Tutup Iklan
Ilustrasi buku kuno di perpustakaan. (Solopos-M. Ferri Setiawan)

Solopos.com, SOLO – Manuskrip (naskah tulisan tangan maupun ketikan bukan cetak) sebagai warisan berharga bangsa pada masa lampau, memiliki kerentanan untuk dapat eksis dalam waktu yang lebih lama.

Banyak faktor yang menyebabkan manuskrip hancur ditelan Bumi. Bencana alam, udara yang tidak sesuai, perlakuan yang tidak tepat, dan sentuhan manusia yang sembarangan adalah di antara penyebab berakhirnya keberlangsungan hidup sebuah manuskrip di dunia ini. Padahal di dalamnya banyak informasi dan pengetahuan bermanfaat yang patut dicontoh dan diteladani bagi generasi sekarang dan seterusnya.

Banyak lembaga-lembaga terkait dan negara-negara tertentu khususnya di barat berkompeten dalam merawat naskah. Sebut saja Belanda dan Inggris, memiliki kepedulian tinggi untuk perawatan naskah. Mereka menggunakan alat-alat canggih untuk melindungi sebuah manuskrip yang sudah cukup tua umurnya. Tidak hanya itu, cara mereka memperlakukan dan menyentuh manuskrip sangat hati-hati dengan dibekali ilmu yang cukup.

Selain Barat, negara-negara di Timur Tengah juga tidak kalah saing dengan negara Barat dalam merawat naskah warisan masa lampau. Dalam rilis yang diterima Solopos.com dari Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kementerian Agama, Indonesia juga telah melakukan banyak hal untuk mempertahankan keberadaan manuskrip. Perpustakaan Nasional dan museum-museum daerah telah menjadi ikon dalam penjagaan dan perawatan manuskrip yang ada.

Pada 2018, dilakukan studi banding ke empat negara yang berada di Timur tengah, Turki, Iran, Mesir, dan Maroko, karena negara Timur Tengah ini memiliki koneksi langsung dengan Nusantara sejak lama.

Diperkirakan negara ini menyimpan warisan leluhur bangsa kita dengan cara yang bijaksana, bukan dengan membawa pergi dari Indonesia, melainkan berkat hubungan yang baik para ulama pada masa lampau. Terdapat ulama Indonesia yang menulis di negara Timur Tengah sambil menuntut ilmu. Sebut saja, Syekh Nawawi al-Bantani, ditemukan karyanya di Mesir dan Arab Saudi.

Turki
Turki adalah negara yang memiliki sejumlah peninggalan warisan yang tergolong cukup lama. Peninggalan para nabi masih ditemukan di wilayah ini. Mereka sangat menghargai benda sejarah sehingga ada sebuah wilayah yang bernama Sangli Urfa, menjadi tempat yang masih bisa dilacak peninggalan sejarah sejak Nabi Ibrahim.

Dalam penanganan manuskrip, mereka telah menggunakan metode dan alat-alat yang mutakhir. Mereka mampu menjaga manuskrip dengan bangunan dan lemari khusus, terbebas dari bencana apa pun, seperti kebakaran, gempa dan bencana lainnya. Dalam pemanfaatannya kepada generasi sekarang, mereka telah men-scan dengan alat yang sangat canggih sehingga memberi kemudahan kepada pengguna dalam mengakses.

Turki juga membuka kesempatan kerjasama dengan negara-negara lain dalam hal peningkatan konservasi barang-barang purbakala temasuk manuskrip, baik dalam peningkatan pengetahuan preservasi maupun cara pennganan langsung.

Iran
Salah satu bentuk penanganan manuskrip untuk wilayah ini adalah dengan membuat katalog secara serius dan maksimal, di samping konservasi dengan alat-alat canggih. Keseriusan mereka dalam pemeliharan manuskrip juga terlihat pada penggunaan alat yang mampu mendeteksi binatang yang sangat kecil yang dapat mengganggu kestabilan kertas dan tinta, yang akhirnya dapat merusaknya.

Mesir
Mesir, secara umum koleksi naskahnya sangat banyak, yang terdiri dari berbagai bahasa yang berkembang pada masa silam, seperti Parsi, Urdu, dan Arab, bahkan Melayu. Karena para ulama Nusantara pada masa silam sudah pernah mengadakan kontak dengan ulama Timur Tengah termasuk Mesir.

Dalam pemanfaatan manuskrip untuk pengunjung dan pengguna, mereka masih jauh lebih tertinggal dibandingkan negara kita yang sudah dikelola secara baik di Perpustakaan Nasional. Media akses langsung ke naskah tidak disediakan. Pelayanan kepada pengunjung masih closed access, bukan berbentuk opened access. Untuk mengakses naskah-naskah yang dituju harus mendapat izin dari kementerian.

Maroko
Maroko adalah negara yang rajanya sangat peduli dan bertanggung jawab dengan manuskrip. Kerajaan sendiri yang menyimpan manuskrip warisan bangsa. Perpustakaan dibagi kepada perpustakaan milik istana yang bisa digunakan dan diakses oleh siapa pun, dan perpustakaan milik keluarga raja, yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja seperti pejabat negara dan lainnya.

Perpustakaan kerajaaan adalah perpustakaan paling lengkap yang menyimpan warisan bangsa sejak masa awal Islam. Untuk pengaksesan hanya disediakan dalam bentuk digital untuk pengunjung. Dalam rangka preservasi manuskrip, pihak kerajaan melatih para pegawainya untuk belajar ke Jerman dan menggunakan alat-alat yang ada di Jerman dan Prancis.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten