Tutup Iklan
ilustrasi Siswa SD. (Dok)

Solopos.com, SOLO — Banyak siswa SD yang tidak tahu bakat mereka. Sejumlah guru menilai keluarga dan lingkungan kurang mendukung pengasahan bakat pada anak.

Salah satunya para siswa di SDN Prawit II Solo. Menurut salah seorang guru SDN Prawit II, Sri Sumiyati, hanya beberapa https://news.solopos.com/read/20180112/496/884172/dokter-ini-anggap-paud-bisnis-atas-nama-pendidikan-anak">siswa yang sudah mengenali bakat mereka. Sementara siswa lain belum mengenali bakat mereka dan hanya mengikuti pelajaran seperti biasanya.

"Dari 130-an siswa, hanya 10% yang mengenali bakat mereka. Hal itu dipengaruhi minimnya perhatian orang tua. Mayoritas https://news.solopos.com/read/20190114/496/965011/izin-main-game-online-untuk-anak-sebaiknya-hanya-saat-liburan-kenapa">siswa berasal dari kalangan menengah ke bawah. Kebanyakan orang tua bekerja sebagai buruh, serabutan, dan sebagainya. Jadi waktu untuk anak hampir tidak ada," kata Sri Sumiyati saat dihubungi Solopos.com, Jumat (16/5/2019).

Demikian halnya dengan SDN Munggung I Solo. Menurut Kepala SDN Munggung I Solo, Sutimo, hanya 40% siswa yang mengenali bakat mereka. Penyebabnya faktor keluarga yakni mayoritas siswa berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Faktor lambatnya anak mengenal dunia baca, tulis, dan hitung juga memengaruhi lambatnya anak mengenal bakat mereka. "Dari jumlah 141 siswa, 60% siswa belum mengenal bakat mereka. Hal itu disebabkan kurangnya perhatian orang tua kepada https://madiun.solopos.com/read/20150216/516/577515/pendidikan-anak-kenapa-anak-kita-jadi-bengal">anak. Banyaknya siswa yang berasal dari keluarga broken home. Lambatnya siswa mengenal bakatnya juga terjadi tiga tahun ini. Separuh kelas I belum mengenal dunia membaca, menulis, dan menghitung dengan baik," tutur Sutimo saat dihubungi Solopos.com.

Kurang fokusnya anak dalam mengembangkan bakat diakibatkan kurang pahamnya anak dalam membaca, menulis, dan menghitung. Akibatnya saat kenaikan kelas selalu ada anak yang tidak naik kelas II karena belum bisa menulis dan membaca.
Menurut Sutimo, para guru sudah berupaya mengenalkan kemampuan membaca, menulis, dan menghitung agar anak lebih fokus mengenali bakat mereka.

Menurut Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo, Sri Hartini, bakat anak sudah terlihat sejak usia TK. Faktor keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat memiliki peran yang penting dalam mengasah bakat seorang anak. Dari ketiga faktor tersebut, yang paling berpengaruh adalah keluarga. Ia mengatakan bakat anak perlu diasah seiring bertambahnya usia anak.

"Tanpa dukungan dari orang tua dan lingkungan, perkembangan anak dalam mengenali bakat mereka tidak akan optimal. Faktor ekonomi yang kurang baik sebenarnya tidak akan menghambat jika anak dan orang tua memiliki keinginan yang kuat dalam mengembangkan bakat anak tersebut," tutur Sri Hartini saat dihubungi Solopos.com.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten