Bantuan Air Bersih Mengalir Jauh di Sukoharjo
Sukarelawan Paseduluran Nguter dan anggota Karang Taruna Bhina Muda Karya Desa Pondok, Kecamatan Nguter menyalurkan bantuan air bersih ke warga di Desa Ngreco, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu (4/10/2020). (Solopos.com-Istimewa)

Solopos.com, SUKOHARJO — Bantuan air bersih terus mengalir ke daerah krisis air bersih di tiga kecamatan di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Ketiga daerah beruntung di tengah kekeringan itu adalah Weru, Bulu dan Tawangsari. Sementara itu, puncak musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung pada pertengahan Oktober.

Selama lebih dari enam bulan, warga yang berdomisili di daerah kekeringan mengandalkan bantuan air bersih untuk mandi dan memasak. Mereka membuat bak penampungan air bersih yang terbuat dari terpal. Warga setempat mengambil air bersih yang disimpan di bak penampuangan air secara bergantian.

Bantuan air bersih tak hanya berasal dari Pemkab Sukoharjo melainkan komunitas masyarakat seperti karang taruna. Kali terakhir, sukarelawan dan anggota Karang Taruna Bhina Muda Karya (BMK) Desa Pondok, Kecamatan Nguter menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Desa Tawang dan Ngreco, Kecamatan Weru.

Rekomendasi Anime Era 2000-an Terbaik Sepanjang Masa dan Wajib Ditonton

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukoharjo, Sri Maryanto, mengatakan berupaya memeratakan bantuan air bersih ke daerah kekeringan saat musim kemarau. Selain rumah penduduk, bantuan air bersih juga dikirim ke sejumlah tempat ibadah seperti masjid dan musala.

Air bersih menjadi kebutuhan utama umat muslim saat menjalankan salat lima waktu di masjid maupun musala. “Bantuan air bersih dikirim secara berkala ke daerah kekeringan. Jika ada permintaan bantuan air bersih langsung ditindaklanjuti dengan mengirim mobil tangki air bersih,” kata dia, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Senin (5/10/2020).

Jatah BPBD Sukoharjo

Menurut Maryanto, BPBD Sukoharjo menyiapkan 200 tangki air bersih untuk mengatasi krisis air bersih saat musim kemarau. Saat ini, ada tujuh desa yang telah mengajukan permohonan bantuan air bersih yakni Desa Watubonang di Kecamatan Tawangsari, Desa Puron dan Kamal di Kecamatan Bulu.

Selain itu, ada empat desa di wilayah Kecamatan Weru yang mengalami krisis air bersih yaitu Desa Tawang, Jatingarang, Alasombo dan Ngreco. “Ketujuh desa itu menjadi daerah langganan krisis air bersih saat musim kemarau. Warga setempat kesulitan air bersih selama berbulan-bulan saat musim kemarau,” ujar dia.

Drama Napi WN China Kabur dari LP Tangerang, Gali 2 Kantong Tanah Sehari

Tak sedikit komunitas masyarakat atau program corporate social responsibility (CSR) perusahaan yang mengirim bantuan air bersih ke daerah kekeringan. Maryanto meminta agar perusahaan atau komunitas masyarakat berkoordinasi dengan BPBD Sukoharjo sehingga penyaluran bantuan air bersih merata. “Puncak musim kemarau diperkirakan pertengahan Oktober. Sekarang sudah turun hujan dengan intensitas ringan. Mungkin bulan depan sudah memasuki musim penghujan.”

Sementara itu, Ketua Sukarelawan Paseduluran Nguter, Marjuki Agus Santosa, mengaku mengirimkan empat unit mobil tangki air bersih ke Desa Tawang dan Ngreco, Kecamatan Weru. Satu mobil tangki air bersih berisi 5.000 liter. Hal ini wujud kepedulian Sukarelawan Paseduluran Nguter dan  Karang Taruna Bhina Muda Karya (BMK) Desa Pondok terhadap sesama yang membutuhan air bersih.

“Kami melakukan penggalangan dana untuk membeli air bersih yang disalurkan kepada masyarakat di wilayah Weru,” kata dia.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom