Tutup Iklan
Ilustrasi penipuan (Solopos-Whisnu Paksa)

Solopos.com, SOLO -- Arisan diduga fiktif yang mengakibatkan kerugian lebih dari Rp2 miliar dengan 50-an korban di Kota Solo menggunakan sistem arisan menurun. Arisan diduga -orang-ditemukan-kebingungan-di-musala-fisip-uns-solo-korban-gendam" title="10 Orang Ditemukan Kebingungan di Musala FISIP UNS Solo, Korban Gendam?">fiktif tersebut menawarkan keuntungan jutaan rupiah yang membuat para korban tergiur.

Salah satu korban arisan diduga fiktif tersebut, WL, 24, warga Kecamatan Laweyan, Solo, saat ditemui Solopos.com di Kecamatan Laweyan, Rabu (19/6/2019), mengatakan saat ini kerugiannya mencapai Rp70 juta yang merupakan biaya pembayaran arisan bulan Juni, Juli, dan Agustus. Tanggal pencairan uang berbeda-beda sesuai kesepakatan.

“Peserta arisan bisa memilih bulan apa yang dikehendaki karena menggunakan sistem menurun. Terduga pelaku TR, warga Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, menyebarkan pesan berupa formulir pendaftaran arisan berisi bulan-bulan yang masih kosong untuk diisi. Peserta -klarifikasi-penahanan-tersangka-penggelapan-uang-bbm-rp11-miliar-di-solo" title="Pengacara Klarifikasi Penahanan Tersangka Penggelapan Uang BBM Rp1,1 Miliar di Solo">arisan ada tujuh orang setiap kelompoknya, namun bulan-bulan awal selalu sudah ada nama seseorang yang mengisi kuota,” ujar WL.

Ia mencontohkan arisan senilai Rp100 juta yang ia ikuti. Peserta ada tujuh orang di dalam sebuah grup Whatsapp yang diberi nama sesuai nominal arisan. Arisan dimulai April. Dikarenakan ada tujuh orang, terdapat tujuh daftar berurutan, pertama senilai Rp22,5 juta untuk bulan pertama atau yang menghendaki perolehan dana arisan April.

Urutan selanjutnya, yang menghendaki Mei pembayaran senilai Rp14,5juta. Bulan selanjutnya, pembayaran arisan menurun sebanyak Rp500.000 hingga bulan terakhir atau Oktober pembayaran peserta arisan hanya Rp11,5 juta.

Apabila dihitung, peserta yang memilih April akan memperoleh uang Rp100 juta namun harus membayar Rp157,5 juta. Jadi tidak ada keuntunguan apabila memilih bulan pertama. Menurut, WL peserta yang memilih bulan pertama merupakan orang yang memerlukan uang secara cepat tanpa jaminan apa pun.

Bulan selanjutnya, peserta yang membayar Rp14,5 juta masih rugi sekitar Rp1,5 juta. Bulan ketiga atau Juni akan memperoleh -pencatut-gentayangan-tawari-gerobak-motor-di-solo" title="Awas, Pencatut Gentayangan Tawari Gerobak Motor di Solo">keuntungan senilai Rp2 juta karena biaya arisan senilai Rp14 juta. Begitu pula selanjutnya hingga bulan terakhir keuntungan semakin besar.

Peserta hanya membayar Rp11,5 juta atau apabila ditotal pembayaran keseluruhan hanya Rp80,5 juta dengan perolehan Rp100 juta. Keuntungan yang hampir Rp20 juta itu menjadi daya tarik tersendiri, selain sosok teradu merupakan rekan yang sudah dikenal lama.

“Namun setiap ada arisan digelar, daftar urutan atas selalu penuh, yang kosong yang bawah saja. Saya menduga nama-nama yang sudah terisi itu fiktif agar kami tertarik. Saya pikir arisan itu dapat sebagai tabungan yang ada keuntungannya,” imbuh WL.

Ia mengaku saat pertama dibuka, arisan berjalan tertib dan tepat waktu pembayaran. Namun, lama-lama pemenang arisan harus menagih uangnya hingga akhirnya teradu menghilang. Setelah memperoleh uang arisan, pemenang arisan ditawari pembelian arisan dengan modus arisan milik seseorang senilai Rp50 juta hanya diminta pembayaran senilai Rp35 juta.

Menurutnya, arisan itu beragam nominalnya, dari Rp10 juta hingga Rp100 juta melalui Whatsapp. Saat ini perhitungannya dari kerugian lima puluhan orang korban, total kerugian saat ini sekitar Rp2,7 miliar. Tidak menutup kemungkinan masih terdapat korban-korban lain.

Sebelumnya, salah seorang korban arisan, AM, warga Kelurahan Nusukan, Banjarsari, Solo, mengadukan arisan diduga fiktif itu ke Mapolresta Solo. Ia mengaku mengalami kerugian akibat menjadi peserta arisan dan pembelian arisan yang dibuka oleh TR.

Menurutnya, TR memiliki atasan yang menggelar arisan juga. Namun, TR secara diam-diam juga menggelar arisan yang diduga fiktif itu. Ia beserta korban lainnya berusaha mencari TR untuk meminta uangnya namun hasilnya nihil.

Sementara itu, Wakasatreskrim Polresta Solo, AKP Widodo, mengatakan telah menerima aduan tersebut. Berkas aduan yang diterima sedang dipelajari.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten