Kelompok gamelan tampil saat digelar Peluncuran Gamelan Plaosan di Dukuh Plaosan, Prambanan, Klaten, Selasa (14/8/2018) malam. (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

<p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;"><b>Solopos.com, KLATEN &ndash;</b> Penonton duduk di lincak serta kursi seng yang ditata rapi di pekarangan rumah Kirno, warga Dukuh <a href="http://soloraya.solopos.com/read/20180805/493/932156/begini-jadinya-kalau-gerobak-sapi-dilombakan-di-candi-plaosan-klaten" title="Begini Jadinya Kalau Gerobak Sapi Dilombakan di Candi Plaosan Klaten">Plaosan</a>, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten, Selasa (14/8/2018) malam.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Di depan mereka, panggung berdiri di bawah rimbunnya pepohonan dilengkapi seperangkat gamelan lengkap seperti kenong, saron, bonang, kendang, hingga gong.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Kelompok gamelan pertama mulai tampil. Mereka membawakan gending bertajuk <i>Sekar Tanjung</i>. Lirik-lirik lagu berisi kekaguman indahnya Candi Plaosan yang ada di desa setempat mengalun merdu dinyanyikan dua pesinden, Jamiyati, 54, dan Sugiyarti, 58.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Setelah kelompok pertama yang berisi para pemain sepuh, giliran pemain gamelan muda asal Desa Bugisan tampil. Suasana malam itu menghangat ketika kelompok gamelan berisi mahasiswa UGM mendapat giliran. Membawakan gending bertajuk <i>Rahayu Indonesiaku</i> ciptaan Nanang Karbito, mereka tampil atraktif dengan lirik-lirik lagu tentang keberagaman yang ada di Indonesia. Pertunjukan malam itu ditutup dengan harmonisasi gending yang dibawakan kelompok gamelan asal Desa Solodiran, Kecamatan Manisrenggo.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Malam itu, keempat kelompok gamelan itu menjadi pengisi acara bertajuk <i>Peluncuran Gamelan Plaosan</i>. Penampilan apik masing-masing kelompok berisi 20-25 orang itu membuat penonton betah mengikuti acara hingga rampung. Tak terkecuali rombongan bule yang duduk di antara warga lokal. Mereka dibuat kagum harmonisasi beragam gending yang ditabuh dan dipukul.</span></span></p><p>&ldquo;<span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Saya sangat menikmati dan menghibur. Penampilan malam ini menunjukkan keindahan budaya yang ada di Indonesia,&rdquo; kata salah satu turis asal Spanyol, Ranara, saat diminta memberikan kesannya oleh pembawa acara <i>P</i><i>eluncuran Gamelan Plaosan</i>.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;"><i>Peluncuran Gamelan Plaosan</i> itu digelar oleh Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah (Jateng). Acara sengaja digelar di tengah perkampungan agar suasana akrab kian terasa.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Kepala BPBC Jateng, Sukronedi, mengatakan kegiatan itu digelar guna mendukung program <i>platform</i> Indonesiana yang digagas Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Gamelan dipilih sebagai bentuk aktualisasi relief salah satu bangunan cagar budaya yang ada di Desa Bugisan yakni Candi Plaosan. Beberapa bagian relief yang terukir pada candi Buddha yang selama ini dikenal dengan candi kembar tersebut menunjukkan perangkat <a href="http://entertainment.solopos.com/read/20180808/482/932938/antusias-generasi-muda-solo-sambut-international-gamelan-festival" title="Antusias, Generasi Muda Solo Sambut International Gamelan Festival">gamelan</a> seperti kenong, suling, serta kendang.</span></span></p><p>&ldquo;<span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Kami berharap yang lestari tidak hanya candinya tetapi nilai-nilai yang ada di candi itu sendiri dengan masyarakat sebagai pelakunya,&rdquo; kata Sukronedi.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Sukronedi menuturkan upaya mengaktualisasi relief candi selama ini dilakukan seperti di Candi Sojiwan, Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan. Aktualisasi relief Candi Sojiwan diwujudkan dalam bentuk kuliner hingga batik.</span></span></p><p>&ldquo;<span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Kami berharap dari pemkab bisa menangkap ini sebagai atraksi wisata yang tentunya untuk pemberdayaan masyarakat. Itu bisa dilakukan dengan menyatukan antara Sojiwan dan Plaosan melalui atraksi kebudayaan,&rdquo; katanya.</span></span></p><p><span style="font-family: Slimbach Medium, serif;"><span style="font-size: medium;">Kepala Desa Bugisan, Heru Nugroho, mengatakan bermunculan kelompok gamelan di Bugisan menambah kekayaan kelompok pelestari kesenian tradisional di desa tersebut. Guna mendukung pelestarian tersebut, pemerintah desa setempat berencana membangun balai budaya memanfaatkan kucuran dana bantuan dari <a href="http://soloraya.solopos.com/read/20180802/493/931597/ugm-bikin-sekolah-bum-desa-di-klaten" title="UGM Bikin Sekolah BUM Desa di Klaten">UGM</a> senilai Rp100 juta. Balai budaya menjadi tempat latihan hingga pertunjukkan ketika turis berdatangan. &ldquo;Balai budaya rencananya dibangun di timur Candi Plaosan,&rdquo; kata Heru.</span></span></p>


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten