Begini Kantong Kebudayaan Bertahan Hidup di Ruang Kesenian Solo
Proses latihan Ketoprak Lengang di Rumah Banjarsari yang disiarkan via daring di kanal Youtube Rumah Banjarsari Official dan Kresna TV. (Solopos.com-Rumah Banjarsari)

 Solopos.com, SOLO — Tiga tahun terakhir sebelum pandemi Covid-19 sejumlah kantong kebudayaan terus tumbuh di Kota Solo. Bagaimana potret kantong kebudayaan bertahan hidupkan ruang kesenian Solo?

Sebut saja Bentara Budaya Solo sebagai pelaku lama, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Rumah Banjarsari dan Muara Market yang berada di wilayah Setabelan Banjarsari, Ruang Atas dan LED khusus untuk perupa muda progresif, Pakem Solo, Studio Kopi Ndaleme Eyang yang menyatu dengan warung kopi, dan beberapa lainnya. Hampir setiap hari selalu ada agenda kesenian di sejumlah titik tersebut.

Sampai akhirnya beberapa harus berjalan pelan karena sejumlah alasan, hingga vakum karena pandemi Covid-19.  Setahun pandemi sudah dilalui, namun masih banyak yang merasa ngos-ngosan bertahan di situasi ini. Kendati demikian, masih banyak yang berusaha bertahan menggelar sejumlah program meski digelar tanpa dukungan dana atau adanya pendapatan.

Baca Juga: Ini Keunggulan Bengalore Penyebab Elon Musk Bikin Pabrik Tesla di India

Salah satunya ruang publik untuk seni budaya yang tak mau menyerah dengan keadaan adalah Rumah Banjarsari. Pada awal pandemi 2020 lalu mereka sempat membuat lumbung pangan untuk para seniman yang tak ada pengasilan selama Covid-19.

Mereka beberapa kali menggelar pentas penggalangan dana, dan gelar acara daring untuk tetap menjaga semangat para seniman. Pengelola Rumah Banjarsari, Zen Zulkarnaen, beberapa waktu lalu menggandeng para seniman andalan Solo untuk memproduksi pentas Ketoprak Lengang.

Pentas berjudul Panembahan Resah ini didukung sejumlah nama besar di panggung seni peran Solo seperti Gigok Anurogo, Hanindawan, dan masih banyak lagi. Pentas yang disiarkan langsung di kanal Youtube resmi mereka dan Kresna TV ini tanpa dana produksi.

Baca Juga: Landainya Kasus Covid-19 Bikin Tesla Makin Yakin Bikin Pabrik di India

Zen menegaskan upaya tersebut mereka lakukan demi tetap menghidupkan semangat berkesenian di Solo. Memfasilitasi mereka yang rindu akan panggung. Iuran demi sebuah acara sudah jadi hal biasa di kantong kebudayaan Solo itu. Meskipun pada kondisi sekarang banyak yang tak mendapat pemasukan rutin karena minim tawaran pentas berbayar.

“Ini adalah pentas solidaritas. Sampai kapan akan kami lakukan? Ya sampai seberapa lama kami bisa bertahan [berproses tanpa dukungan anggaran dana]. Tergantung daya tahan masing-masing nanti,” terang Zen saat diwawancara Solopos.com, beberapa waktu lalu.

Bertepatan dengan perilisan film dokumenter tentang skena seni Kota Solo Silent City (2018), salah satu pegiat seni Tatuk Marbudi juga mempertanyakan kembali kelanjutan ruang kesenian yang dia bangun bersama rekan-rekannya bernama Muara Market.

Baca Juga: 7 Tanaman Ini Kata Fengsui Datangkan Hoki ke Rumah

Setelah kebakaran Pasar legi 2018 lalu Muara Market yang bermarkas di ruko dekat pasar ini sempat vakum sampai akhirnya pandemi. Padahal dulu cukup ramai jadi ruang diskusi seni mulai dari musik, film, hingga pameran lukisan.

Markas Muara Market

Markas Muara Market memang tinggal kenangan. Namun semangat pengembangan seni ruang kebudayaan yang digagas para anak muda tersebut akan tetap ada. Sekarang memang masih mati suri karena pandemi, namun Tatuk berupaya membangkitkannya kembali nanti.

Wacana kesenian anak muda Solo harus dihidupkan lagi baik secara daring maupun luring. Maret nanti dia berencana membuka diskusi soal hal tersebut. Komunitas Ruang Atas yang berpindah-pindah markas juga berdarah-darah menghadapi kondisi sekarang ini.

Baca Juga: Terampil Bungkus Kado Bisa Jadi Peluang Bisnis

Koordinator Ruang Atas Wahyu Eko mengatakan sejauh ini mereka mengandalkan diskusi daring dan kolaborasi bersama komunitas lain. Termasuk kolaborasi bersama galeri mapan di Kota Solo.

Tak ada pameran langsung, sejumlah agenda dipusatkan pada acara daring. Padahal sebelumnya mereka terkenal cukup aktif. Hampir setiap pekan menggelar pameran.

Bukan hanya menampung para perupa muda yang butuh ruang, tapi juga memantik semangat mereka dengan sejumlah diskusi soal kesenirupaan.

Baca Juga: Peluang Bisnis Tanaman Hias di Mal Terbuka

Pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Satriana Didiek Isnanta, mengatakan pentingnya kantong-kantong kebudayaan untuk pengembangan kesenian di tiap kota. Di Solo sendiri dulu pada era 1990-an hingga 2000-an banyak tumbuh kantong kesenian.

Bukan hanya sebagai etalase pameran atau pentas, tapi mereka jadi ruang diskusi hingga laboratorium kesenian. Bahkan di masa pandemi ini, keberadaan mereka masih sangat dibutuhan.

“Pameran bisa daring dan lainnya tapi proses latihan dan laboratorium kesenian tetap memerlukan kantong kebudayaan ini. Apalagi tiap komunitas pasti punya ekosistemnya masing-masing. Kalau mereka hilang, eksperimen dan ekosistemnya bisa ikut hilang,” terang Didiek, Senin (1/3/2021).

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Berita Terkini Lainnya








Kolom