PKH Melikan)

Banner Wisata Joglosemar

Solopos.com, KLATEN — Nama pasar yang satu ini, Peken Pinggul alias Pasar Pinggul. Dinamakan demikian karena lokasinya di pinggir tanggul (pinggul) di Kali Ujung, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Pasar Pinggul berbeda dengan pasar tradisional lainnya. Pasar ini hanya digelar sekali dalam selapan (35 hari), yakni Minggu Legi. Jam buka pasar juga relatif singkat, mulai pukul 05.30 WIB-10.00 WIB. Para pedagang pun mengenakan pakaian adat Jawa saat menjajakan dagangannya.

Jenis jajanan yang dijual merupakan makanan zaman dahulu/tradisional seperti pecel gendar, gatot, tiwul, sawut, dan makanan lainnya.

Baca juga: Buka 35 Hari Sekali, Jual Beli di Peken Pinggul Melikan Klaten Tidak Pakai Uang

Cara menyantap makanan pun ramah lingkungan dan cenderung jadul, yaitu menggunakan daun jati. Dengan cara seperti itu, dapat mengurangi sampah plastik yang marak di era modern.

Di kompleks Pasar Pinggul, terdapat juga pedagang yang menjajakan mainan pasaran untuk anak-anak terbuat dari gerabah. Uniknya, alat pembayaran yang sah bukan uang rupiah melainkan koin gerabah senilai Rp2.000. Guna memperoleh koin gerabah itu, pengunjung harus menukarkan uang rupiah dengan uang gerabah di lokasi yang sudah disiapkan pengelola pasar.

Sentra Gerabah

Pemilihan gerabah ini tak asal-asalan. Koin gerabah menjadi bagian mempromosikan Desa Melikan yang dikenal sebagai sentra gerabah. Dengan cara seperti itu, Melikan sebagai sentra gerabah akan semakin dikenal masyarakat luas.

Pengunjung memadati jalan di pinggir Kali Ujung, Dukuh Bayat, Desa Belikan, Wedi, Klaten, saat digelar Peken Pinggul Melikan, MInggu (1/3/2020). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
Pengunjung memadati jalan di pinggir Kali Ujung, Dukuh Bayat, Desa Belikan, Wedi, Klaten, saat digelar Peken Pinggul Melikan, MInggu (1/3/2020). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Agar suasana pasar semakin meriah, terkadang pengelola menghadirkan potensi seni dan budaya lokal di kompleks pasar setempat, seperti festival cokekan, gejok lesung, dan lainnya.

Pasar Pinggul berdiri sekitar Maret 2019. Semula, Pasar Pinggul ditujukan memberdayakan masyarakat yang tergolong Keluarga Penerima Manfaat Program Keluarga Harapan (KPM PKH) di Melikan, Wedi. Di lokasi tersebut masih terdapat 250 KPM PKH.

Baca juga: Intip Keunikan Pasar Jadul Ciplukan Karanganyar, Pakai Ketip Buat Transaksi Jual Beli

Hasil diskusi singkat antara KPM dengan PKH disepakati bakal melakukan pemberdayaan masyarakat dengan memunculkan jajanan tradisional. Dari pembahasan itu, muncul ide menggabungkan jajanan tradisional dengan suasana tempo dulu sehingga diperoleh suasana jadul. Maka dipilihlah suasana di pinggir tanggul alias pinggul.

Semula, pedagang yang berjualan di Pasar Pinggul mencapai 40-an orang (40-an lapak). Seiring berjalannya waktu, jumlah tersebut meningkat hingga 60 orang. Bahkan terkadang lebih. Para pembeli/pengunjung tak hanya dari Klaten, tapi juga berasal dari luar Klaten.

“Maret 2020, Pasar Pinggul genap berusia satu tahun. Setelah dirayakan itu, muncul pandemi Covid-19. Jadi harus ditutup sementara. Di akhir 2020, sempat dibuka 2-3 kali. Setelah itu ditutup lagi karena Covid-19 di Klaten masih tinggi. Sampai sekarang, Pasar Pinggul ditutup sementara hingga virus coronanya hilang terlebih dahulu,” kata Pendamping PKH Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Dany Utama, 37, kepada Solopos.com, Sabtu (3/7/2021).

Mendongkrak Ekonomi Warga

Koordinator Pendamping Kabupaten PKH Klaten, Theo Markis, mengapresiaai kreativitas dan inovasi yang telah dilakukan pendamping PKH Melikan dengan menggelar pasar berkonsep tradisional dengan jajanan dan alat tukar-menukar yang unik. Hal itu baru kali pertama terjadi di Kabupaten Bersinar.

“Diharapkan dengan dukungan semua pihak, Pasar Pinggul Melikan mampu memberikan daya dongkrak ekonomi buat warga sekitar. Khususnya KPM yang terlibat sebagai panitia sehingga graduasi KPM dapat terwujud,” katanya.

pasar wisata unik soloraya
Salah satu menu makanan tradisional yang dijajakan di Pasar Pinggul, Desa Melikan, Wedi, Klaten. (Istimewa/Pendamping PKH Melikan)

Theo Markis meyakini Pasar Pinggul sudah berkembang pesat jika tak ada pandemi Covid-19. Pasar Pinggul dinilai memiliki daya tarik sebagai wisata baru yang unik dan menarik guna mendongkrak perekonomian rakyat di Klaten.

Baca juga: Punya Wedang Gemblung hingga Sega Ketingan, Pasar Bahulak Sragen Siap-Siap Go Nusantara

“Kalau tak ada Covid-19, saya yakin pasar itu akan booming. Dari Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten dan Dinas Perdagangan dan Usaha Mikro Kecil Menengah (Disdagkop) dan UKM Klaten sudah berkomitmen menjadikan Pasar Pinggul menjadi lebih baik. Bupati Klaten akan meresmikan pasar itu. Tiba-tiba, muncul pandemi Covid-19,” katanya.

Salah seorang Kepala Dusun (Kadus) di Melikan, Kecamatan Wedi, yakni Jaka Purwana, mengatakan Pasar Pinggul terpaksa ditutup sementara selama pandemi Covid-19. Hal itu guna mendukung pencegahan persebaran Covid-19.

“Selama pandemi Covid-19, Pasar Pinggul sudah lama tidak dibuka,” katanya.


Berita Terkait

Berita Terkini

Girpasang, Pesona Kampung Terisolir di Lereng Merapi

Kampung terisolasi di lereng Gunung Merapi, Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, menjadi magnet orang-orang karena panorama alam dipadu kearifan lokal.

Glamour Camping di Lawu Park Tawangmangu, Cara Kemah Semewah Hotel

The Lawu Park memiliki fasilitas glamour camping untuk para wisatawan yang ingin berkemah di alam namun tetap mewah dan tak perlu repot.

Mengintip Koleksi Jarik Waldjinah di Museum Batik Walang Kekek Solo

Koleksi kain jarik milik maestro keroncong Waldjinah yang indah dapat dilihat di Museum Batik Walang Kekek di Solo.

Eksotis & Elegan, Museum Tumurun di Solo Suguhkan Masterpiece Seniman Top Indonesia

Keberadaan Museum Tumurun menjadi penanda bangkitnya seni rupa di Kota Solo, Jawa Tengah,

Menengok Industri Batik di Kampung Batik Semarang, Lokasinya di Dekat Kota Lama

Kota Semarang memiliki kampung batik di Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur, dengan pengrajin batik yang mulai tumbuh.

Penampakan Kafe Jamu Nguter Sukoharjo, Tempat Nongkrong Cozy Dengan Minuman Menyehatkan

Kafe Jamu Nguter di dekat Pasar Nguter Sukoharjo menawarkan minuman tradisional yang menyehatkan dengan tempat yang cozy dan modern.

Sajikan Rasa Dan Nama Kekinian, Kafe Jamu Nguter Sukoharjo Digandrungi Milenial

Kafe Jamu di Kecamatan Nguter, Sukoharjo, menyediakan aneka minuman jamu dengan rasa dan nama unik serta kekinian guna menarik kaum milenial.

Perjalanan Industri Jamu Nguter Sukoharjo, Dari Jamu Gendong Hingga Kafe

Industri jamu Nguter, Sukoharjo, telah melewati perjalanan panjang mulai dari produksi dengan pemasaran menggunakan jamu gendong hingga kafe.

Uniknya Kerajinan Limbah Organik, Suvenir Khas Desa Wisata Kandri

Ada berbagai kegiatan ekonomi kreatif warga di Desa Wisata Kandri, Gunungpati, Semarang seperti pembuatan kuliner hingga beragam kerajinan.

Di Kali Pusur Klaten, River Tubing Bisa Bayar Pakai Sampah

River tubing atau susur sungai di Kali Pusur, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten bisa dilakukan hanya dengan membayar menggunakan sampah.

Dari Polanharjo hingga Tulung, Ini Deretan Wisata Air Alami di Klaten

Kecamatan Polanharjo di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah bisa disebut sebagai gudangnya wisata air yang memanfaatkan sumber mata air alami.

Menjelajah Jejak Peradaban Hindu-Budha di Dataran Tinggi Boyolali

Menjelajah jejak peradaban Hindu-Budha di dataran tinggi Boyolali.

Menarik, Belanja Bisa Lanjut Wisata Tubbing dan Petik Buah di Pasar Ciplukan Karanganyar

Belanja bisa melanjutkan wisata tubbing dan petik buah di Pasar Ciplukan Karanganyar

Asa Seribuan Pembatik di Desa Wisata Batik Girilayu Karanganyar Dongkrak Perekonomian

Harapannya pemerintah memberikan perhatian dan minat khusus sehingga Desa Wisata Batik Girilayu bisa meningkatkan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan.

Kisah Perjalanan Batik Girilayu Hingga Jadi Produk Khas Karanganyar

Kampung Batik Girilayu berbenah perlahan setelah tumbuh pengusaha baru batik, dimulai dari pembentukan kelompok.

Belanja Makin Asyik Pakai Koin Gerabah di Pasar Pinggul Klaten

Pasar ini hanya digelar sekali dalam selapan (35 hari), yakni Minggu Legi dengan jam buka relatif singkat, mulai pukul 05.30 WIB-10.00 WIB.