Para siswa SMK YP Colomadu, Karanganyar, bersiap masuk kelas untuk mengikuti ujian akhir semester, Senin (25/11/2019). (Solopos/M. Aris Munandar)

Solopos.com, KARANGANYAR -- Para siswa SMK Yayasan Pendidikan (YP) Colomadu, Karanganyar, harus mengikuti ujian akhir semesters, Senin (25/11/2019), sambil menahan bau busuk yang sangat mengganggu.

Mereka pun harus memakai masker penutup hidung selama berada di lingkungan sekolah. Baik siswa maupun guru semuanya memakai masker saat mengikuti apel Senin pagi di halaman sekolah.

Begitu juga saat berada di dalam kelas. Informasi yang diperoleh Solopos.com, sudah dua bulan ini para siswa SMK YP Colomadu diganggu bau tak sedap itu.

Hasil penyelidikan sekolah, bau tersebut muncul dari tempat pembuangan sampah (TPS) di selatan gedung sekolah. TPS tersebut berada di kawasan Desa Ngabeyan, Kartasura, Sukoharjo.

Bupati Sragen Kaget Ada 100 Keluarga Miskin Yang Punya HP Seharga Jutaan Rupiah

Sementara itu letak SMK YP berada di Desa Bolon, Colomadu, Karanganyar. Jarak antara TPS dengan SMK YP hanya 50 meter.

Siswa dan guru mengeluhkan bau yang timbul dari TPS tersebut lantaran jaraknya terlalu dekat dengan sekolah. Gangguan itu semakin terasa saat siswa harus mengikuti UAS.

Salah satu siswa kelas XII Jurusan Teknik Pemesinan, Rizki Novandi Handriyanto, mengatakan bau dari sampah sering kali membuat ia dan teman-temannya pusing.

“Baunya mengganggu aktivitas belajar. Udara di lingkungan sekolah menjadi tidak sehat,” katanya kepada Solopos.com sebelum memasuki kelas, Senin.

Bupati Sragen Kaget Ada 100 Keluarga Miskin Yang Punya HP Seharga Jutaan Rupiah

Ia tidak mengetahui apakah bau itu muncul karena sampah dibakar atau sampah di TPS tidak dikelola. Yang jelas bau tersebut selalu menyengat dan mengarah ke sekolah.

“Bau yang ditimbulkan membuat tidak nyaman belajar. Menghirup udara di sekolah sudah tidak segar,” kata siswa lainnya, Wisnu Adi Saputro, dari Kelas XII Jurusan Teknik Pemesinan.

Ia mengungkapkan ada sebagian temannya yang pernah mual, bahkan sampai ada yang nyaris muntah. Bau yang ditimbulkan membuat dirinya dan temannya lesu, tak semangat belajar.

“Kadang ada lalat juga yang masuk ke dalam kelas,” imbuhnya.

Anggota Meninggal Karena Ditendang Saat Latihan, Ini Kata Ketua PSHT Sragen

Kepala Sekolah SMK YP, Ari Mustofa, mengaku telah melayangkan surat kepada Pemerintah Desa Ngabeyan dengan tembusan Camat Kartasura. Surat tersebut sudah dilayangkan sejak tiga pekan lalu. Tetapi saat ini belum ada tanggapan.

Ia juga telah melapor ke Pemerintah Desa Bolon dan Kecamatan Colomadu. Pemerintah menyatakan akan melakukan mediasi dan musyawarah dengan beberapa pihak terkait dalam waktu dekat.

“Di sekolah kami ada kotak saran. Banyak aduan dari siswa kami terkait bau yang ditimbulkan dari TPS. Selain itu guru dan karyawan sekolah juga mengadukan kejadian tersebut kepada saya,” kata dia saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Senin.

Menurutnya, TPS tersebut sudah ada lama, tetapi semenjak dua bulan terakhir tumpukan sampah semakin banyak sehingga bau yang ditimbulkan menyengat ke wilayah sekitar.

Dianggap Tak Lebih Baik Pimpin Sragen, Yuni Tantang Saiful Hidayat Maju Pilkada 2020

Kondisi tersebut berjalan setiap hari, puncaknya ketika menjelang siang hari, saat sampah sedang dikeruk alat berat. Jika sedang dalam kondisi memprihatinkan, di parkiran motor yang letaknya berdekatan dengan TPS, banyak lalat hijau yang menempel di sepeda motor.

Dua pekan sebelumnya, petugas Puskesmas Colomadu telah mendatangi SMK YP. Petugas Puskesmas menyatakan makanan di kantin sudah tidak layak lantaran banyak lalat yang menghinggapi makanan.

Hal itu disebabkan lokasinya yang berdekatan dengan TPS dan parkir motor. Ia telah berdiskusi dengan beberapa pihak soal letak TPS.

“Dalam aturan saja jarak TPS dan permukiman minimal 500 meter. Terlebih sekolah, sebagai institusi pendidikan, seharusnya lokasi TPS tidak berdekatan dengan sekolah,” imbuh Ari Mustofa.

Konsol Gedung Disdukcapil Klaten Ambruk Timpa 2 Sepeda Motor

SMK YP telah berdiri sejak 1967 di sebelah utara jalan. Pada 1998 SMK pindah ke selatan jalan, yaitu lokasi yang sekarang ditempati. Artinya sekolah itu lebih dulu ada ketimbang TPS.

“Kalau TPS ada sebelum bangunan sekolah, tentunya kami yang salah. Kenyataannya bangunan kami lebih dulu dari TPS,” terang Ari.

Saat TPS dibangun, sekolah tidak diberi tahu. Awalnya sekolah mengira pembangunan tersebut untuk pengelolaan dan pemilahan sampah. Pada kenyataannya justru untuk TPS.

“Saat ini saja baunya sudah seperti ini, apalagi nanti kalau musim penghujan, baunya lebih menyengat. Maka dari itu kami berharap permasalahan tersebut segera diselesaikan agar kegiatan belajar mengajar bisa nyaman dan tenang,” kata Ari.

 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten