Bebatuan Kuno Ditemukan di Dukuh Gajihan Jatinom Klaten, Reruntuhan Candi Era Mataram?
Warga mengumpulkan batu cagar budaya di kawasan Belik Pitu Ki Ageng Gribig, Dukuh Gajihan, Desa Pandeyan, Kecamatan Jatinom. Foto diambil Selasa (1/9/2020). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Warga Dukuh Gajihan, Desa Pandeyan, Kecamatan Jatinom, Klaten mmeyakkini di tempat tinggal mereka pernah berdiri candi peninggalan era Mataram Kuno. Hal itu berdasarkan aneka batuan candi yang masih tersisa di kampung itu yang diperkirakan peninggalan abad ke-9 dan ke-10.

Lama teronggok di berbagai tempat, sejumlah warga berinisiatif mengumpulkan benda-benda cagar budaya yang masih tersisa. Inisiatif itu salah satunya muncul dari Hardiyana, 46, warga Gajihan.

“Sebenarnya benda-benda ini kan sudah ada ratusan tahun lalu dan sebagian warga sudah hidup dengan benda-benda ini. Akhirnya ada kesadaran dan meyakini pasti ada sejarah serta nilai-nilainya. Kemudian kami berinisiatif mengumpulkannya pada satu lokasi yang semestinya,” kata Hardiyana saat ditemui di Dukuh Gajihan, Selasa (1/9/2020).

Gaya Wika Salim Naik Motor Gede Bikin Pria Adem Panas, Mau Dibonceng?

Dari inisiatif itu, sejumlah warga lantas menginventarisasi benda cagar budaya yang masih ada di kampung setempat. Ada yang dirawat warga ada pula yang dibiarkan teronggok di pekarangan hingga halaman rumah warga. Niatan untuk mengumpulkan berbagai bebattuan diduga reruntuhan candi era Mataram itu disambut warga lainnya.

Belik Pitu

Alhasil, mereka bersama-sama mulai mengumpulkan benda peninggalan cagar budaya yang masih tersisa mulai Juni 2020 lalu. Benda-benda itu mereka kumpulkan di kawasan sumber mata air yang berada pada ujung kampung berbatasan dengan area persawahan.

Oleh warga kawasan mata air itu diberi nama kawasan Belik Pitu Ki Ageng Gribig. Nama Belik Pitu disematkan lantaran ada tujuh mata air di tempat itu. Setiap mata air diberi nama sesuai nama pohon yang berdiri di sekitarnya yakni kemuning, lerak, gayam,joho, randu alas, tanjung, serta asem.

Inilah Sosok Nunggal Si Preman Paling Garang di Solo Selama 36 Tahun Terakhir

Belik Pitu dipilih menjadi lokasi mengumpulkan bebatuan diduga reruntuhan candi Mataram lantaran tempat itu diyakini menjadi pusat ditemukannya bebatuan candi sebelum menyebar ke berbagai lokasi.

Sembari mengumpulkan satu per satu benda cagar budaya yang masih tersisa, mereka membangun kawasan Belik Pitu. Secara swadaya warga mulai membersihkan aneka sampah yang berserakan dan mendirikan peneduh di setiap sumber mata air.

Selain itu, mereka membuat bangunan berkonstruksi kayu untuk menempatkan batuan candi yang berhasil dikumpulkan. Rumah menyimpan batuan candi itu mereka beri nama Omah Palon.

Jenis Bebatuan

Hardi mengatakan kini sudah ada sekitar 65 batuan bekas candi Mataram yang terkumpul di tempat tersebut. Batuan candi yang berhasil dikumpulkan seperti yoni, struktur batuan kemuncak, arca nandi, dan batuan candi lainnya.

Kunyit Diklaim Bisa Membunuh Virus Tertentu, Termasuk Corona?

Ada pula batu bata merah yang diperkirakan menjadi struktur candi. Oleh warga, mereka berinisiatif menyusun batu bata merah yang sudah terkumpulkan membentuk bangunan candi.

Selain itu, ada batuan pendukung lainnya yang diyakini peninggalan tempo dulu seperti lumpang, kenteng, dan pipisan atau alat untuk menghaluskan ramuan obat.

Bebatuan itu bukan  hanya berasal dari wilayah Gajihan. Ada warga dari luar dukuh yang secara sukarela menyerahkan batu cagar budaya yang selama ini berada di rumah mereka atau dibiarkan tergeletak di pekarangan rumah.

Hardi mengatakan usaha warga mengumpulkan berbagai peninggalan cagar budaya yang masih tersisa di Gajihan dan sekitarnya dilakukan sebagai bentuk penyelamatan. Pasalnya, sebagian benda-benda cagar budaya yang sebelumnya ada di dukuh tersebut raib.

Tak Pakai Masker, Sri Mulyani Dihukum Menyapu Jalan di Klaten

Benda Kuno

Benda-benda itu seperti arca aneka bentuk dan ukuran. Pengambilan benda cagar budaya secara besar-besaran diperkirakan terjadi pada era 1970an dan 1980an.

“Benda-benda itu diambil dan warga diberikan uang,” kata Hardi.

Semangat warga Gajihan itu mulai direspon pemerintah. Seperti dari pemerintah desa setempat yang membantu menginventarisasi temuan cagar budaya yang dimungkinkan masih tersisa di wilayah Pandeyan. Begitu pula dari pemkab serta komunitas pelestari cagar budaya di Klaten.

“Kami diberikan tips perawatan hingga buku untuk referensi,” jelas Hardi.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom