Kategori: Karanganyar

Begini Kronologi Terungkapnya Klaster Hajatan di Jumantono dan Kerjo Karanganyar


Solopos.com/Sri Sumi Handayani

Solopos.com, KARANGANYAR -- Klaster hajatan yang terjadi di Kecamatan Jumantono dan Kerjo Karanganyar terungkap dari seorang warga yang membantu memasak alias rewang sakit.

Orang yang membantu memasak saat hajatan itu juga dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.

Dari temuan tersebut, didapati bahwa pengantin lelaki dan keluarga penyelenggara hajatan di Kecamatan Kerjo terkonfirmasi positif Covid-19 sehingga muncul klaster hajatan.

Mantan Suami Nita Thalia Meninggal Akibat Covid-19

Selain itu di Kecamatan Jumantono, sejumlah orang yang membantu memasak pada hajatan yang diselenggarakan beberapa waktu lalu itu juga terkonfirmasi positif Covid-19.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karanganyar menyampaikan kronologi muncul klaster hajatan di dua kecamatan tersebut.

Sekretaris Dinkes Kabupaten Karanganyar, Purwati, menyampaikan sebanyak 20 orang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kecamatan Jumantono. Sedangkan di Kecamatan Kerjo sebanyak tujuh orang terkonfirmasi positif Covid-19.

32 Gempa Susulan Terjadi di Sulbar Hingga Pagi Ini

Tidak Tahu Terpapar Dimana

"Klaster hajatan di Jumantono itu ketahuan saat satu orang yang rewang [membantu memasak] sakit dan dirawat di rumah sakit. Dicek ternyata positif Covid-19. Kami tidak tahu terpapar di mana. Lalu kami lacak kontak erat ada 25 orang. Mereka orang yang rewang juga di belakang. Hasilnya 20 orang terkonfirmasi positif Covid-19," jelas Purwati saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (16/1/2021).

Peremuan berkerudung itu menjelaskan kondisi 20 orang tersebut tidak bergejala sehingga menjalani isolasi mandiri.

Kasus serupa terjadi di hajatan yang diselenggarakan di Kecamatan Kerjo. Purwati menyampaikan sebanyak tujuh orang terkonfirmasi positif Covid-19 di klaster hajatan ini.

New Normal Sragen: Belanja Nyaman dengan 3M di Supermarket

Mereka adalah pengantin lelaki dan keluarganya. Purwati menyampaikan petugas dari puskesmas setempat bermaksud mengecek orang yang membantu memasak pada hajatan tersebut, tetapi sejumlah orang menolak.

"Yang rewang tidak mau menjalani tes swab PCR Covid-19. Beberapa orang," ujar dia.

Purwati mengaku petugas tidak bisa melacak tamu yang datang saat hajatan karena jumlahnya cukup banyak. Petugas hanya bisa melacak penyelenggara hajatan, keluarga, dan orang yang membantu memasak, maupun pelayan yang terlibat di klaster hajatan ini.

Pakar: Kekebalan Tak Tercapai Jika Masih Ada yang Ragu Vaksin Covid-19

"Itulah mengapa kami mengusulkan hajatan ditunda dulu. Persebarannya masif. Kalau tamu mungkin bisa menerapkan protokol kesehatan, misal pakai masker dan jaga jarak. Kalau yang rewang di belakang kan belum tentu bisa jaga jarak. Itu kan budaya masyarakat gotong royong, tetapi bahaya untuk saat ini, pandemi Covid-19," ujar dia.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Karanganyar, Juliyatmono, mempersilakan menyelenggarakan hajatan bagi masyarakat yang sudah mengantongi surat rekomendasi. Tetapi, harus menerapkan konsep banyumili secara taat.

"Yang belum mengantongi surat rekomendasi, kalau mau menikah ya cukup akad nikah saja dulu. Tidak banyak orang dan taat protokol kesehatan," kata dia.

Share
Dipublikasikan oleh
Tika Sekar Arum