Tutup Iklan
Warga menunjukkan batuan candi yang dikumpulkan di pekarangan milik salah satu warga Dukuh Krapyak, Desa Dompyongan, Kecamatan Jogonalan, Jumat (15/3). (Solopos-Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Warga Dukuh Krapyak, Desa Dompyongan, Kecamatan Jogonalan meminta Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) segera melakukan penggalian tanah di wilayah dukuh setempat. Permintaan itu disampaikan menyusul banyaknya temuan benda cagar budaya (BCB) di perkampungan yang berada tak jauh dari alur Kali Woro tersebut.

Temuan-temuan benda cagar budaya di Dukuh Krapyak beragam. Seperti batuan candi yang dikumpulkan di berbagai lokasi pekarangan milik Setyo Purwanto, 45. Selain ditemukan terkubur di dalam tanah, batuan candi yang ditemukan dimanfaatkan untuk batuan pagar pekarangan milik warga lainnya.

Di dukuh setempat juga terdapat tumpukan batuan yang diduga parit batas candi. Wilayah Dukuh Krapyak berdekatan dengan Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan yang pernah ditemukan artefak emas serta perak dan kini disimpan Museum Nasional Indonesia.

Setyo mengatakan warga kerap menemukan benda cagar budaya saat menggali tanah makam yang berdampingan dengan pekarangan milik Setyo. Sayangnya, batuan candi yang ditemukan kerap rusak lantaran terkena cangkul.

“Karena sayang kalau sampai rusak, akhirnya setiap ada temuan batu di makam diangkat kemudian dikumpulkan di tempat saya,” urai dia saat ditemui wartawan di rumahnya, Jumat (15/3/2019).

Benda cagar budaya ditemukan warga Krapyak secara tidak sengaja dan sudah terjadi selama bertahun-tahun. Termasuk ketika warga mencari pasir di alur Kali Woro. Radius penemuan BCB hingga 400 meter dari pekarangan milik Setyo yang juga diyakini masih banyak BCB terkubur di dalam tanah.

Benda cagar budaya yang ditemukan tak hanya batuan candi. Benda-benda lain seperti arca, guci, gerabah, uang kepeng, hingga perhiasan pernah ditemukan warga. Namun, sebagian dari benda-benda yang sudah ditemukan sudah berpindah tangan ke kolektor atau toko perhiasan. Temuan perhiasan seperti kalung, gelang, dan cincin dari dalam tanah Dukuh Krapyak. Perhiasan banyak ditemukan warga terutama 1,5 tahun terakhir.

“Ada juga temuan seperti lampion dari kuningan dan perunggu namun sudah terjual ke tukang rosok. Masih ada warga yang menyimpan beberapa temuan lainnya seperti guci,” ungkapnya.

Setyo menjelaskan untuk temuan perhiasan ia tak bisa berbuat banyak seperti meminta warga mengumpulkan menjadi satu di rumahnya. Selama ini, ia hanya mencoba mengumpulkan batuan candi yang ditemukan saat penggalian tanah makam.

“Banyak kolektor yang sudah meminta saya menjual benda-benda yang ditemukan dan dikumpulkan. Namun, saya tidak mau karena bukan nilai uangnya tetapi nilai sejarahnya yang lebih berharga,” ungkapnya.

Ia menuturkan temuan benda cagar budaya di Krapyak pernah dilaporkan ke BPCB pada 2000. Namun, hingga kini belum ada penggalian atau penelitian untuk mengungkap situs yang ada di dukuh setempat.

Setyo berharap ada tindak lanjut dari BPCB meneliti dan menggali berbagai temuan BCB. Hasil penggalian tersebut diharapkan bisa menjadi wahana edukasi. “Kalau ternyata tidak ada respons, kami berencana menggali sendiri dengan warga pekan depan,” ungkapnya.

Tanggapan BPCB

Kepala Unit Candi Sewu BPCB Jawa Tengah, Deny Wahyu Hidayat, menjelaskan BPCB sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat serta warga. Ia berharap warga tak melakukan penggalian sendiri tanpa mengajukan izin didampingi petugas dari BPCB.

Deny mengatakan BPCB berencana mengetes kandungan di dalam tanah menggunakan peralatan Ground Penetrating Radar (GPR) untuk memastikan ada atau tidaknya batuan candi di Dukuh Krapyak yang masih terpendam tanah. Penelitian itu dilakukan pekan depan.

“Kami lihat dulu di dalam tanah itu ada apa saja dengan GPR. Kalau nanti ditemukan batuan candi, akan dikumpulkan dan diteliti lebih lanjut,” jelas dia.
Deny belum bisa memastikan di Krapyak sebelumnya terdapat candi. Hanya, temuan benda cagar budaya di dukuh tersebut identik dengan peninggalan masa Mataram Kuno. “Yang jelas ini peninggalan di era Mataram Kuno,” jelas dia. 

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten