Begini Menteri Desa PDTT Ihtiarkan Ubah Dunia dari Desa
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar. (Antara-Wahyu Putro A.)

Solopos.com, WONOGIRI — Mengubah dunia melalui desa pada 2030 apakah mungkin? Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Abdul Halim Iskandar, menggagas program program tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs) desa demi mewujudkan impian itu.

Gagasan Menteri Desa PDTT Abdul Halim Iskandar itu mulai disinkronisasi dengan program desa dengan menetapkan prioritas penggunaan dana desa 2021 melalui Peraturan Menteri Desa PDTT No. 13/2020. Melalui itulah Indonesia berihtiar mewujudkan impian itu.

Tenaga Ahli Pembangunan Partisipatif Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Wonogiri, Satya Graha, Senin (22/2/2021), menjelaskan SDGs desa merupakan cara untuk mewujudkan SDGs nasional yang dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 59/2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Baca Juga: Peluang Bisnis Bakso Waralaba

Cita-cita itu bagian dari rencana global untuk mengubah wajah dunia atau transforming our world pada 2030 melalui SDGs global. SDGs global adalah rencana aksi global yang disepakati para pemimpin dunia untuk mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan. SDGs global berisi 17 tujuan dan 169 target yang diharapkan dapat dicapai pada 2030.

“Mudahnya, SDGs ini kerja merumuskan tujuan bersama untuk mempercepat proses perubahan dunia yang sudah ditarget pada 2030. Dalam konteks SDGs desa, desa diyakini dapat berkontribusi mewujudkan. Bahkan, jika SDGs desa ini jalan diyakini dapat memberi sumbangsih 74% dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan nasional,” kata Satya saat ditemui di Sekretariat P3MD kawasan kota Wonogiri.

Cita-cita itu apakah realistis? Dia menilai desa memiliki peluang mewujudkannya dengan menyesuaikan potensi dan kearifan lokal.

Baca Juga: Peluang Bisnis Air Minum Isi Ulang

Desa tak mustahil menciptakan desa tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, lebih responsif terhadap gender, berwawasan lingkungan, dan target lainnya sebagaimana ingin dicapai SDGs nasional dan global.

17 Target SDGs

SDGs nasional dan global memiliki 17 target. SDGs desa tak hanya 17 target, tetapi ditambah satu target menjadi 18 target, yakni kelembagaan desa dinamis dan budaya desa adaptif. Target terakhir itu menjadi kunci sekaligus pembeda. Target tersebut dicapai dengan menyesuaikan potensi dan kearifan lokal desa. Artinya, desa dapat memilih target yang ingin dicapai.

“Ini cita-cita yang masuk akal, tapi memang butuh proses. Saat ini kami baru menyampaikan hal-hal dasar mengenai SDGs desa dulu, seperti apa itu SDGs desa dan tujuannya,” imbuh Satya.

Baca Juga: Peluang Bisnis Beanbag Nan Empuk

Meski demikian, Kementerian Desa PDTT perlahan mulai menyinkronisasi program desa untuk mewujudkan SDGs desa melalui regulasi, seperti menetapkan prioritas penggunaan dana desa 2021, mengubah ketentuan tentang rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) desa dan rencana kerja pemerintah (RKP) desa yang semuanya diarahkan pada target SGDs desa.

Wujud regulasi itu berupa Permendes yang mengatur penggunaan dana desa, pedoman umum pembangunan desa, dan ihwal badan usaha milik (BUM) desa. Dengan begitu program desa ke depan akan lebih terarah.

Desa tak perlu merasa terbebani dengan program ini, karena sejatinya program yang telah dilaksanakan selama ini bermuara pada SDGs desa. Contohnya, semua desa merealisasikan program rehab rumah tidak layak huni (RTLH), mengatasi anak stunting, dan menggenjot pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga: Jajal Peluang Bisnis Restoran Virtual

Secara tidak langsung kegiatan-kegiatan itu adalah upaya untuk mewujudkan desa tanpa kemiskinan dan tanpa kelaparan. Fungsi SDGs desa untuk memberi panduan dan lebih memfokuskan program desa ke tujuan besar ini. Satya meyakini desa tidak akan kaget dengan konsep yang ditawarkan SDGs desa.

“Toh desa bisa memilih tema yang ingin diwujudkan, seperti desa tanpa kemiskinan atau pendidikan yang berkualitas. Ini disesuaikan dengan potensi yang dimiliki. Konsep yang ditawarkan SDGs desa ini sangat bagus, tapi apa saja yang harus dilakukan desa, ini yang masih dicari formulanya,” ujar Satya.

Desa Realistis

Sementara itu, Kepala Desa Jimbar, Kecamatan Pracimantoro, Sutrisno, sependapat dengan Satya. Menurut dia cita-cita mengubah dunia melalui desa realistis selama desa di Indonesia dapat menjawab tantangan.

Baca Juga: Ini Ramalan Cinta 12 Zodiak di Bulannya Aquarius

Tantangan besarnya adalah aspek sumber daya manusia (SDM) yang meliputi pamong desa dan penduduk. Pola pikir atau mindset harus diubah agar semua pihak bersedia diajak untuk maju bersama membangun.

Ini tak mudah, tetapi bukan berarti mustahil dicapai. Mau tak mau desa harus siap menjalankan SDGs desa, karena ini syarat agar dapat mewujudkan cita-cita SDGs nasional dan global.

“Singkatnya, program ini harus direspons dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki desa. Langkah awalnya dengan mengubah pola pikir bahwa semua elemen di desa harus bergerak jika tak ingin tergerus kemajuan zaman. Kita enggak bisa hanya menunggu komando, harus tanggap dengan kondisi sekitar,” ucap Sutrisno.

Baca Juga: Sadis! Pria di Ogan Ilir Bacok 3 Orang di Jalanan…

Secara tidak sadar, lanjut dia, desa sebenarnya sudah berkontribusi mewujudkan mimpi ini, yakni dengan melaksanakan program yang berorientasi pada pembangunan manusia dan pengentasan penduduk miskin.

Jimbar memulai program ini sejak lama dengan menitikberatkan pada bidang pendidikan dan pertanian. Contohnya pelaksanaan program literasi desa, seperti menetapkan jam belajar, membuat kelompok belajar akademik, kelompok latihan seni budaya, dan lainnya.

“Kami juga sudah lama menggarap pertanian dengan menciptakan petani muda. Ini untuk menekan angka urbanisasi. Sekarang di Jimbar banyak petani muda yang bertani hortikultura,” ulas Sutrisno.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Berita Terkini Lainnya








Kolom