Batal Dites Swab, Pengungsi Gempa Mamuju Dijemput Keluarga Dari STP Solo
Warga korban gempa dari Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat (Sulbar), beristirahat seusai santap siang saat tiba di rumah karantina Solo Technopark (STP), Jebres, Solo, Kamis (21/1/2021). (Solopos/Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memulangkan 54 pengungsi gempa bumi Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), ke daerah masing-masing, Jumat (22/1/2021) siang.

Sedianya, mereka tinggal di Solo Technopark (STP) selama lima hari namun urung. Hal itu karena mereka tidak jadi diuji swab secara RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction).

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan para pengungsi yang jamak berasal dari daerah Magelang, Soloraya, dan Demak itu dijemput keluarga masing-masing.

PPKM Berlanjut, Paguyuban Pelaku Usaha Hiburan Solo Minta Ketemu Wali Kota

“Mereka dijemput keluarga, karena sudah diswab antigen dari Makassar. Kami menerima telepon dari Kementerian Kesehatan kalau sudah swab antigen, ya tidak usah RT-PCR. Enggak ada artinya diulang-ulang,” katanya saat meninjau persiapan rumah sakit lapangan Benteng Vastenburg, Jumat.

Kabid Rehabilitasi dan Jaminan Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kota Solo, Evi Mahanani Avianto, mengatakan 54 pengungsi gempa Mamuju dan Majene yang dipulangkan itu termasuk lima orang yang hasil uji cepat antigennya reaktif.

“Semuanya dipulangkan ke daerah masing-masing. Yang kemarin ada reaktif itu pun diterima Dinas Kesehatan [Dinkes] daerah asal. Mereka akan ditindaklanjuti di sana,” katanya kepada wartawan.

2 Nakes Positif Corona, Puskesmas Bulu Sukoharjo Buka Tapi Hanya Rawat Jalan

Trauma Healing

Pertimbangan pemulangan tersebut adalah keinginan pengungsi untuk segera berkumpul dengan keluarga. Terlebih, hasil uji cepat antigen mereka nonreaktif atau negatif. Kondisi kesehatan mereka baik, sehingga bisa menempuh perjalanan kembali.

Dinas Sosial juga sudah melakukan trauma healing bagi anak-anak pengungsi gempa Mamuju dan Majene itu. Pendampingan diberikan untuk menghilangkan trauma pascakejadian.

“Jumat pagi, kami sudah melaksanakan trauma healing. Secara garis besar mereka tidak trauma berat. Tapi mereka kalau mendengar suara gemuruh masih agak kaget sedikit,” ucap Evi.

Karyawati Minimarket Colomadu Tengah Hamil 7 Bulan Saat Diserang, Bayinya Selamat!

Sebelum dipulangkan ke Solo, para pengungsi itu sempat ditampung sementara di Makassar. Kondisi di daerah perantauan yang tidak memungkinkan membuat mereka akhirnya eksodus ke daerah asal.

Mereka juga mengaku sempat mengungsi ke gunung lantaran takut adanya gempa susulan. Dengan kondisi yang kian terbatas, pulang ke daerah asal menjadi opsi terbaik.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom