Bau Limbah Kembali Dikeluhkan, Pemkab Sukoharjo: PT RUM Harus Kurangi Produksi!
Sejumlah warga Dusun Ngrapah, Desa Gupit, Nguter, Sukoharjo, memukul kentungan karena mulai mencium bau busuk limbah udara dari PT Rayon Utama Makmur (RUM), Selasa (18/8/2020). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Pemkab Sukoharjo mengambil langkah tegas guna menindaklanjuti keluhan masyarakat ihwal bau busuk limbah produksi PT Rayon Utama Makmur atau RUM, Kecamatan Nguter.

Manajemen pabrik pembuat serat rayon itu diminta mengurangi jumlah produksi selama perbaikan instalasi pengolahan limbah udara. Pemkab Sukoharjo telah mengirim surat resmi ke manajemen PT RUM yang berisi permintaan pengurangan jumlah produksi tersebut.

Manajemen PT RUM juga diminta melakukan pembenahan total untuk menghilangkan limbah udara. “Kami sudah mengirim surat ke manajemen PT RUM pada beberapa hari lalu. Intinya, kami minta manajemen PT RUM mengurangi jumlah produksi sembari melakukan pembenahan untuk mengatasi limbah udara secara tuntas,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, Agustinus Setyono, kepada Solopos.com di Gedung Menara Wijaya, Kamis (7/1/2020).

Jelang PSBB, Wali Kota Solo: Seluruh Daerah Harus Kompak Dan Koordinasi

Sebelumnya pada Oktober 2019, Pemkab juga pernah melayangkan surat serupa berisi permintaan agar PT RUM mengurangi produksi guna menekan bau limbah. Kala itu, pemerintah menerbitkan surat kepada Presiden Direktur (Presdir) PT RUM.

Ada dua poin utama dalam surat itu yakni meminta manajemen PT RUM mengurangi produksi serat rayon. Selama pengurangan produksi, manajemen PT RUM harus melakukan pembenahan untuk mengatasi limbah udara.

Prioritas Utama

Petugas DLH Sukoharjo juga telah mengecek ke lokasi untuk memastikan limbah udara tidak menimbulkan bau busuk bagi masyarakat sekitar lokasi pabrik.

Kades Karangtengah Wonogiri Tak Jadi Dipenjara Dalam Kasus Perzinaan, Kok Bisa?

“Petugas mengambil sampel air sungai belakang lokasi pabrik. Saat ini, keluhan masyarakat masih seputar limbah udara sehingga penanganannya menjadi prioritas utama. Saya juga sering mencium bau busuk saat malam hari,” ujar Agustinus.

Menurut Agustinus, ada gangguan atau kerusakan blower pad asekitar instalasi pengolahan air limbah produksi PT RUM. Akibatnya emisi gas H2S terbawa angin dna tercium bau busuk oleh masyarakat wilayah Nguter, Bendosari, Sukoharjo hingga Polokarto.

Saat ini, manajemen pabrik tengah berupaya memperbaiki blower yang rusak. “Sumber munculnya limbah udara kami perkirakan berasal dari blower yang rusak. Saya sudah berkoordinasi dengan manajemen PT RUM dan meminta agar mereka segera memperbaiki blower yang rusak,” paparnya.

Perempuan Meninggal Tertabrak KA Prameks di Laweyan Solo, Begini Kejadiannya

Membuat Aduan

Seorang tokoh masyarakat asal Desa Pengkol, Kecamatan Nguter, Tomo, mengatakan tak pernah patah arang memperjuangkan udara segar yang merupakan hak asasi pemberian Allah SWT.

Hampir setiap hari, masyarakat mencium bau busuk yang mengganggu kenyamanan. Tak hanya itu, kalangan ibu-ibu dan warga lanjut usia (lansi) mengalami mual dan muntah lantaran menghirup bau busuk limbah produksi PT RUM itu.

“Kami berencana membuat aduan pencemaraan lingkungan ke DLH Sukoharjo pada Jumat [8/1/2021]. Apakah masyarakat harus menderita seumur hidup lantaran menghirup bau busuk?” terangnya.

Bau Limbah PT RUM Sukoharjo Dirasakan Sebagian Warga Wonogiri, Begini Respons Bupati

General Manager (GM) HRD PT RUM, Hario Ngadiyo, mengatakan blower tersebut terpasang di sekitar Waste Water Treatment Plant (WWTP) atau instalasi pengolahan air limbah.

Saat ini, WWTP ditutup dengan plastik tebal untuk menekan emisi gas H2S agar tidak terbawa angin. Manajemen PT RUM selalu berkomunikasi dengan instansi terkait selama proses perbaikan instalasi pengolahan limbah udara.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom