Begini Strategi Mbak Yuni Bangkitkan Korban PHK di Masa Pandemi
Kusdinar Untung Yuni menerima telepon dari koleganya setelah hasil hitung cepat menunjukkan keunggulan pasangan Yuni-Dedy, Rabu (9/12/2015) (Mariyana Ricky/JIBI/Solopos)

Solopos.com, SRAGEN — Lebih dari 1.000 warga Sragen menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) selama terjadi Pandemi Covid-19 sejak pertengahan Maret lalu. Sebagai Calon Bupati, Mbak Kusdinar Untung Yuni Sukowati memiliki sejumlah strategi untuk membangkitkan taraf hidup para korban PHK di Bumi Sukowati.

Jika terpilih kembali sebagai Bupati Sragen periode berikutnya, sejumlah strategi yang disiapkan Mbak Yuni antara lain memberikan bantuan permodalan sebagai stimulan kepada para korban PHK tersebut. Dalam hal ini, Mbak Yuni bakal menganggarkan Rp10 miliar/tahun yang bisa diakses sebagai modal usaha para korban PHK tersebut.

“Pemerintah perlu hadir memberi solusi atas masalah yang dihadapi warga, terutama para korban PHK. Kami akan beri pelatihan supaya mereka mau berwira usaha. Dana stimulan Rp10 miliar/tahun bisa diakses sebagai modal usaha UMKM. Kita akan hadirkan inkubator bisnis kecil-kecilan. Kita akan bantu memasarkan produk UMKM melalui market place. Ini adalah salah satu program riil dan nyata yang harus dilaksanakan,” ujar Mbak Yuni dalam debat publik pendalaman visi dan misi calon bupati dan wakil bupati yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sragen di Gedung Sasana Manggala Sukowati, belum lama ini.

Pasien Asimtomatik Covid-19 di Technopark Sragen Tetap Bisa Nyoblos Pilkada

Kreatif dan Inovatif

Pakar ekonomi kreatif dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Atwal Arifin menyebut banyaknya korban PHK selama pandemi. Di satu sisi menghadirkan permasalahan baru bagi Pemkab Sragen. Namun, di sisi lain banyaknya korban PHK itu justru menghadirkan kreativitas untuk berwirausaha.

Salah satu masalah yang dihadapi kemudian, kata Atwal, tidak mudah mengubah pola pikir masyarakat. Yakni dari yang biasa bekerja sebagai karyawan menjadi pemilik usaha yang dituntut kreatif dan inovatif.

Anggota DPR Ini Ungkap Hikmah Pandemi Covid-19 Bagi Pelaku UMKM Tanah Air

Menanggapi hal itu, Mbak Yuni mengakui seorang karyawan tidak terbiasa dengan kreativitas dan inovasi. Ini karena mereka biasa bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang telah ditetapkan oleh pemimpin perusahaan. Bahkan mereka cukup datang ke kantor untuk bekerja dan akan mendapatkan penghasilan rutin setiap bulan.

“Kalau mau berwirausaha, korban PHK harus pandai memutar otak bagaimana caranya berinovasi. Saya sudah banyak bertemu dengan anak muda yang justru memulai bisnis di masa pandemi. Usaha-usaha baru ini mulai tumbuh dengan baik di Sragen. Kemudian usaha mereka bisa berkembang dengan baik. Industri kreatif ini yang perlu didorong terus,” papar Mbak Yuni.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom