Anak dengan HIV/AIDS (ADHA) bermain bersama aktivis peduli HIV/AIDS yang mengenakan kostum Superman di halaman Rumah ADHA Lentera Solo, Jumat (30/11/2018). (Solopos-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO–Pendiri Yayasan Lentera, Puger Mulyono, mengatakan semenjak insiden penolakan orang tua murid, 14 anak dengan HIV/AIDS (ADHA) tidak mendapatkan hak pendidikan di SD Purwotomo 79. “Anak saya semua sudah tidak boleh sekolah. Mereka ya di sini [Yayasan Lentera] hanya bermain-main dengan anak lainnya,” ujar Puger saat ditemui Solopos.com di Yayasan Lentera Solo, Kamis (7/2/2019).

Puger mengaku selalu memperoleh tindakan diskriminatif yakni warga menolak keberadaan anak-anak pengidap HIV. ”Saya dan anak-anak kebal dengan perlakuan masyarakat yang selalu memandang kami sebelah mata,” ujar Puger.

Setelah aksi penolakan orang tua/wali murid, para ADHA itu serring membolos. “Anak-anak bercerita banyak siswa yang membolos setelah insiden penolakan itu. Memang setelah insiden saya tetap menyuruh anak saya untuk tetap masuk sekolah,” ujar Puger.

Puger mengatakan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo sudah memberikan pilihan sekolah pengganti. “Sudah diberikan pilihan sekolah dari Disdik tapi belum tahu bagaimana mekanismenya,” ujar Puger.

Ia harus meredam kesedihan anak-anak yang ditolak tersebut. Salah satu caranya dengan mengajak putar-putar Kota Solo. “Saya berupaya agar anak-anak tidak sedih, baru saja saya ajak jalan jalan tadi berkeliling Kota Solo. Hanya diajak jalan-jalan mereka sudah senang,” ujarnya.

Kepala SDN Purwotomo 79, Karwi, mengakui 14 siswa tersebut tak lagi mengikuti kegiatan pembelajaran. “Tugas saya di sini hanya melayani siswa untuk bisa mendapatkan hak pendidikan. Untuk pertanyaan lainnya saya mending no comment saja,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di SD Purwotomo 79. 

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo, Etty Retnowati, berusaha   mencarikan solusi untuk anak-anak itu. “Sekolah baru tetap harus dirahasiakan, kami tidak boleh memunculkan di mana mereka akan sekolah, kasihan tidak perlu disebut. Kami menunggu laporan dulu, setelah itu baru kami cari solusinya. Anak-anak juga harus sekolah,” ujar Etty.

  

Avatar
Editor:
Syifaul

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten