Suasana aksi Reuni 212 di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Senin (2/12/2019) pagi. (Antara - Aruna)

Solopos.com, JAKARTA -- Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Jimly Asshiddiqie menganggap ada saling serang dan pamer jumlah pendukung lantaran kasus Rizieq Shihab tak kunjung selesai. Rizieq sendiri didera sejumlah kasus hukum hingga kesulitannya pulang ke Tanah Air.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai adanya dua kubu pendukung ini tidak semata karena kasus pemulangan Rizieq.

Menurut dia pendukung Rizieq hanya sebagian kecil dari masyarakat. Namun, mereka cukup ramai di sosial media sehingga terlihat banyak.

"Saya pikir tidak juga, masyarakat yang mana dulu? Saya pikir pendukung HRS [Habib Rizieq Shihab] itu hanya sebagian kecil saja. Hanya karena mereka ramai di sosial media, jadinya terkesan banyak," kata Wasisto kepada Bisnis/JIBI, Senin (2/12/2019).

Habib Rizieq Minta Reuni 212 Jadi Tradisi Rutin

Menurut dia, pro dan kontra antara pendukung dan bukan pendukung Rizieq sangat kecil pengaruhnya terhadap kerukunan bangsa secara keseluruhan. Pasalnya, ujar dia, pendukung Rizieq cenderung pada sentimen umat.

Pidato Habib Rizieq di Reuni 212: Kenapa Saya Diasingkan?

Sementara itu, yang kontra pendukung Rizieq adalah pihak yang mendukung keberagaman dan kesetaraan. Dua golongan itu, kata dia, tidak sinkron satu sama lain.

"Saya pikir itu kecil kemungkinan terjadi. Pendukung HRS itu condong pada sentimen umat daripada negara. Sebaliknya, pendukung non-HRS itu mendukung adanya keberagaman dan kesetaraan. Dua hal itu saja sudah tidak sinkron," ucapnya.

Sebelumnya, Jimly Asshiddiqie menyarankan agar kegiatan pamer jumlah pendukung dihentikan. Namun, syarat penghentian itu adalah pembebasan Rizieq Shihab dari segala kasus hukum.

Reuni 212 Doakan Jokowi dan Maruf Amin, Netizen Curiga: 100 Persen Enggak Tulus!!

Jimly menyebutkan hingga kini rekonsiliasi pasca-pilkada dan Pilpres 2019 masih berlangsung dan ketegangan belum juga mereda. Dia menyebut kedua kelompok pendukung saat Pilpres masih saling dendam sehingga sulit didamaikan.

“Kayaknya kedua kelompok pro kontra masih saling dendam, masih susah untuk didamaikan. Entah mau sampai kapan,” katanya kepada Bisnis/JIBI, Minggu (1/12/2019) malam.

Sumber: Bisnis/JIBI


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten