Begini Dampak Badai Matahari Skala Besar yang Kembali Menyapu Bumi

Para ilmuwan memperingatkan bahwa badai matahari besar seukuran 150 tahun yang lalu bisa mengirim dunia kembali ke zaman kegelapan. Hal itu pernah terjadi dan mungkin bisa terjadi lagi.

Begini Dampak Badai Matahari Skala Besar yang Kembali Menyapu Bumi

SOLOPOS.COM - Sinar matahari/wikipedia

Solopos.com, JAKARTA – Para ilmuwan memperingatkan bahwa badai matahari besar seukuran 150 tahun yang lalu bisa mengirim dunia kembali ke zaman kegelapan. Hal itu pernah terjadi dan mungkin bisa terjadi lagi.

Sebuah studi baru menyebutkan terdapat badai matahari yang luar biasa kuat menyapu Bumi sekitar 2.700 tahun yang lalu. Pada zaman itu, ketika orang hidup di zaman pra-industri dan pra-teknologi, peristiwa tersebut hanya berdampak kecil atau bahkan tidak berdampak sama sekali pada orang-orang. Namun bila badai serupa melanda Bumi hari ini, bisa berpotensi menyebabkan pemadaman listrik yang luas serta berpotensi melumpuhkan komunikasi dan merusak navigasi.

“Badai matahari pada tahun 660 SM, sekitar 10 kali lebih kuat daripada peristiwa yang diketahui dalam 70 tahun terakhir,” kata ketua penulis studi Raimund Muscheler, dikutip dari USA Today News, Kamis (14/3/2019).

Studi ini mengemukakan, badai matahari dengan kekuatan serupa akan menjadi ancaman bagi masyarakat modern dalam hal sistem komunikasi dan navigasi, teknologi ruang angkasa, dan operasi pesawat komersial.

Para ilmuwan mempelajari es kuno di Greenland untuk mengungkap petunjuk tentang badai matahari. Melihat inti es yang berasal dari 100.000 tahun yang lalu, para peneliti menemukan isotop radioaktif yang mengindikasikan sebuah badai matahari yang sangat kuat pada 2.700 tahun yang lalu.

“Jika badai matahari itu terjadi hari ini, itu bisa memiliki efek parah pada masyarakat teknologi tinggi kita,” kata Muscheler, yang juga seorang ahli geologi di Universitas Lund, Swedia.

Dua contoh badai matahari parah baru-baru ini yang menyebabkan pemadaman listrik yang luas terjadi di Quebec, Kanada pada 1989 dan Malmo, Swedia pada 2003.

Badai matahari terbentuk dari partikel berenergi tinggi yang dilepaskan dari matahari oleh ledakan di permukaan bintang. Jenis badai ini adalah bagian dari apa yang dikenal sebagai cuaca luar angkasa, ketika energi yang meledak dari matahari berinteraksi dengan atmosfer Bumi dan medan geomagnetik.

Para ilmuwan mengatakan studi ini adalah penemuan ketiga badai matahari besar dalam sejarah. Ini menunjukkan bahwa meskipun badai jarang terjadi, mereka adalah efek alami dari aktivitas matahari.

“Itulah sebabnya kita harus meningkatkan perlindungan masyarakat terhadap badai matahari,” kata Muscheler. “Penelitian kami menunjukkan bahwa risiko saat ini diremehkan. Kita harus lebih siap.”

Adapun studi ini diterbitkan dalam jurnal peer-review Proceedings of National Academy of Sciences.

Berita Terkait

Berita Terkini

Dari Anak Kolong, Aditya Prayoga Menjelma jadi Juru Penolong

Aditya Prayoga mendirikan Rumah Makan Gratis yang berada di beberapa lokasi, yaitu di Cilangkap, Ciangsana, Depok, Pasar Minggu, dan Jatisampurna.

Pelaku Usaha Empon-Empon Boyolali Ikut Terpukul Dampak PPKM Darurat

Kalangan pelaku usaha empon-empon di Kabupaten Boyolali turut terdampak PPKM darurat yang dilanjut dengan PPKM level.

Alaska Putri Klaten Bidik Gelar di Ajang Gerakan Sepak Bola Wanita Jateng 2021

Tim sepak bola putri Aliansi Suporter Klaten (Alaska) menargetkan trofi dalam kompetisi Gerakan Sepak Bola Wanita (GSWI) Regional Jateng U-23.

Kerap Diserang Netizen, Pandji Pragiwaksono Kangen Era SBY

Pandji Pragiwaksono kerap menerima komentar pedas dari sejumlah tokoh yang merupakan pendukung pemerintah.

Suporter Persis Solo akan Jadi Sasaran Vaksinasi, Begini Tanggapan Pentolan Pasoepati

Sejumlah tokoh suporter di Kota Solo menyambut baik rencana DPP Pasoepati yang hendak menggelar program vaksinasi suporter bersama Pemkot Solo.

Pencairan Insentif Penanganan Covid-19 Untuk Nakes Kota Solo Lampaui 50%

Pencairan insentif untuk para tenaga kesehatan atau nakes yang menangani pasien Covid-19 di Kota Solo sudah melampaui 50%.

HERO Alihkan Gerai ke Pihak Ketiga

Hero secara keseluruhan kini mengoperasikan 395 gerai tetapi angka tersebut akan berkurang menyusul peralihan fokus yang sedang dilakukan.

Gubernur DKI Minta Dua Harimau Ragunan Dites PCR

Gubernur DKI berpesan agar pengelola terus memantau kondisi kesehatan Tino, Hari maupun satwa lainnya yang ada di TMR.

Mantap! Tempat Isolasi Terpusat GOR Gelarsena Klaten Bakal Dilengkapi Fasilitas Olahraga dan Buku

Fasilitas di tempat isolasi terpusat GOR Gelarsena Klaten bakal ditambah. Rencananya, tempat isolasi terpusat itu bakal ditambahi perlengkapan olahraga hingga buku.

Kisah Pilu Azalea, Bayi 9 Bulan asal Sragen yang Harus BAB Lewat Perut

Nasib malang dialami bayi berumur sembilan bulan asal Sidoharjo, Sragen, yang mengalami kelainan hingga harus BAB lewat perut.

Dua Harimau Ragunan Tertular Corona dari Siapa?

Ada kemungkinan kedua satwa itu tertular dari pasien orang tanpa gejala (OTG).

Ulama Golkar: Saatnya Pak Airlangga Jadi Presiden

Sebagai Ketua Umum Partai Golkar yang juga Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, kemampuan Airlangga untuk memimpin Indonesia tidak perlu diragukan lagi.