Aparat Polres Klaten membawa Al Farizi ke ruang konferensi pers di Mapolres Klaten, Kamis (8/7/2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN -- Direktur PT Krishna Alam Sejahtera Klaten, Al Farizi, membantah telah menipu para mitra kerja yang menginvestasikan uang ke perusahaannya. Dia beralasan perusahaannya baru bisa beroperasi penuh setelah izin edar obat herbal turun.

“Tidak buat penipuan. Intinya kami sudah melakukan proses dari akta notaris dan perizinan lainnya. Tinggal menunggu izin edar untuk bisa diedarkan saja. Hanya, izin edar terlalu lama sehingga mitra yang sudah mengerjakan otomatis minta gaji sehingga kami menggunakan uang pendaftaran [dana investasi mitra lain] untuk menggaji sementara. Ternyata izin edar belum muncul-muncul sehingga terjadi defisit anggaran,” kata Al Farizi kepada wartawan di Mapolres Klaten, Kamis (18/7/2019).

Lantaran izin yang belum keluar itu, Al Farizi belum mengedarkan bahan jamu yang dikeringkan para mitra. “Kalau itu [bahan yang dikeringkan mitra] jadi obat kemudian dibikin kapsul, katakanlah satu mitra dapat 25 kg kemudian dikerjakan jadi produk jadi, bisa dijual seharga Rp25 juta-Rp30 juta. Kalau ada izin edar bisa dititipkan di toko obat. Selama ini bahan [jamu] hanya diputar-putar saja [antarmitra] sambil menunggu izin edar,” tutur dia.

Soal jumlah mitra perusahaan yang dipimpinnya, Al Farizi mengaku tak tahu persis lantaran diurusi stafnya. Dia hanya memperkirakan jumlah mitra 1.600-1.700 orang berasal dari berbagai kota/kabupaten.

Begitu pula dengan nilai total investasi dari mitra. Dia hanya menjelaskan uang mitra yang masuk ke rekeningnya Rp3,38 miliar. “Uang yang sudah dikumpulkan berapa saya tidak bisa menghitungnya karena ada di kantor cabang. Yang masuk di rekening saya ya hanya itu [Rp3,38 miliar],” ungkapnya.

Alfarizi yang dilaporkan ke polisi oleh mitranya atas tuduhan penipuan berkedok investasi bodong ditangkap aparat Polres Klaten di salah satu SPBU di Garut, Jawa Barat, Selasa (16/7/2019) malam. Dari tangan Al Farizi, polisi menyita KTP yang diduga palsu, uang yang diduga milik mitra senilai Rp3,38 miliar, dan dua sertifikat deposito masing-masing senilai Rp65 miliar dan Rp35 miliar. “Tetapi depositonya itu juga palsu,” kata Kapolres Klaten, AKBP Aries Andhi.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten