Bau Limbah Bikin Warga Pusing dan Mual, Pemdes Mulur Surati PT RUM Sukoharjo
Kepala DLH Sukoharjo, Djoko Sutarto (kanan), bersama dosen pascasarjana UNS Solo, Prabang Setyono, menunjukkan proses penanganan limbah di Pabrik PT RUM Sukoharjo, Senin (5/2/2018). (Solopos/dok)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Pemerintah Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, melayangkan surat ke PT Rayon Utama Makmur atau RUM, Kecamatan Nguter, Sukoharjo, terkait bau limbah yang sangat mengganggu.

Surat itu berisi permintaan agar PT RUM segera membenahi pengelolaan limbah udara lantaran bau busuknya mengganggu kenyamanan masyarakat. Limbah udara tak hanya tercium warga wilayah Nguter tapi juga daerah lain Bendosari, Sukoharjo, dan Polokarto.

Biasanya, bau busuk itu tercium saat sore hari atau malam hari. Warga sampai mengalami pusing dan mual setelah mencium bau busuk selama puluhan menit.

PDIP Solo Akan Bagi-Bagi 500 Kambing, Wah Ada Apa Nih?

Mereka terbangun dari tidur gara-gara mencium bau busuk limbah PT RUM Sukoharjo yang menyengat hidung. Bau busuk itu merebak selama puluhan menit.

“Bau busuk itu sangat mengganggu kenyamanan masyarakat. Saya tak bisa khusyuk saat menunaikan Salat Tahajud pada dini hari. Belum lagi istri dan anak-anak yang mengeluhkan bau busuk saat malam hari,” kata Kepala Desa Mulur, Sugeng Riyadi, kepada Solopos.com di kantornya, Rabu (6/1/2021).

Sugeng juga menerima keluhan serupa dari masyarakat setempat selama beberapa hari terakhir. Mereka tak bisa tidur nyenyak gara-gara mencium bau busuk saat malam hari. Bau busuk itu kadang juga muncul pada pagi hari saat masyarakat beraktivitas.

Solo Dapat Jatah 4.364 Vaksin Covid-19, Ini Lokasinya Penyimpanannya

Karena itu, Sugeng mengirim surat resmi beberapa hari lalu. Ia meminta manajemen PT RUM Sukoharjo yang memproduksi serat rayon itu membenahi pengolahan limbah udara agar tak menimbulkan bau tak sedap.

“Saya beri waktu selama sepekan agar manajemen perusahaan itu menindaklanjuti permintaan kami. Jika mereka tak menggubris, saya bakal kembali melayangkan surat resmi hingga tiga kali. Jika tetap muncul bau busuk, saya bakal menemui langsung manajemen perusahaan,” ujarnya.

Mengurangi Produksi

Selain Desa Mulur, warga sebagian wilayah Bendosari juga kerap mencium bau busuk hampir setiap hari. Misalnya, warga Desa Manisharjo yang berjarak puluhan kilometer dari lokasi pabrik. Limbah udara itu kerap terbawa angin dan tercium warga wilayah tersebut.

Pemdes Jumapolo Karanganyar Klarifikasi Soal Mbah Pani Yang Meninggal Osteoporosis

Masyarakat meminta agar manajemen PT RUM mengurangi jumlah produksi untuk meminimalkan bau busuk. “Pada 2019, Pemkab Sukoharjo mengirim surat ke manajemen PT RUM agar mengurangi jumlah produksi. Kami tak meminta menutup pabrik dan mendukung investasi yang bisa menyerap tenaga kerja. Permintaan msyarakat cukup sederhana yakni bau busuk hilang selamanya,” kata seorang warga Desa Manisharjo, Sarti.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo, Agustinus Setyono, mengatakan telah melakukan pengawasan lingkungan hidup terhadap limbah udara dari PT RUM. Petugas bakal mengecek ke lapangan untuk memastikan apakah masih muncul bau busuk atau tidak dari limbah PT RUM Sukoharjo.

Kedelai Mahal, Produsen Klaten Kurangi Berat Tempe Hingga 40 Gram

Sebelumnya, General Manager (GM) HRD PT RUM, Hario Ngadiyo, mengatakan manajemen berupaya keras untuk membenahi pengelolaan limbah udara dan melakukan tata kelola lingkungan hidup.

Manajemen perusahaan telah memasang beberapa instalasi pengolahan limbah seperti NaHS creps machines dan heat exchanger atau mesin pendingin.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom