Pentas Teater Lungid di TBJT Solo. (Solopos/M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SOLO – Sebagai masterpiece Teater Gapit yang kini beganti nama menjadi Lungid, Tuk, berulang kali dipentaskan. Memasuki tiga dekade, naskah Jawa yang mengusung realitas masyarakat pinggiran itu kembali dibawa ke panggung pertunjukan oleh pemain lama yang rata-rata telah melewati usia emas, Selasa (29/1/2019) dan Rabu (30/1/2019), di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) di Solo.

Tokoh teater Solo, Pelok Trisno Santosa, kembali memerankan Bismo. Perjaka tua yang selalu mengaitkan permasalahan di lingkungan magersaren dengan lakon pewayangan. Mulai dari mengibaratkan perselisihan antara Bibit [diperankan Budi Bodot] dan Soleman [diperankan seniman senior Djarot B. Darsono] sebagai perang Baratayuda, nembang Pangkur, hingga mendongeng ngelantur soal Arjuna dan Nyi Permoni dengan ilustrasi wayang.

Murwakala, lakon ruwatan iki. Batarakala ngoyak Ulamdrema, wancine candhik ala, dinane Rebo Legi, mangsa kesanga, ana pitik kecemplung sumur, apa iki sasmitane [Murwakala, lakon ruwatan ini. Batarakala sedang memburu Ulamdrema, Harinya Rabu Legi, bulan ke sembilan, ada ayam masuk sumur, pertanda apa ini],” celetuk Bismo yang langsung disaut Soleman. “Sasmita gathel!” kata Soleman emosi karena masih teringat dagangan ayam seharga Rp500.000 mati jatuh ke sumur. Bukannya tegang, penonton spontan tertawa mendengar umpatan makelar tersebut. Teater Arena yang sempat sepi karena penonton khidmat melihat pertunjukan sontak riuh dengan tawa lepas.

Masih dalam keadaan kesal, Soleman menaiki sumur yang menjadi sumber mata air kawasan magersaren lalu mengencingi. Tingkah kurang ajarnya sontak diprotes Mbah Kawit [diperankan Thing Sri Setyoasih], Bismo, dan Bibit. Mereka ramai-ramai mengutuki dengan teriakan keras.

Suasana kompleks pinggiran yang dihuni warga dengan rumah petak sempit itu memang tak pernah sepi. Setiap hari ada saja yang mereka perdebatkan. Bercakap-cakap sambil koar-koar dari dalam kamar sudah menjadi hal biasa. Apalagi saat diterpa isu penggusuran. Tanah yang mereka huni bakal dibeli konglomerat untuk digantikan bangunan modern. Semua gusar, kecuali Marto Krusuk [diperankan Max Baihaqi] yang berangan-angan dapat ganti rugi berharga mahal.

Berlangsung hampir dua jam, teater Bahasa Jawa yang diperankan para seniman senior ini mengaduk emosi. Menyuguhkan kesedihan dan tawa lepas dalam satu waktu. Para pemain menghidupkan suasana dengan dialek Bahasa Jawa pinggiran yang khas. Nyablak, suara keras, dibumbui sedikit umpatan. Perbincangan mengalir tanpa jeda. Disusul setting panggung yang terlihat natural seperti kawasan kumuh pada umumnya. Banyak coretan di tembok, fasilitas tak layak seperti ember penuh tambalan, dan WC umum dengan dinding seng berkarat.

Malam itu penonton diajak kembali nostalgia dengan era kejayaan Lungid. Pemeran tokoh sentral seperti Romly, Soleman, dan Bismo merupakan aktor pertama ketika Tuk dipentaskan. Sisanya bongkar pasang pemain.

“Kebetulan kami sering menonton pementasan dengan naskah Tuk. Kami melihat tidak puas rasanya. Kita dulu bersusah payah observasi, penelitian, mereka yang tinggal nemu naskah menafsir semaunya. Kami ingin memberikan ini loh yang kami lakukan seperti ini,” kata Pelok yang telah memerankan tokoh Bismo lebih dari 25 kali. Sang penulis naskah, Kenthut Bambang Widoyo SP, memang selalu meminta para pemain Gapit untuk melakukan observasi sebelum pentas.

Pelok ingat betul ketika kali pertama menghidupkan tokoh Bismo. Ia diminta mengikuti seorang pedagang kelontong di Siwal, Sukoharjo yang juga sering mengaitkan kehidupannya dengan wayang. Begitu juga Djarot, dan pemain lain. Karena itulah, ia merasa aktor Gapit tak pernah main-main dalam pementasan. Mereka menguasai materi, karena ditangani langsung oleh sutradara pertama. Ditambah latar belakang sebagai mahasiswa dan dosen seni Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) – sekarang Institut Seni Indonesia (ISI)- dengan markas di Sasono Mulyo.

Kendati demikian, Pelok, mengaku malam itu sedikit ngos-ngosan. Kondisi fisik yang kian menurun membuatnya tak segesit dulu. Menurutnya pentas terbaik adalah saat rekaman pada 2008. Para pemain terlihat prima dan tampil maksimal. Pada era tersebut mereka juga tampil di Teater Salihara, Jakarta, sebelum akhirnya vakum dan pentas lagi tahun ini.

Meski para senior memutuskan istirahat, teater Jawa satu-satunya yang populer di era 90-an ini tetap manggung dengan formasi personel muda setiap setahun sekali. Apalagi sejak berganti nama menjadi Lungid 13 tahun lalu. Kadang membawakan naskah sendiri, tapi tak jarang menghidupkan karya terjemahan milik orang lain.

Djarot menyebutkan beberapa naskah Lungid yang semuanya ditulis oleh Kenthut. Rata-rata menyoal realitas masyarakat dengan judul satu kata seperti Leng, Dom, Rol, dan Reh. Setelah itu regenerasi penulis naskah drama Jawa sedikit seret.

Djarot mengatakan teaternya lahir dari keinginan kuat menghidupkan Bahasa Jawa di tengah marak adaptasi gaya barat. Sekaligus menunjukkan adanya teater modern Bahasa Jawa selain pentas tradisional seperti ketoprak, maupun wayang orang. Lungid telah melahirkan nama-nama seniman berpengaruh di Solo, termasuk grup Sahita yang sempat booming hingga televisi nasional beberapa tahun terakhir.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten