Ilustrasi aktivitas di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sukoharjo terus berupaya menekan volume sampah buangan masyarakat ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mojorejo di Kecamatan Bendosari.

Salah satu upaya tersebut yakni memaksimalkan pengolahan sampah di tiap-tiap desa/kelurahan. Pemkab menargetkan bisa menekan volumen sampah buangan masyarakat hingga 30 ton atau dari 130 ton menjadi 100 ton per harinya.

Volume sampah 130 ton per hari ini adalah untuk har-hari biasa.. Sedangkan saat momentum Ramadan, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru volumen sampah tersebut bisa meningkat lagi sebanyak 30 ton atau menjadi 160 ton per hari.

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo Agus Suprapto mengatakan dari tahun ke tahun volume sampah buangan masyarakat di TPA Mojorejo terus meningkat mencapai lima hingga 10 persen. Sampah ini merupakan buangan dari warga, industri, kantor pemerintahan, sekolah, dan lainnya.

"Data terakhir sampah yang dibuang mencapai 130 ton per hari. Itu sampah yang masuk ke TPA Mojorejo dan akan meningkat saat Puasa, Lebaran, Natal, dan Tahun Baru mencapai 150 ton-160 ton per harinya," kata dia, Minggu (10/3/2019).

Dia ingin volume sampah yang masuk ke TPA Mojorejo bisa ditekan hingga menjadi 100 ton per hari. Pengurangan sampah ini dilakukan dengan mememaksimalkan pengelolaan sampah di tingkat desa dan kelurahan.

Saat ini banyak desa dan kelurahan sudah mengelola sampah secara mandiri, meski tidak diperinci lebih lanjut berapa jumlah yang mengelola. Hal ini diharapkan mampu menekan sampah buangan masyarakat masuk ke TPA Mojorejo.

"Sampah bisa dikelola desa dan kelurahan sehingga buangan ke TPA Mojorejo tidak banyak. Dengan pengelolaan itu desa dan kelurahan juga bisa memiliki pendapatan sendiri," lanjutnya.

Sosialisasi pengelolaan sampah di desa dan kelurahan terus digenjot pemkab. Targetnya seluruh desa dan kelurahan mampu mengelola sampah secara mandiri. Dalam pengelolaan sampah di tingkat desa dan kelurahan diharapkan juga melibatkan warga dan lingkungan setempat. Artinya ada pemberdayaan dan penyadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

DLH Sukoharjo dalam mengurai masalah sampah tidak sebatas melakukan pengangkutan dan pembuangan saja. Namun juga menekankan kepada masyarakat untuk melakukan pengelolaan bersama. Artinya sampah hasil buangan tidak harus dibuang semua namun dapat dimanfaatkan.

Pengelolaan sampah dilakukan DLH Sukoharjo dengan melibatkan masyarakat membentuk bank sampah di sejumlah wilayah. Keberadaannya sangat penting tidak hanya mampu mengurangi volume sampah buangan namun juga memberdayakan masyarakat untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

“Misal sampah plastik dan kertas yang tadinya dibuang begitu saja maka dapat dikelola untuk dimanfaatkan atau dijual kembali sehingga pemanfaatan bank sampah itu ada di mana pengelolanya bisa mendapatkan uang hasil penjualan,” lanjutnya.

Mandor TPA Mojorejo, Parno, mengatakan berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi persoalan sampah di TPA tersebut di antaranya pemanfaatan sampah menjadi gas metana sekaligus kompensasi bagi masyarakat yang ada di sekitar TPA. Mereka terdampak langsung dengan keberadaan TPA tersebut.

Upaya lain guna mengatasi persoalan sampah juga dilakukan Pemkab melalui penghijauan di lokasi TPA Mojorejo. Penghijauan ini mampu menekan dampak penyebaran lalat ke rumah-rumah penduduk.

Sedangkan untuk mengatasi persoalan bau dari sampah, pemkab melakukan sistem sanitary landfill. Sanitary landfill adalah sistem pengelolaan pemusnahan sampah dengan cara membuang dan menumpuk sampah di lokasi cekung, memadatkannya, dan kemudian menimbunnya dengan tanah.

Hal ini yang dilakukan dalam pengelolaan sampah di TPA Mojorejo yakni dengan menimbun sampah. "Di sini kalau sampah sudah menumbuk lima meter ditimbun dengan tanah dan ini mampu mengurangi dampak bau ke masyarakat," katanya.



Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten