Warga memandikan anak mereka di keran yang bersumber dari sumur Masjid Al Makmur, Dukuh Majasem, Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan, Klaten, Jumat (10/5/2019).(Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN – Masjid Al Makmur menjadi bangunan tertua yang berdiri di tengah perkampungan Dukuh Majasem, Desa Pakahan, Kecamatan Jogonalan. Usia masjid yang dikenal dengan nama Masjid Majasem tersebut diperkirakan lebih dari dua abad mengacu pada prasasti yang terpasang di https://soloraya.solopos.com/read/20180813/493/933842/kisah-unik-pemindahan-masjid-golo-di-bayat-klaten" title="Kisah Unik Pemindahan Masjid Golo di Bayat Klaten">tembok masjid.

Prasasti berbahan marmer itu bertandatangan Raja Keraton Solo, Paku Buwono XII, tertanggal 2 Mei 2003. Prasasti yang tertuliskan bahasa Jawa tersebut memiliki arti jika Masjid Al Makmur merupakan masjid perdikan ide dari Raja Keraton Solo, Paku Buwono pada 1780 M. Jika merunut pada tahun tersebut, usia masjid itu saat ini sudah 239 tahun.

Bangunan masjid berciri adat Jawa yang bentuknya menyerupai joglo. Sebanyak 16 balok kayu jati kokoh berdiri mengisi ruang di dalam masjid. Belasan tiang tersebut menjadi penopang atap masjid yang bagian ujungnya dilengkapi mahkota.

Tembok tebal menutup sisi-sisi masjid berukuran 10 meter x 10 meter tersebut. Berdampingan dengan masjid, berdiri serambi serta pawastren yang dulu difungsikan untuk jamaah putri. Berbeda dengan masjid, serambi dan pawastren dibangun pada 1934 sumbangan dari salah satu jemaah masjid bernama Iman Moecharom. Hal itu berdasarkan prasasti yang tertempel pada tembok serambi.

Meski berusia lebih dari dua abad, bangunan masjid yang ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya (BCB) pada 2006 lalu itu masih terawat. Dari belasan tiang penyangga, hanya satu tiang yang sudah diganti lantaran lapuk termakan usia. Sementara, sambungan antar kayu bangunan masih menggunakan kayu meski sebagian diperkuat dengan paku atau logam.

Pemugaran dilakukan pada 2008 lalu melalui BPCB. “Saat gempa 2006 lalu bangunan masjid masih kokoh berdiri meski bangunan di sekitarnya banyak yang ambruk,” kata Ketua Takmir Masjid Al Makmur, Tugimin, saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat (10/5/2019).

Soal sejarah berdirinya masjid tersebut, tak ada warga yang mengetahui secara persis termasuk para takmir masjid. Usaha takmir mencari asal usul masjid selama ini tak membuahkan hasil meski sudah mendatangi https://soloraya.solopos.com/read/20181231/489/962044/pengunjung-keraton-solo-naik-10-kali-lipat" title="Pengunjung Keraton Solo Naik 10 Kali Lipat">Keraton Solo.

“Tahun yang kami yakini menjadi tahun berdirinya masjid berdasarkan keterangan pada salah satu kayu masjid yang tertulis 1780 M. Untuk konstruksi masjid ini persis dengan masjid yang ada di Keraton Surakarta,” jelas dia.

Warga hanya mengetahui sejarah berdirinya masjid tersebut berdasarkan dari cerita secara turun temurun. Tugimin menjelaskan masjid merupakan masjid perdikan ketika Raja Pakubuwono masih berkuasa di Kerajaan Kartasura. Saat itu, ada sayembara bagi siapa pun yang bisa meredakan huru hara di sisi selatan keraton berhak mengelola tanah perdikan di Majasem.

Pangeran Ngurawan yang menjadi salah satu peserta sayembara sanggup menjalankan perintah raja untuk meredakan huru-huru. Oleh Pakubuwono, Pangeran Ngurawan berhak mengelola tanah perdikan yang lantas didirikan masjid. “Soal siapa Pangeran Nguwaran, kami juga belum mengetahui asal usulnya,” katanya.

Salah satu keunikan di masjid tersebut yakni ketika Salat Jumat digelar. Seusai azan berkumandang banyak warga yang berdatangan memandikan anak mereka di keran yang sumber airnya berasal dari sumur tua. “Jadi jangan heran ketika jumatan di sini kemudian mendengar anak kecil menangis karena dimandikan,” kata Tugimin.

Tugimin menjelaskan air dari sumur masjid diyakini berkhasiat terutama untuk menyembuhkan penyakit terutama untuk anak-anak. “Warga masih memercayai air dari sumur bisa untuk penyembuhan bagi anak yang jalannya terlambat. Atau anak yang sering sakit-sakitan,” ungkapnya.

Ia mengatakan warga yang datang berasal dari sekitar wilayah Pakahan. Mereka biasa mengantre memandikan anak mereka di masjid sejak pukul 11.00 WIB menunggu azan Salat Jumat berkumandang. “Tidak ada syarat atau aturan apa pun. Warga biasanya datang, menunggu azan kemudian memandikan anak mereka di keran. Kami persilakan mereka untuk menunaikan Salat Jumat juga di masjid,” ungkapnya.

Salah satu warga, Novin, 30, mengatakan sudah kali kelima memandikan anak keduanya yang berumur satu tahun. Alasannya memandikan sang anak di masjid tersebut agar cepat berjalan. “Anak saya yang pertama juga dimandikan di sini. Memang sudah menjadi tradisi memandikan anak di sini setiap Jumat,” kata wanita dari Dukuh Tegal, Desa Trunuh, Kecamatan https://soloraya.solopos.com/read/20190509/493/990771/mau-ikut-tarling-bareng-pemkab-klaten-catat-jadwal-dan-lokasinya" title="Mau Ikut Tarling Bareng Pemkab Klaten, Catat Jadwal dan Lokasinya">Klaten Selatan tersebut.

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten