Warga Dusun Kedungaron, Desa Lemahireng, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, beraktivitas di dekat kawasan longsor di dusun tersebut, Jumat (5/4/2019). (Istimewa/Tagana Boyolali)

Solopos.com, BOYOLALI—Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana Kota Semarang segera melakukan survei di Dusun Kedungaron RT 004/ RW 004 Desa Lemahireng, -11-rumah-hilang-longsor-di-wonosegoro-boyolali-juga-gerus-jalan-7-meter" title="Selain 11 Rumah Hilang, Longsor di Wonosegoro Boyolali Juga Gerus Jalan 7 Meter">Kecamatan Wonosegoro, Boyolali.

Survei dilakukan setelah kawasan tersebut mengalami longsor akibat tergerus daerah aliran sungai (DAS) anak Sungai Serang yang menjadi wilayah kewenangan BBWS Pemali-Juana.

Sebanyak sebelas rumah hanyut di aliran anak sungai serang bersama longsoran tanah, Kamis (4/4) lalu. Selain itu, jalan desa sepanjang tujuh meter dan lebar tiga meter juga hanyut tergerus aliran air sungai. Akibatnya kini posisi permukiman warga semakin dekat dan hanya berjarak sekitar lima meter dari bibir sungai.

Staf Teknik OPSDA I Unit Hidrologi dan Kualitas Air BBWS Pemali-Juana, Baskoro Dwi Cahyo, mengatakan survei dilakukan untuk mengetahui tindakan apa saja yang bisa diambil sebagai solusi atas masalah di kawasan tersebut.

Survei meliputi peninjauan lapangan dan titik-titik DAS yang disebutnya telah berbelok mendekati kawasan permukiman warga. Selain itu BBWS juga akan melakukan pemetaan terkait kondisi -jembatan-di-juwangi-boyolali-patah-setelah-hujan-2-hari" title="-jembatan-di-juwangi-boyolali-patah-setelah-hujan-2-hari">morfologi sungai saat ini.

“Harapannya setelah dipetakan wilayahnya bisa diketahui bagian mana saja yang perlu dibangun tebing,” imbuh Dwi, ketika dihubungi Solopos.com, Senin (8/4/2019). Survei bakal dilakukan pekan ini.

Menurut Dwi, pembelokan DAS merupakan fenomena alam yang tidak bisa dihindari. Morfologi lingkungan yang berubah memungkinkan karakteristik sungai yang juga berubah.

“Ini pun tidak bisa diprediksi dalam jangka waktu berapa lama akan berubah, apalagi kondisi alam makin sulit diprediksi” kata dia.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Bambang Sinungharjo, telah meninjau lokasi bencana.

Bukan Perkara Mudah

Beberapa bantuan juga telah diserahkan seperti terpal dan selimut. Lebih jauh dirinya juga membenarkan bahwa puluhan keluarga masih tinggal di kawasan rawan bencana di wilayah aliran anak Sungai Serang.

“Kami telah berkoordinasi dengan BBWS yang memiliki kewenangan di kawasan tersebut,” papar Sinung.

Meski demikian Sinung menyebut bahwa menyuruh warga untuk pindah dari kawasan DAS bukan perkara mudah. Selain karena telah menempati rumah selama bertahun-tahun kepindahan warga memerlukan biaya besar.

Selain itu, kawasan DAS juga tidak sepenuhnya menjadi kewenangan BPBD. “Di situ (DAS) merupakan area kerja BBWS sehingga perlu koordinasi setiap terjadi -harga-bawang-putih-di-boyolali-tembus-rp52.000kg" title="Mahal, Harga Bawang Putih Di Boyolali Tembus Rp52.000/Kg">bencana alam,” imbuhnya.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten