Bantah Neolib

JOGJA: Boediono, cawapres pasangan SBY berkunjung ke Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM dalam rangka pamit tidak bisa mengajar sekaligus minta dukungan.

Sementara itu persiapan untuk deklarasi pasangan capres-cawapres Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, yang akan berlangsung hari ini sedang dipersiapkan. Deklarasi itu akan dihadiri sekitar 20.000 kader kedua partai.

Suasana perpisahan Boediono yang diselenggarakan di Gedung Dekanat FEB UGM, Sabtu (23/5) kemarin, jauh dari kesan sedu sedan. Pasalnya dosen maupun senat yang hadir melontarkan gurauan dan sempat membuat Boediono yang pendiam tergelak.

Perihal tudingan aliran ekonomi yang dianut, Boediono menegaskan tidak menganut model ekonomi itu. Dia mengaku tidak cocok dengan ekonomi neolib dan tidak ingin terkotak dalam isme (ideologi) tertentu.
Sebagai ekonom, pesannya kepada sesama rekan FEB, tidak harus terjebak isme (ideologi) besar. Pemegang kebijakan maupun akademisi, hendaknya lebih banyak mencurahkan perhatian kepada kebijakan yang langsung menjawab kebutuhan masyarakat.

“Negara kita tidak mengikuti semacam itu, subsidi luar biasa, pendidikan 20%, jauh dari neolib. Saya dari univesitas ndeso, masak cocok jadi neolib,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama Boediono mengaku, menjadi cawapres sesuatu yang jauh di luar bayangannya. Sekadar memberi gambaran, dia memisalkan dirinya berada di arus yang sangat kuat dan tidak bisa ditolak.
Sementara, Marwan Asri, dekan FEB hanya bisa mendoakan supaya proses pilpres apapun hasilnya kelak dilalui dengan lancar. Senada dengan Marwan, Sudjarwadi selaku Rektor UGM, bersyukur dan bangga salah satu putra terbaik ditunjuk sebagai cawapres
“Kita hanya bisa mendoakan, semoga mendapat yang terbaik,” katanya.
Kepada Boediono, selain mendoakan Sudjarwadi memberi tiga titipan, buku rencana strategis UGM, rencana pengembangan dan pesan dari beberapa mahasiswa. Saat rektor membacakan pokok pikiran titipan itu – yang ditingkahi gurau hadirin – Boediono sempat tertawa lepas.

Tony Prasetyantono, sesama pengajar di FEB pada saat perpisahan menilai sosok Boediono sebagai dosen biasa. Bahkan ketika awal 1980-an bersama Mubyarto, Boediono dikenal sebagai perintis Ekonomi Pancasila.
Perihal ekonomi neoliberalisme, Tony menguraikan tiga ciri utama paham ekonomi ini. Pertama setiap negara harus menerapkan kebijakan fiskal yang disiplin, APBN harus dijaga selalu positif dan defisit maksimal pendapatan domestik bruto (PDB) hanya 2%.

“Kebijakan memprivatisasi BUMN itu dalam rangka menjaga agar APBN tidak defi sit,” tegasnya. Menanggapi paparan Tony, Boediono menegaskan seliberal apapun ekonomi suatu negara, pemerintah tetap bisa mencampuri pasar.

Deklarasi Mega-Pro
Sementara itu deklarasi pasangan capres Megawati Soekarnoputri dan cawapres Prabowo Subianto pada Minggu (24/5) di tempat pembuangan sampah terpadu Bantar Gebang Kota Bekasi, Jawa Barat, dikabarkan akan dihadiri 20.000 kader partai tersebut dari berbagai penjuru daerah di Tanah Air.

Ketua panitia pelaksana kegiatan, Mochtar Mohamad mengatakan, semula diperkirakan kegiatan hanya akan dihadiri sebanyak 10.000 kader, ternyata kader yang ingin menyukseskan acara deklarasi tersebut membludak.

Bendera berukuran raksasa dengan panjang 100 meter dan lebar 70 meter pun disiapkan untuk dikibarkan dalam acara tersebut. “Bahkan bendera itu akan didaftarkan masuk dalam buku Museum Rekor Indonesia (MURI),” kata Mochtar yang juga Walikota Bekasi itu, seperti
dikutip Antara.

Untuk mengamankan acara tersebut, kepolisian menyiapkan sebanyak 400 orang aparat Polres Metro Kota Bekasi. Menjelang deklarasi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menghadiri Rakernas Gerindra di Hotel Grand Kemang, Jakarta.

Dalam rakernas itu Mega blak-blakan mengakui selama ini anggota Dewan Pembi na Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo-lah yang mem buat duet Mega dan Prabowo Subianto tersendat-sendat. Padahal Prabowo sudah mengiyakan untuk bersama dengan Mega pada Pilpres 2009.
“Tiap saya mau ketemu Mas Bowo itu dihalangin. Dengan gaya intel, saya pun kasakkusuk. Ternyata siapa dalang utamanya, ya yang paling ujung itu,” kata Mega.

Mega yang tidak didampingi Taufi q Kiemas yang masih sakit, juga menuturkan, cara lainnya yang dilakukan untuk menundukkan Prabowo yakni dengan mengundang mantan Pangkostrad itu ke Rakernas PDIP.

Lain Mega, lain lagi Jusuf Kalla. Capres dari Partai Golkar tersebut, kemarin menebar pesona dengan slogannya ‘lebih cepat lebih baik’. Kali ini JK menggunakan jurus itu untuk merayu ibu-ibu pengajian. “Kenapa kita harus lebih cepat lebih baik? Karena agama
saja mengajarkan lebih cepat lebih baik. Kalau waktu azan datang, agama mengajarkan untuk segera melaksanakan ibadah,” ujar JK seperti dikutip detikcom.

JK mengatakan itu pada acara silaturahmi dengan ratusan ibu-ibu pengajian yang tergabung dalam Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) di kediaman ketua BKMT Tuti Alawiyah di Jl Jatiwaringin 52 Jatibening Bekasi, Jawa Barat. Ketua Umum Partai Golkar ini melanjutkan, bangsa ini tidak ingin ketinggalan dari bangsa bangsa lain. Semua ingin cepat maju, semua harus lebih cepat. “Tidak pernah ada
lomba lambat-lambatan. Semua lomba itu cepat-cepatan,” terangnya.

Avatar
Editor:
Budi Cahyono


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom