Sebanyak 185 tenaga kerja indonesia (TKI) yang terdiri atas 98 orang TKI laki-laki, 85 tenaga kerja wanita (TKW), beserta dua orang anak mereka dideportasi dari Malaysia melalui Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Jumat (16/5/2014). Para TKI tersebut dipulangkan akibat habisnya izin kerja dan pemutusan hubungan kerja dari perusahan tempat mereka bekerja. Sejumlah TKI itu mengaku mengalami nasib buruk karena sempat dipenjara akibat tidak memiliki dokumen seperti paspor dan izin kerja. (JIBI/Harian Jogja/Antara/Mika Muhammad)

Solopos.com, KULONPROGO-Tenaga Kerja Indonesia asal Kulonprogo banyak yang tidak tercatat di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kulonprogo karena mereka memilih untuk berangkat dari daerah lain.

Sementara data yang dihimpun dari Dinsosnakertrans Kulonprogo hanya mencatat 30 orang TKI asal Kulonprogo yang diberangkatkan ke luar negeri pada 2014.

Asisten I Sekda Kulonprogo Riyadi Sunarto mengungkapkan Kulonprogo merupakan kabupaten terbesar kedua  di DIY setelah Bantul dalam pengiriman TKI.

Sayangnya, tidak semua TKI memahami mekanisme dan prosedur pengiriman TKI yang tepat, sehingga tidak menutup kemungkinan mereka berangkat dari daerah lain. Akibatnya, tidak tercatat di Dinsosnakertrans.

Sebenarnya, kata dia, sejak beberapa tahun lalu, Kulonprogo sudah melarang pengiriman TKI yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT).

“Kalau mau bekerja ke luar negeri ya seharusnya memiliki bekal keterampilan yang cukup,” ujarnya saat membuka acara Sosialisasi Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri di Hotel Anugrah Glagah, Selasa (26/8/2014).

Ia memaparkan, tingginya minat masyarakat Kulonprogo menjadi TKI tidak lepas dari angka kemiskinan di Kulonprogo yang masih tinggi, yakni berkisar 23%. Ia menambahkan, banyak orang berpikir dengan menjadi TKI kesejahteraan ekonomi mereka dapat meningkat.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten