Bantah Pelecehan Seksual Terhadap Asisten, Begini Cerita Versi Pejabat BPJS
Ilustrasi. (Antara)

Solopos.com, JAKARTA — SAB, 59, anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan (TK), membantah dirinya melakukan pelecehan seksual terhadap A, 27, mantan asistennya. Dia balik menuding perbuatan yang dituduhkan kepadanya sebagai fitnah.

SAB yang dituduh sebagai pelaku menuding korban berbohong ketika menceritakan pertemuan terakhir mereka pada 28 November 2018 lalu. Saat itu, SAB dianggap melakukan kekerasan dengan bermaksud melemparkan gelas ke korban. Dia menceritakan versi lain tentang peristiwa itu.

"Saya ceritakan komunikasi terakhir saya secara langsung [dengan korban] pada Rabu, (28/12/2018) kurang lebih 12.20 WIB. Pada saat saya dalam perjalanan pulang dari peresmian kantor cabang Depok," ungkap SAB.

Dalam keterangan resminya di Heritage Hotel, Menteng, Jakarta, Minggu (30/12/2018), pria yang pernah menjabat sebagai Auditor BPK dan Duta Besar RI untuk WTO ini menjelaskan dirinya mengakui pada saat itu memang marah. Namun, kata dia, A saat itu dianggap tidak menjalankan tugasnya dengan baik.

Dalam cerita SAB, ketika itu dirinya berniat mencari paspor untuk bertolak ke Singapura untuk menjalani medical check up. Lalu SAB datang ke kantor Dewan Pengawas BPJS TK selepas acara peresmian kantor cabang untuk menanyakan keberadaan paspor tersebut.

"Nah paspor ini diurus oleh yang bersangkutan [A]. Saya datang, saya tanya 'di mana paspor saya?' Jawabannya itu barangkali tidak pantas untuk seorang di antara bapak ibu yang punya sopan santun," jelasnya.

SAB menyebutkan kalimat yang dia klaim menirukan pernyataan A. "Loh, saya kan bukan sekretaris bapak, kenapa bapak tanya-tanya soal paspor?"

Karena pernyataan itu, SAB mengakui bahwa dirinya memang marah terhadap korban dan menyuruhnya keluar ruangan. Tetapi SAB membantah melakukan kekerasan dan intimidasi seperti yang diceritakan A.

Sebelumnya, A menyatakan bahwa atasannya itu memperlakukan dirinya secara tidak menyenangkan. Dia terus menolak ajakan mesum SAB yang tercatat sudah dilakukan sebanyak empat kali.

"Ancaman psikis, saya dibuat kondisi dengan supaya tidak nyaman, dibentak, dikucilkan oleh semua anggota komite, saya di-blackmail sama SAB," ungkap A dalam keterangan pers, Jumat (29/12/2018).

"Kekerasan fisik terakhir di 28 November, yang bersangkutan ingin melempar gelas ke muka saya, dan sempat dibatalkan oleh rekan saya yang disitu," tambahnya.

SAB berencana membalas melaporkan balik A beserta Ade Armando, mantan dosen A, ke kepolisian. Dia menuding Ade Armando ikut mengeluarkan pernyataan bohong.

Sementara itu, A kini tengah berupaya memulihkan nama baiknya dan berupaya menempuh langkah hukum perdata agar pelaku diberhentikan dari pekerjaannya. Salah satunya dengan mengirimkan surat berisi tiga tuntutan kepada Presiden Jokowi melalui Menteri Sekretaris Negara, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Dewan Jaminan Sosial Negara (DJSN) yang memiliki wewenang untuk memecat Dewan Pengawas, serta Direksi BPJS Ketenagakerjaan.

"Pertama, pemecatan terhadap pelaku dan yang melindungi pelaku [di Dewan Pengawas] secara menyeluruh. Kedua, RUU PKS [dipercepat] supaya tidak ada korban seperti saya. Dan [ketiga] mendukung saya dalam proses pidana, perdata, ataupun hubungan industrial," ungkap A.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom