Begini Prediksi Nasib Bitcoin di Tahun Depan
Ilustrasi Bitcoin. (Istimewa/Midas Letter)

Solopos.com, JAKARTA - Pamor cryptocurrency (mata uang kripto) merosot sepanjang tahun ini. Harga hampir semua cryptocurrency terkoreksi gila-gilaan dan kapitalisasi pasarnya mencapai titik terendah pada awal April 2018.

Padahal, mundur satu tahun ke belakang, 2017 adalah tahun penuh euforia untuk cryptocurrency karena kapitalisasi pasar mereka tumbuh dari sekitar US$18 miliar pada Januari 2017 menjadi US$800 miliar pada Januari 2018, seperti dilansir BitDegree.

Eskalasi ancaman regulasi, larangan pembelian mata uang kripto, penutupan bursa pertukaran cryptocurrency, serta kekhawatiran atas potensi penipuan dan peretasan menjadi beberapa alasan di balik kemerosotan cryptocurrency.

Bahkan Bitcoin (BTC), cryptocurrency yang pertama kali mengemuka dan paling populer, bergerak sempoyongan dengan mencatat penurunan sebesar 72% sepanjang tahun ini, berdasarkan data paling update yang dihimpun Coin Time Machine (lihat tabel).

Mengawali tahun 2017 di nilai sekitar US$1.000 per token, harga Bitcoin berhasil melonjak hampir 2000% hingga mendekati level US$20.000 pada tahun itu saja. Bandingkan dengan tahun 2010 ketika siapa pun hanya perlu membayar kurang dari US$1 untuk mendapatkan 1 BTC. Ajib bukan!

Namun sekonyong-konyong, harga Bitcoin kemudian memulai 2018 dengan kemerosotan sekaligus memperpanjang penurunannya dari rekor yang dicapai pada Desember 2017.

Sejumlah pengamat dan otoritas pemerintahan telah memperingatkan risiko berinvestasi dalam cryptocurrency. Pergerakan mata uang kripto dinilai akan mengalami kejatuhan karena tidak memiliki faktor yang melandasi nilainya, apalagi setelah mengalami kenaikan luar biasa.

Harga Bitcoin pun meluncur ke bawah US$10.000 untuk pertama kalinya sejak November 2017 pada pertengahan Januari, di tengah aksi jual terhadap cryptocurrency. Tak hanya Bitcoin, Ethereum dan Ripple, dua aset digital terbesar setelah Bitcoin, terus bergerak ke bawah.

Setelah beberapa kali rebound dan bergerak cukup liar, Bitcoin mampu kembali unjuk gigi dengan membukukan kenaikan tajam pada pertengahan April 2018 didorong aksi spekulatif investor.

Secara teknikal, Bitcoin bergerak dalam dua garis tren harga, tertinggi dan terendah, sepanjang tahun ini. Michael Novogratz, pendiri manajemen aset mata uang kripto Galaxy Digital Capital Management, mengatakan harga terbawah untuk mata uang kripto sudah tercapai sehingga Bitcoin berpeluang untuk kembali gemilang.

“Bitcoin telah mengalami spekulasi klasik global sepanjang 2016—2017, tetapi sekarang sudah terus menurun karena pasar mulai kelelahan dalam mempertahankan perdagangan koin digital itu,” kata Novogratz pada September.

Novogratz yang juga mantan pengelola hedge fund makro menerangkan bahwa mata uang kripto termasuk Bitcoin dan Ethereum telah diperdagangkan dengan tren penurunan harga yang cukup tajam karena terpengaruh masalah regulasi di sejumlah negara.

Kendati demikian, pada Oktober, analisis teknikal dari Divergence Analysis (DVAN) mengatakan Bitcoin akan melanjutkan tren pelemahannya untuk jangka panjang. Indikator dasarnya, yang melayang di atas garis algoritmanya, tidak menunjukkan adanya masa depan positif bagi pergerakan harga Bitcoin.

Harga Bitcoin pun memperpanjang pelemahannya pada November hingga anjlok ke bawah level US$4.000. Meski pelaku pasar yang berpandangan bullish berspekulasi bahwa permintaan dari investor institusional akan memicu reli harga, sebagian besar investor masih tetap bersikap wait and see di tengah kekhawatiran atas keamanan bursa pertukaran, manipulasi pasar, dan risiko peraturan.

Kepala perdagangan Asia Pasifik OANDA Stephen Innes mengatakan bahwa meskipun sudah mengalami penurunan tajam, masih belum ada tanda bahwa harga cryptocurrency akan mencapai titik terbawahnya.

"Masih banyak orang yang bermain di pasar cryptocurrency, masih terbuka kesempatan untuk turun ke US$3.000 per Bitcoin, tapi banyak [juga] orang yang akan keluar," kata Innes, dikutip dari Bloomberg.

Innes memproyeksikan harga Bitcoin bisa diperdagangkan di kisaran antara US$3.500 - US$6.500 dalam jangka pendek dengan potensi pelemahan lebih jauh ke US$2.500 pada Januari 2019.

Bitcoin lalu kembali membukukan penurunan harga bulanan terburuknya dalam tujuh tahun terakhir pada November 2018, ketika banyak investor kembali melakukan evaluasi prospek euforia perdagangan mata uang kripto pada tahun depan. Harga mata uang kripto lainnya, seperti Ether dan Ripple (XRP) juga memperpanjang catatan penurunan harganya.

Namun, setelah setelah mengalami kemerosotan harga dalam jangka waktu yang cukup panjang, para peminat mata uang kripto dapat sedikit bernapas lega menyusul rebound cryptocurrency seperti Bitcoin, Ether, dan Litecoin pada Desember.

Direktur dan Pendiri GlobalBlock David Thomas mengatakan bahwa sudah terjadi lonjakan harga dengan harga seluruh mata uang kripto utama mengalami kenaikan.

“Harus ada kenaikan harga yang solid untuk menunjukkan bahwa kekacauan pada harga cryptocurrency sudah berakhir. Setelah ada pergerakan negatif yang cukup besar tahun ini, saat ini datang titik ketika investor melihat nilainya dan kembali ke pasar sehingga membuat harga kembali pulih,” terang Thomas.


Berikut 10 cryptocurrency berkinerja terbaik sepanjang tahun berjalan 2018 (per 27 Desember 2018.

Jadi, dapatkah Bitcoin kembali mendominasi di antara cryptocurrency pada tahun 2019? Menurut sejumlah analis, jawabannya adalah "ya". Mereka meyakini bahwa Bitcoin akan kembali meraih dominasi pasar dan mengangkat pamor cryptocurrency pada umumnya tahun depan.

Laporan perusahaan manajemen konsultasi global A.T. Kearney yang belum lama dipublikasikan menjelaskan bahwa pada akhir 2019, Bitcoin akan mendapatkan kembali hampir dua pertiga dari kapitalisasi pasar cryptocurrency seiring dengan tergerusnya daya tarik altcoin (alternative coin) akibat penghindaran risiko yang meningkat di kalangan investor cryptocurrency.

“Di lingkup luas, regulator keuangan akan melunakkan sikap mereka terhadap sektor ini. Prediksi kami, Bitcoin akan mendapatkan kembali dominasinya didukung oleh kompleksitas yang terus tumbuh di antara altcoin,” jelas laporan tersebut, seperti dilansir dari Blockonomi.

Perbedaan tambahan dan kurangnya konsensus di antara pengembang tentang jalur maju lebih lanjut dinilai akan memperluas jurang antara bitcoin sebagai cryptocurrency yang paling mudah diakses dan diakui serta kelompok altcoin.

Namun, pada saat yang sama, laporan itu juga mencatat bahwa tidak semua altcoin akan hilang. Beberapa altcoin akan bertahan dan tumbuh menjadi sesuatu bersifat eksplosif yang memiliki produk nyata serta menghasilkan pendapatan nyata dan substansial.

“Altcoin yang ganjil dan tidak memiliki nilai nyata akan menguap, sedangkan yang nyata tidak hanya akan bertahan, tetapi berkembang dari waktu ke waktu,” tambahnya.

Di sisi lain, ada pula yang memprediksikan penurunan lebih lanjut dan yang menyerah memproyeksikan pergerakan harga Bitcoin pada 2019, setelah prediksi yang mereka kemukakan untuk Bitcoin pada 2018 meleset jauh.

Jeet Singh, seorang manajer portofolio cryptocurrency, dalam suatu kesempatan di World Economic Forum (WEF) Davos mengatakan bahwa volatilitas adalah sesuatu yang normal ketika menyangkut ruang cryptocurrency.

Menurutnya, adalah hal yang normal apabila cryptocurrency berfluktuasi sebesar 70% hingga 80%. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa volatilitas pada cryptocurrency tidak membuatnya khawatir sama sekali.

Kenyataannya, saat ini, banyak investor khawatir berinvestasi lebih lanjut ke dalam Bitcoin. Hanya jika mereka yakin volatilitas akan berakhir dan Bitcoin melanjutkan tren kenaikannya, Anda bisa melihat lebih banyak investasi dalam cryptocurrency ini.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom